Setuju. Kita memang masih membutuhkan lebih banyak riset, tetapi persoalan yang lebih besar justru pemerintah yang tidak menjadikan sains sebagai dasar pengambilan keputusan. Riset sudah ada, bahkan multidisiplin dan interdisiplin, tetapi sering kali berhenti sebagai laporan, tidak diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan nyata. Masalahnya bukan semata-mata produksi pengetahuan, melainkan kemauan politik untuk menggunakan pengetahuan. Kita bukan hanya kekurangan riset, tetapi lebih kekurangan pemerintah yang mau mendengarkan sains.
how to tell people that I'm actually kinda depressed like it's been a while since I feel like waking up on the morning shsdkakaieh should I just write it down on my whatsappbstatus "functioning improperly, do not interact" wdyt
Analisa yang menarik dari Bagus Muljadi mengenai fenomena kebakaran hutan saat ini.
>Menurutnya, karhutla bukan lagi bencana nasional, melainkan internasional.
>Di Indonesia, bukan paham kanan atau kiri yang menjadi perdebatan, melainkan daerah dan pusat.
>Budaya mengenai pemahaman gambut masih minim di daerah
>budaya riset di daerah masih lemah, akibatnya untuk menghadapi bencana spt ini menjadi tumpang tindih antara pusat dan daerah
>untuk memadamkan gambut di Indonesia, 1 hektar perlu 200rb liter air, helikopter untuk terbang perlu 10 rb usd untuk 1 jam, itupun masih hit n miss, belum tentu bisa memadamkan gambut
>saat terjadi bencana masyarakat cenderung terpolarisasi. Misalnya di Tamiang, selalu menjurus ke tobat ekologis. Padahal jika pemhaman akan gambut dan pengawasan yang ketat tentu lebih efektif dibandingkan demikian
Di Indonesia sudah ada mengenai UU pembakaran lahan, yang masih jadi PR adalah bagaimana regulasi tsb diawasi dan diemplementasikan dengan baik
Jua masyarakat paham, mengapa harus bakar apa yang ia dapat, dan kapan waktu yang tepat untuk membakar. Itu semua bisa diwujudkan jika budaya riset mulai diberdayakan.
shshsh suka sedih mamaku kalo mau diajak jalan pertanyaan pertamanya ada toilet difabel gak?😂 pernah sampe nanya mantan narsum untung masih ada yg beneran warga bantu warga
Aceh dilarang berisik.
Sembilan bulan pasca-bencana berlalu, tapi pemulihan masih jauh dari apa yang diharapkan. Sebagian siswa masih belajar di ruko dan tenda darurat. Ada pesantren yang berhenti beroperasi setelah berkali-kali diterjang banjir susulan.
https://t.co/vmd1sW5Ikl
Teman2 yang lagi cari rumah di Jabodetabek, bisa cek web buatan tim jurnalisme data @hariankompas ini. Di web ini ada data 37 ribu rumah, lengkap dengan lokasi, luas, harga, dan jarak ke pusat kota. Bisa filter berdasar penghasilan juga 😃
Cek di sini: https://t.co/wqQRkKNvKm
Ini foto yg mungkin kelihatan biasa di timeline.
Padahal di balik foto ini, kami baru selesai melakukan penanganan medis ketika tiba-tiba ada panggilan SOS dari titik api.
Kami masuk.
Di tengah gelap, asap, panas, dan api yg masih menyala, ada warga dan relawan yg terluka. Salah satunya mengalami luka sayat karena terkena parang saat berjibaku di lapangan.
Dibawa ke sini bukan ambulans.
Ga ada IGD.
Ga ada ruang aman.
Cuma ada kami, kotak P3K, senter, dan orang-orang yg tetap memilih bertahan.
ini yg sering hilang dari timeline kita,
saat kita cuma melihat “karhutla”, di sana ada manusia yg berdarah untuk menyelamatkan hutan.
"ah kayak BYAN bersih aja, biarin aja"
no, poinnya bukan apakah BYAN ni malaikat soal corp governance, tapi apakah lo memaklumkan perangkat negara (ESDM) dipake untuk memeras orang/perusahaan untuk memperkaya orang/perusahaan lainnya semena-mena