Aku mengenangmu sore ini.
Titik demi titik... Sungguh
Bukan demi puisi, bukan demi hangat kopi.
Sebuah perayaan sederhana, mungkin semacam keikhlasan
mungkin semacam kehilangan.
Dari jendela,
Kulihat deretan gedung angkuh menjulang, jalan mengular yang selalu padat dengan ketergesaan.
(entah untuk harapan ataukah sekedar kesia-siaan)
Melintas awan, jarak merentang....
Mengabur bayang...
Antara aku dan kota yang selalu mengingatkanku akanmu
Apa yang kusuka darimu? Tidak ada.
Kecuali bahwa setelah semua tendangan, bantingan, pukulan...
Masih saja aku membayangkan manis senyummu,
Masih saja diam-diam aku merindukanmu.