🚨 An Iranian retail chain has released CCTV footage recorded during the U.S. attack on Iran, showing scenes from Isfahan, Khorramabad, and several branches in Tehran.
Everyone knows that the nuclear issue was merely a pretext for attacking the only real supporter of Palestine.
BREAKING: 🇺🇸🇵🇭 Protesters breached police barricades in Manila, advancing toward the US Embassy.
The demonstrators are demanding the US troops to be kicked out and opposing the expansion of US military bases in the country.
"Wall of Tears," a 100-foot-long outdoor mural honoring 18,457 children killed by Israel in Gaza since Oct. 7, 2023.
WELL DONE DEARBORN THE FIRST CITY IN AMERICA TO DO THIS.
Protesters breached police barricades in Manila, advancing toward the US Embassy. The demonstrators are demanding the removal of US troops and opposing the expansion of foreign military bases in the country.
Cuma mau ngomong, terimakasih kepada Rosianna Silalahi, Dirut Kompas TV yang mau MENYIARKAN LIVE aksi mahasiswa di Jakarta hari ini.
Butuh keberanian besar untuk melakukan keputusan sebesar itu ditengah REPRESIFNYA rezim totalitarian hari ini.
We love you kak Rosi, we love Kompas TV.
FIFA ha rechazado la camiseta de la Copa Mundial de Haití, argumentando que era demasiado "política".
En la camiseta, Haití conmemora la liberación de su pais del colonialismo, el establecimiento de la primera nación negra del mundo y la abolición de la esclavitud.
El imperio occidental nunca perdonará a Haití por ser la primera nación en liberarse del colonialismo y dar ejemplo revolucionario a todas sus demás colonias.
¡Viva el pueblo de Haiti, vivan los libertadores anticoloniales Toussaint Louverture y Jean-Jacques Dessalines!
Draft:
Selama aksi demo hampir tidak ada TV nasional yang meliput.
Tapi menjelang malam, ada massa yang tidak jelas tiba-tiba muncul dan mulai berbuat anarkis, TV mendadak breaking news, disiarkan secara live, dengan narasi seolah-olah inti dari demonstrasi adalah kerusuhan.
La Russie du grand méchant Vladimir Poutine pendant la Coupe du monde 2018 :
- entrée gratuite sans visa pour tous les supporters
- trains gratuits pour se déplacer entre les 11 villes hôtes
- transports locaux gratuits (bus, métro, navettes)
- pas de tarification dynamique pour les billets
- contrôles administratifs simplifiés
- aucune interdiction de séjour discriminatoire
- aucune place destiné aux supporters supprimés
- pas de fouille humiliante à l’arrivée des joueurs comme si c’était des criminels
Guys, ada kasus dari Medan yang menurut gue paling absurd dan paling menyakitkan yang pernah gue baca dalam waktu lama.
Dua pemuda usia 22 tahun
beli Pertalite 25 liter pakai jeriken.
Ditangkap. Ditahan.
Dan sekarang terancam 6 tahun penjara plus denda Rp60 miliar.
Beli. Bukan nyolong.
Beli pakai uang sendiri.
25 liter. Pakai jeriken.
Dan dijerat pasal yang sama dengan mafia migas kelas kakap.
Ini faktanya yang bikin makin tidak masuk akal:
Mereka ditangkap 6 Januari 2026 empat hari setelah KUHP baru berlaku.
Tanggal 7 Januari sehari setelah ditangkap polisi baru memeriksa ahli.
Artinya mereka sudah jadi tersangka sebelum ahli diperiksa.
Prosedur terbalik total.
Di persidangan ada kejanggalan lebih parah lagi.
Dakwaan menyebut penangkapan berdasarkan informasi masyarakat.
Tapi saksi polisi di persidangan bilang penangkapan terjadi saat patroli rutin.
Dua versi yang berbeda.
Dalam satu kasus yang sama.
Hakim pun curiga dan langsung nyeletuk keras di persidangan:
"Yang saya khawatirkan perkara ini adalah request jadi kalian tidak murni melakukan penegakan hukum."
Hakim sendiri.
Yang ngomong begitu.
Di dalam sidang.
Dan ini tentang pasal yang dipakai yang paling tidak proporsional:
Pasal 55 Undang-Undang Migas ancamannya 6 tahun penjara dan denda Rp60 miliar.
Pasal itu dibuat untuk menjerat mafia migas penyelundup skala besar, kartel distribusi ilegal, pemain yang merugikan negara miliaran rupiah.
Bukan untuk dua anak muda yang beli 25 liter Pertalite pakai jeriken di SPBU pinggir jalan.
Kuasa hukum mereka langsung kalkulasi:
keuntungan tidak wajar dari pembelian itu?
Sekitar Rp15.000 per jeriken.
Lima belas ribu rupiah.
Itu yang dianggap sebanding dengan ancaman Rp60 miliar dan 6 tahun penjara.
"Nilai Rp60 miliar itu masuk akal kalau pelakunya pemain besar.
Ini cuma dua anak muda yang beli 25 liter."
Dan ini yang paling menohok siapa yang seharusnya jadi target:
Kuasa hukum mereka menyebut dengan sangat jelas:
yang seharusnya disorot adalah pemilik SPBU-nya yang membiarkan pengisian menggunakan jeriken terjadi di tempat usahanya.
Bukan pembelinya.
Bukan dua anak muda itu.
Tapi yang ditangkap adalah orang yang paling tidak punya kuasa dan paling tidak punya koneksi.
Yang punya SPBU? Bebas.
Yang beli 25 liter? Ditahan enam bulan.
Dan ini kondisi salah satu terdakwa yang paling menyedihkan:
Ayah dari salah satu terdakwa sedang menderita kanker. Kuasa hukum mengajukan penangguhan penahanan atas dasar kemanusiaan.
Dan mereka baru dibebaskan dari rutan setelah hakim mengabulkan penangguhan setelah enam bulan ditahan.
Enam bulan.
Untuk beli bensin 25 liter.
Di negara ini kepala BGN yang mengelola Rp335 triliun dan terbukti korupsi baru ditangkap setelah berbulan-bulan program berjalan.
Mafia BBM yang mengeruk subsidi miliaran masih bebas keliling. Pejabat yang merampok uang rakyat masih bisa nyalon lagi di pemilu berikutnya.
Tapi dua anak muda 22 tahun yang beli 25 liter bensin pakai jeriken ditangkap sehari setelah membeli bensin, ditahan enam bulan, dan terancam denda Rp60 miliar.
Hukum di Indonesia memang ada.
Tapi tajamnya hanya ke bawah.
Dan selama sistem ini tidak berubah keadilan di negara ini akan terus menjadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang punya uang dan koneksi.
🇺🇸 🇵🇸 Sama Safi, a 20-year-old American citizen and honors psychology student at Birzeit University, remains in Israeli detention after soldiers seized her from her family’s home near Ramallah at 3 a.m. on June 2, with lawmakers warning her life is at risk.
Safi, whose family lives in Florida, was taken without charge and transferred to Ofer prison, then to the Moscovia interrogation center in Jerusalem, according to the Palestinian Prisoners’ Society. Her family says she has a chronic condition that causes fevers up to 105°F and requires daily medication and a quarterly injection she travels abroad to receive.
She was one of five Palestinian women detained that week, including two members of the Palestinian women’s national football team. The Israeli military said the women were suspected of “promoting terrorist activities.”
Rep. Rashida Tlaib and Sen. Chris Van Hollen have both demanded her release. “I am really sick and tired of the Israeli government taking American taxpayer dollars and then mistreating Americans,” Van Hollen said. Israel has not told her family or the U.S. embassy where she is being held. Rep. Tlaib said, “Her life is at risk—our government must free her now!”
🤷🏻♂️🤷🏻♂️🤷🏻♂️ And just like that, Epstein / Trump completely VANISHED from the media.
But a sitting congressman, Ted Lieu, said on the record the Epstein files are being blocked because they show Trump RAPED and threatened to KILL children.
Lets make this viral again & again 👇👇👇