@BiuuBul@18fesss ya aneh lah, kalo punya masalah ya harusnya di selesaikan sendiri, jangan justru di lampiaskan atau orang terdekat yang kena imbasnya.
Guys kata Tom Lembong di podcast Malaka dan ini salah satu yang paling jujur yang gw dengar dari mantan pejabat Indonesia soal kondisi sekarang.
Dia bilang kebijakan luar negeri Indonesia sekarang paling berantakan sejak 1965.
Bukan sejak 1998. B
ukan sejak reformasi. Tapi sejak 1965.
Dan dia kasih contoh konkret yang bikin gw tidak bisa bantah.
Beberapa minggu lalu Indonesia bergabung ke Board of Peace yang diketuai Amerika dan Israel.
Seminggu setelah itu Amerika dan Israel menyerang Iran.
Sekarang Indonesia ngemis ke Iran minta kapal tanker kita boleh lewat Hormuz.
Dan Iran dalam kondisi marah besar habis diserang mau simpati ke kita?
Itu konsekuensi langsung dari kebijakan luar negeri yang tidak berprinsip.
Soal energi ini yang paling bikin gw ngeri.
Stok BBM dan LPG nasional kita hanya ekuivalen dengan 20 sampai 25 hari konsumsi.
Itu saja.
Kalau Hormuz tidak buka dalam 25 hari puluhan kota di Indonesia bisa kehabisan bensin dan gas.
Ibu ibu tidak bisa masak.
Logistik lumpuh.
Bukan skenario jauh.
Itu risiko yang menurut Tom Lembong sangat nyata dan sangat dekat.
Bandingkan dengan Jepang yang stoknya 250 hari. China yang stoknya 1,3 miliar barel.
Mereka sudah siap dari jauh jauh hari.
Kita masih 20 hari dan tidak ada rencana darurat yang jelas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari semua yang dia bilang.
Tahun lalu harga minyak dunia lagi murah.
Surplus 2 juta barel per hari.
Itu saat yang sempurna untuk borong dan nambah cadangan nasional.
Tapi tidak dilakukan.
Uangnya dialihkan ke program program lain yang multiplier effect-nya kecil yang kita sudah tau semua itu yaps EMBEGE
Soal tarif Trump Indonesia panik duluan. Buru buru negosiasi. Dapat kesepakatan tarif 19%. Eh satu hari kemudian Mahkamah Agung Amerika batalkan tarif itu karena ilegal. Negara yang tidak panik sekarang cukup bayar 10%. Kita yang paling semangat negosiasi malah kena 19%.
Tom Lembong bilang ini pelajaran lama yang terus diulang. Kalau kita tinggalkan prinsip demi keuntungan jangka pendek hasilnya selalu buruk. Selalu.
Dan kata dia satu satunya hal yang bisa dilakukan masyarakat sekarang hemat. Kencangkan ikat pinggang. Nabung. Dan mulai pikirin alternatif kalau LPG benar benar langka.
Karena pemerintah sendiri belum punya solusinya.
Gw udah lama berhenti marah soal ini.
Bukan karena gw setuju. Tapi karena gw akhirnya ngerti cara mainnya.
Pabrik minta S1, IPK tinggi, bisa sepuluh software, bisa tiga bahasa karena mereka tau posisi tawarnya kuat. Pelamar banyak, kursi sedikit. Mereka bisa minta apapun dan selalu ada yang mau.
Sekarang balik ke politik.
Kenapa artis dan penyanyi bisa masuk DPR tanpa syarat yang jelas?
Karena posisi tawar pemilih lemah.
Kita yang milih mereka. Kita yang nyoblos nama yang familiar. Kita yang lebih hapal nama artis daripada nama caleg yang beneran punya rekam jejak bagus tapi gak terkenal.
Jadi sebenernya ini bukan cerita tentang sistem yang jahat.
Ini cerita tentang pasar.
Di pasar kerja perusahaan yang berkuasa. Mereka set the rules.
Di pasar politik harusnya rakyat yang berkuasa. Tapi kita gak pake kuasa itu dengan serius.
Pabrik bisa minta syarat selangit karena pelamarnya banyak dan gak punya pilihan lain.
Politisi bisa masuk tanpa syarat karena pemilihnya gampang dikasih janji dan gampang lupa.
Dua duanya eksploitasi.
Bedanya yang satu kita sadar dieksploitasi. Yang satu lagi kita bahkan ikut bantu prosesnya.
Sedih bgt siang ini.
Anak muda dikriminalisasi. Anak muda disiram air keras.
Ga ada satupun dr mereka yg pegang senjata. Semua modalnya suara dan partisipasi.
Makin hari tanda-tanda mau menindasnya semakin ditunjukin.
🩷 TW
Hi, saya 30L, married, satu bulan lalu aku naik jabatan dengan gaji 45jt sebulan tapi ternyata istriku baru jujur ternyata dia terjerat pinj0l sebanyak 300 juta lebih. aku gamau bantu sama sekali karena tidak tau awalnya gimana? salahkah aku? apa pantas aku ajukan pisah?