annual salary model
akabane karma: 10 juta yen di umur 40-an, posisi manajerial/eksekutif?
okuda manami: 7.8 juta yen di umur 45, associate professor
i wanna be their child ^___^
Rupiah Tiba-Tiba Menguat? Ini Cerita Sebenarnya
Buzzer di media sosial heboh gara-gara rupiah mendadak balik ke level 17.779 dan IHSG melonjak dua persen dalam sehari. Muncul berbagai teori, ada yang mengeklaim kalau ini hasil ekspor batu bara yang melejit ada juga yang bilang ini tanda ekonomi kita sudah sembuh total.
Sayangnya, tebakan itu semua keliru karena ada dalang lain yang bikin skenario ini terjadi dalam hitungan jam.
Bank Indonesia, Sang Game Master di Ranah Ekonomi
Bank Indonesia bukan tempat biasa buat kamu menabung atau bikin kartu debit. Mereka adalah bank sentral yang bertindak sebagai sutradara dari seluruh sistem keuangan di negara kita. Senjata utama mereka bernama BI Rate, yaitu suku bunga acuan yang mengatur mahal atau murahnya semua bunga bank di Indonesia.
Pada tanggal 9 Juni kemarin, Bank Indonesia menggelar rapat mendadak yang cukup mengejutkan pasar. Mereka menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Ini adalah kenaikan ketiga sepanjang tahun 2026 dengan total kenaikan mencapai 75 basis poin.
Langkah agresif ini diambil karena rupiah sedang babak belur dihantam oleh sentimen global. Konflik di Timur Tengah membuat dolar Amerika Serikat menguat tajam sehingga investor asing kabur dari Indonesia. Akhirnya Bank Indonesia menaikkan bunga biar investor asing mau tetap menyimpan uangnya di dalam negeri.
Masalahnya, Dompet Kita yang Menanggung Biayanya
Di balik berita gembira soal angka bursa yang menghijau, ada harga mahal yang harus dibayar oleh masyarakat. Saat BI Rate naik, bank-bank komersial otomatis bakal menyesuaikan bunga kredit mereka. Efek domino ini bakal langsung terasa ke dompet dan pengeluaran bulanan kamu.
Bagi yang punya cicilan rumah dengan skema bunga floating rate, siap-siap saja tagihannya naik dalam beberapa bulan ke depan. Begitu juga buat sebagian yang lagi mencicil kendaraan bermotor. Angka cicilan yang tadinya sudah kamu hitung pas dengan gaji bulanan bisa mendadak berubah. Kecuali jika cicilan kalian akadnya syariah ya, kalau itu sih flat.
Sektor UMKM juga menjadi pihak yang paling terpukul akibat kebijakan ini. Pelaku usaha kecil yang butuh modal dari bank harus membayar bunga yang jauh lebih mahal. Biaya modal yang naik bikin keuntungan menipis, sehingga banyak pengusaha akan memilih menunda ekspansi atau bahkan terpaksa melakukan PHK.
Jangan lupakan juga masalah harga barang-barang impor yang masih tinggi. Level 17.779 itu sebenarnya masih jauh dari kata sehat kalau dibanding kondisi dua tahun lalu. Jadi, harga gawai, komponen elektronik, bahan baku pabrik, sampai makanan impor masih bakal tetap terasa mahal.
Satu-satunya kabar baik cuma berlaku buat para pemilik deposito karena bunga simpanan mereka ikut naik. Namun keuntungan ini hanya relevan buat orang yang punya banyak uang menganggur. Bagi masyarakat yang hidupnya pas-pasan, kebijakan ini jelas lebih banyak memberikan beban daripada manfaat.
Solusi Instan yang Bersifat Sementara
Jujur saja, kenaikan suku bunga ini ibaratnya Paracetamol, kebijakan ini hanya meredakan gejala di permukaan tanpa menyembuhkan penyakit utamanya.
Supaya rupiah bisa stabil dalam jangka panjang, kita butuh ekspor yang kuat dan investasi asing yang masuk secara konsisten.
Jika konflik global terus memanas, Bank Indonesia terpaksa harus menaikkan suku bunga mereka lagi. Itu berarti beban cicilan kita semua bakal semakin berat ke depannya.
Rupiah yang menguat hari ini bukan tanda ekonomi kita sudah pulih, melainkan tanda bahwa pemerintah sedang menahan banjir dengan ember seadanya.
Aku gak QRT akun cenblue dungu ini, gak mau kasih panggung buat ragebaiter murahan. Buat yang follow dia, please blok aja.
Sejujurnya gue gak tau ini tulisan akan mengarah ke mana, hanya pikiran random jam 2 pagi setelah melihat demo seharian tadi. If you have time silakan baca or feel free to skip.
Gue tumbuh besar di lingkungan yang sekitarnya penuh dengan kemiskinan. Gue sendiri berasal dari keluar yang biasa-biasa saja, mungkin hanya sedikit lebih beruntung dari yang lain.
Orang-orang hidup dengan serba kekurangan. Boro-boro punya tabungan atau rencana masa depan, besok pun belum tau gimana caranya dapetin makan. Segala macam cara dilakukan untuk bisa dapat uang tambahan.
Dulu kalo pagi suka ada tetangga nenek-nenek, namanya Romlah, sering datang ke rumah bawa jualan kayak jajanan kue atau gorengan, kalo siang ke sore dia lanjut pergi ke sawah. Beliau rajin banget, tapi anak-anaknya pun tetap harus putus sekolah.
Ada juga ibu-ibu tetangga yang buka jasa cuci baju, namanya Bu Sop. Orang di kampung gak punya mesin cuci jadi nyucinya masih dikucek sendiri manual. Beliau meninggal dunia karena penyakit kronis dan tidak punya biaya untuk rutin berobat.
Pengangguran ada banyak, yang putus sekolah banyak, yang sampai ke perguruan tinggi cuma sedikit sekali. Semuanya terhambat masalah ekonomi. Semuanya terjebak dalam kemiskinan struktural.
Yang hidupnya nyaman dan berkecukupan bisa dihitung jari. Gue termasuk yang berkecukupan, tapi tetap ga bisa seenak jidat minta macem-macem ke orang tua. Kalo pengen sesuatu biasanya harus nabung uang jajan sekolah dan beli sendiri.
Gue udah gak tinggal di lingkungan tersebut, tapi sampe sekarang gue selalu ingat betapa susahnya kehidupan orang-orang di sekitar gue dulu.
Sekeras apapun mereka berusaha dan bekerja mereka gak akan bisa keluar dari kemiskinan tersebut. Entah karena keterbatasan ilmu, kemampuan, atau akses ke informasi dan kesempatan.
Mereka gak punya kemampuan untuk mengubah nasib atau memperbaiki kehidupan. Mereka gak tau musti ngapain. Mereka cuma bisa pasrah. Mereka gak peduli siapa yang jadi pemimpin karena buat mereka, siapapun pemimpinnya toh hidup mereka ya begitu-begitu aja.
Di setiap masa pemilu, siapa yang bisa ngasih imbalan itulah yang akan dipilih. Mereka gak punya pilihan lain selain menerima.
Mereka adalah golongan yang rentan dimanipulasi dan dimanfaatkan.
Memang zaman sekarang orang sudah punya smartphone bahkan di daerah. Tapi teknologi tersebut tidak seimbang dengan kemampuan memilah informasi dan berpikir kritis. Belum lagi banyaknya media yang dikontrol, disensor, dan buzzer di mana-mana.
Kita, yang punya akses ke pendidikan yang lebih baik, yang mampu berpikir kritis, yang mengerti apa yang sedang terjadi di atas sana, yang bisa melihat kebohongan dan tipu muslihat, adalah wakil mereka.
Suara kita adalah suara mereka.
Perjalanan mungkin masih panjang, kita mungkin masih butuh banyak belajar, tapi gapapa pelan-pelan aja. Gue tau sangat mudah untuk merasa frustrasi dan putus asa di situasi seperti ini, tapi kita gak bisa buang harapan.
Bareng-bareng yok.
----------
Even if I have to die, I will use the only voice I have to make some noise.
Please, I'm begging you…don't call "✅Yokemaru" "❌Jomaru." It’s really frustrating when mistranslations from pirated scans start spreading around. Please support the official release... I want people to experience and understand my manga the way it was actually intended.
Halo, aku bikin website untuk belajar berbagai bahasa GRATIS!🫶🏻
1. Inggris
2. Korea
3. Spanyol
4. Arab
Soon akan ada bahasa lainnya. Semoga bermanfaat🤍
📍 https://t.co/p31ILSB8AV
ART RAFFLE ♥︎
Hi hi, aku mau ngadain art raffle dengan 2 pemenang dengan syarat bantu isi kuisioner aku hehe.
- isi kuisioner dengan kriteria 11-19 tahun (yang umurnya lebih boleh pinjem adeknya 🏃♀️)
- RT
- Kasih bukti ss dikomen
Link Gform di komen ya—