Berkata baik atau diam. Jika tidak bisa berbicara yang baik lebih baik diam. Ini adalah upaya untuk menjaga lisan kita agar selalu mengucapkan kata-kata yang baik.
Sebab, pembicaraan yang tidak baik bisa mengotori hati, menimbulkan permusuhan atau perselisihan.
#ngajisore
Mengisi kegiatan liburan sekolah di bulan Ramadhan dengan mendongeng untuk anak-anak. Agar anak-anak semakin dekat dengan masjid dan mulai mendatangi masjid
All Paid Courses — 100% FREE (Part 3)
I'm giving you access to 81+ free courses. 👌����
1. Social Media Marketing
2. Android App Development
3. Facebook Ads
4. SEO
5. Google Ads
6. Content Writing
7. Graphic Designing
8. Video Editing
9. Web Development
10. Hacking and more with 73+ courses.
To get, just:
- Comment "SEND"
- Like & Retweet
- Follow me (so that I can DM)
Makna Berjamaah
Secara psikologi, manusia adalah makhluk yang tak bisa hidup sendirian. Jiwa haus akan keterhubungan. Abraham Maslow menempatkan belongingness—kebutuhan diterima dan menjadi bagian dari kelompok—sebagai inti kesejahteraan. Tanpa kebersamaan, hati rapuh dan cemas.
Islam memberi obat hati: berjamaah. Rasulullah bersabda:
“Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan 27 derajat.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan sekadar bahas pahala, tapi juga kesehatan jiwa. Dalam shalat berjamaah, seseorang melepaskan ego, larut dalam gerakan dan doa yang sama. Secara psikologis, ini menciptakan kesatuan batin yang menenangkan, meredakan stres, dan memperkuat rasa memiliki. Itulah makna 27 derajat: dalam jamaah, kebaikan tumbuh dan berlipat ganda.
Sosiologi pun menyingkap hal serupa. Emile Durkheim memang tidak bicara shalat, tapi dalam The Elementary Forms of Religious Life ia menunjukkan bahwa ritual kolektif melahirkan social solidarity—kohesi yang menjaga masyarakat. Ritual menciptakan “letupan energi kolektif” (collective effervescence) yang membuat manusia merasa bagian dari kekuatan bersama.
Para ulama Islam juga menekankan hal ini. Al-Ghazālī dalam Kitab Ihya menulis bahwa ibadah berjamaah melatih hamba keluar dari individualisme menuju solidaritas. Di masjid, sekat dunia runtuh: kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, semua sejajar di satu saf.
Puncaknya adalah shalat Jumat. Sekali sepekan, umat dikumpulkan dalam satu barisan, mendengarkan khutbah yang mengingatkan persoalan hidup, lalu menutupnya dengan doa bersama. Allah berfirman:
“apabila diseru untuk shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.” (QS. al-Jumu‘ah [62]: 9)
Ayat ini mengajarkan bahwa bahkan urusan ekonomi harus berhenti sejenak demi Jumatan. Jangan takut rugi bila engkau tinggalkan sebentar. Justru saat itu tumbuh solidaritas, memperkuat persaudaraan, dan menghubungkan hatimu dengan sesama serta dengan Allah. Dari jamaah inilah keberkahan hidup bisa 27 kali lipat.
Sayang, kita hanya berjamaah dalam shalat. Di luar masjid, kita berantakan, mencaci, dan merasa lebih suci 27x dari yang lain.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Hai #BPKawan
Ayo bantu admin melengkapi kata2 yg ada di gambar, dan menangkan saldo e-wallet senilai @ 100k untuk 5 orang yg beruntung
Pemenang akan diumumkan pada 28 Februari 2023
Jangan lupa penuhi S&K-nya
Tunggu apa lagi, yuk ikutan!
#KuisAkhirBulan#BPKRI#KawalHartaNegara