Guys, pemerintah baru saja mengumumkan sesuatu yang dikemas sebagai kabar baik untuk rakyat kecil.
KPR 40 tahun.
Cicilan hanya Rp773.000 per bulan.
Pekerja bergaji Rp2 juta bisa punya rumah.
Kedengarannya bagus.
Kedengarannya pro rakyat. Kedengarannya seperti solusi.
Tapi gue minta lo berhenti sejenak dan pikirkian apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ini bukan solusi.
Ini adalah desain perbudakan yang dilegalkan.
KPR 40 tahun artinya lo mulai mencicil rumah
usia 25 lo baru selesai di usia 65 tahun.
Tepat saat pensiun.
Tepat saat lo tidak punya penghasilan lagi.
Seluruh masa produktif hidup lo dari muda sampai tua habis untuk membayar satu rumah.
Bukan untuk menabung.
Bukan untuk investasi.
Bukan untuk pendidikan anak.
Bukan untuk menikmati hidup.
Untuk cicilan rumah yang tidak akan lunas sampai lo pensiun.
Dan ini yang paling mengerikan dari kalkulasinya:
Gaji Rp2 juta per bulan.
Cicilan Rp773.000 per bulan.
Itu 38,6% dari seluruh penghasilan hanya untuk cicilan rumah.
Belum makan.
Belum transportasi.
Belum listrik.
Belum air.
Belum biaya anak sekolah.
Belum biaya sakit.
Sisa untuk hidup: Rp1,2 juta sebulan.
Rp40.000 per hari.
Dengan Rp40.000 per hari lo harus makan, transport, bayar semua kebutuhan hidup.
Di era rupiah Rp17.600 per dolar.
Di era harga pangan yang terus naik karena kedelai, gandum, dan minyak semuanya impor dalam dolar.
Dan ini yang tidak pernah diceritakan pemerintah:
Total yang lo bayar selama 40 tahun dengan bunga bukan hanya harga rumahnya.
Lo membayar harga rumah ditambah bunga selama 40 tahun.
Yang bisa berarti lo membayar dua sampai tiga kali lipat harga asal rumah itu.
Rumah yang secara teknis bisa lo beli Rp200 juta lo bayar Rp400-600 juta selama 40 tahun.
Selisihnya masuk ke mana?
Ke sistem keuangan. Ke bank. Ke Tapera.
Rakyat kecil yang tidak punya pilihan lain dipaksa membayar premium berlipat-lipat hanya karena mereka tidak punya uang di awal.
Dan lo tahu apa yang paling gue ingat dari ini:
John D. Rockefeller pernah bilang sesuatu yang sangat terkenal dan sangat mengerikan:
"Saya tidak menginginkan bangsa pemikir.
Saya menginginkan bangsa pekerja."
Dan cara paling efektif untuk memastikan orang tidak berpikir kritis adalah memastikan mereka terlalu sibuk memikirkan cicilan.
Orang yang gajinya Rp2 juta dan cicilannya Rp773.000 tidak punya bandwidth mental untuk memikirkan kenapa rupiah melemah.
Tidak punya waktu untuk mempertanyakan kenapa anggaran pendidikan dipotong 44%.
Tidak punya energi untuk marah tentang Nadiem yang dituntut 27 tahun atau Noel yang bilang menyesal tidak korupsi lebih banyak.
Mereka terlalu lelah.
Terlalu sibuk bertahan.
Terlalu tenggelam dalam tekanan cicilan yang tidak akan selesai sampai mereka pensiun.
Itu bukan kebijakan perumahan.
Itu adalah mekanisme kontrol sosial.
Dan ini sambungkan dengan semua yang sudah terjadi:
Gaji tidak naik signifikan.
Kelas menengah menyusut dari 57 juta ke 46 juta.
Tabungan rata-rata turun dari Rp3 juta ke Rp1,5 juta. Rupiah Rp17.600.
Harga pangan naik.
Guru honorer digaji di bawah UMP.
Tapi solusi yang ditawarkan bukan menaikkan upah.
Bukan menciptakan lapangan kerja berkualitas.
Bukan memastikan inflasi terkendali.
Solusinya:
perpanjang tenor KPR dari 30 tahun menjadi 40 tahun.
Supaya cicilan per bulannya kelihatan lebih kecil padahal total yang dibayar jauh lebih besar.
Supaya lebih banyak orang bisa masuk ke dalam sistem utang jangka panjang yang mengikat mereka seumur hidup produktif.
Ini bukan membantu rakyat memiliki rumah.
Ini membantu sistem keuangan memiliki rakyat.
Dan yang paling miris:
Pemerintah mengklaim ini sebagai kebijakan pro rakyat.
Sebagai solusi untuk krisis perumahan.
Sebagai bukti bahwa pemerintah peduli dengan masyarakat berpenghasilan rendah.
Tapi coba bayangkan satu skenario sederhana:
Lo mulai KPR di usia 25 dengan gaji Rp2 juta.
Lo cicil selama 40 tahun.
Di tahun ke-15 usia lo 40 rupiah makin melemah, harga kebutuhan pokok naik, dan lo di-PHK karena otomasi AI atau karena bisnis tempat lo kerja bangkrut karena investor asing kabur.
Cicilan tetap harus dibayar.
Rumah disita kalau tidak bayar.
Lo kehilangan segalanya setelah 15 tahun mencicil.
Itu bukan kepemilikan rumah.
Itu adalah ilusi kepemilikan yang bisa diambil kapan saja kalau lo tidak bisa membayar.
KPR 40 tahun bukan solusi krisis perumahan.
Itu adalah pengakuan resmi bahwa gaji rakyat Indonesia terlalu kecil untuk membeli rumah dengan cara yang wajar dan alih-alih menaikkan gaji atau menurunkan harga rumah, pemerintah memilih memperpanjang masa perbudakan finansialnya.
Rockefeller tidak membutuhkan rantai untuk mengikat pekerjanya.
Dia cukup memastikan mereka punya cukup utang untuk tidak berani berhenti bekerja.
KPR 40 tahun adalah versi modern dari filosofi itu. Diberikan dengan senyum.
Dikemas sebagai bantuan. D
an dirayakan sebagai terobosan kebijakan.
Sementara yang sebenarnya terjadi adalah: rakyat yang sudah kelelahan dipastikan akan terus kelelahan untuk empat puluh tahun ke depan.
Akhirnya negeri ini sampai di satu titik, dimana :
1. Utang jatuh tempo tertinggi dalam sejarah ✅️
2. Nilai tukar dolar tertinggi sepanjang sejarah ✅️
3. Persentase Kenaikan BBM non subsidi tertinggi dalam sejarah RI ✅️
4. Jumlah pejabat menteri & wamen terbesar sepanjang era reformasi ✅️
Udah bener dapet presiden yg bisa mangkas nilai tukar dolar dari 16 ribuan ke 7 ribuan.... klean malah menjatohkan dia. Emang bukan klean sebagai rakyat sih.
Tapi klean memilih wakil rakyat yg bisa digiring utk menjatuhkan Habibi saat itu.
Nasib Bangsaku gini amat sih
😳
Lu bisa kerja sampe hampir mampus di Jakarta sampe pensiun tapi:
- tanah dan rumah yang lu beli bisa diambil karena sengketa lahan
- anak yang lu didik baik2 bisa terbunuh dan diframing sbgai pelaku tawuran
- proyek yang lu bantu dgn ikhlas sampe ninggalin kesempatan kerja ke luar negeri bs bikin lu masuk penjara
- semua tabungan lu bisa raib karena abis pengobatan sakit karena menghirup polusi dan kecapekkan krn macet2an di jalan kena angin malam bertahun2
@KemenperinRI How can you live? Dengan korupsi beb.... makannya ini semua sejujurnya adalah kesalahan system. Moral hilang karena mau bayar pajak mobil sederhana sekelas avanza aja 5juta/tahun. Buat org gaji UMR ribet gak sih..... hahahahah
Kemarin abis lapor SPT, and my toxic thought was : kita dipalak pajak, disuruh lapor bahwa udh bayar pajak, kalo ga lapor masih dipalak lg pake denda ☺️ lahan basah bener yaa pajak tuh.
Yaa, toxic thought, but somehow it's freaking true. 🤷🏻♀️
Wuthering Heights harus ditonton pas kondisi hati lg baik² aja 😭
Tp habis nonton itu jd berantakan lg sih pastiiii.
Overall alur story dan sinematografinya bagus, tp agak disturbing at least for me 😮💨🥲
Mas bojo sakit. Habis diiyain ke Roku Ramen besok, langsung minum obat, mapan bobok, selimutan, pake masker, bersiap untuk sembuh 😆
Se-semangat itu kalo diiming²i ramen.