💚 warga konoha itu emang bodoh, mereka gaakan belajar dari yg udah udah. setelah ok gas ok gas gemoy terbitlah mbg bahlil ganteng bolu ketan. noh dia sama antek anteknya kesenengan, warganya juga malah tambah tambah liatnya. geblek emang 😑
Lulusan Akmil yg ga punya background ilmu HI dan karier diplomat mempertanyakan kevalidan fakta dan konstruktif kritik yg disampaikan lulusan S1 Universitas Carleton, S2 Universitas Simon Fraser, dan S3 dari LSE wkwkw
btw diem dikit pas lagi ngomong bisa kali pak, gugup amat
Dlm 2 hr terakhir ini terlihat Presiden Prabowo mulai merespons positif suara masyarakat. Pertama, pd Peringatan Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni 2026 beliau menyampaikan pidato dgn membaca teks shg lbh fokus; Kedua, pd 2 Juni 2026 beliau mencopot Kepala BGN yg memang bnyk disorot.
Berarti mereka gak mengalami dua jam depan laptop tapi baru bisa nulis satu kalimat setelah menyelam 15 artikel. Anddddddd itu pun yang dikutip cuman 2 artikel setelah membaca dan membandingkan sebanyak itu
They always think it’s okay for women to be masculine and hate when men dress femininely because they hate femininity. Homophobia always aligns with misogyny btw.
Banyak jejak digital Desak Anies berdiskusi dgn nelayan, petani, pedagang pasar, sampe guru honorer. Jejak digital beliau blusukan juga ada. Ngadain konser jg ada.
Anggapan Anies "gak napak tanah" karna cara kampanye yg coba ngajak orang dialog itu justru analisa dangkal.
Kenapa orang Jawa dicap "nrimo, sopan, penurut" sementara suku di luar Jawa (kayak Minang, Batak, Bugis) sering dicap "keras, pembangkang, licik, atau banyak bacot"?
Funfact ini doktrin politik yang dibangun sejak era penjajahan wkwk, dan terus kebawa sampai sekarang.
Pemerintah Hindia Belanda sengaja bikin klasifikasi karakter ini buat mecah belah masyarakat biar nggak bersatu a.k.a Devide et Impera.
Mereka butuh orang Jawa dikondisikan kalem supaya gampang dijadikan tenaga kerja murah dan birokrat rendahan yang nurut sama atasan.
Di sisi lain, suku-suku Sumatera yang punya tradisi merantau suka dagang dan jago lobi politik sengaja diawasi ketat dan dicitrakan negatif sebagai "tukang ngolah" atau "pembangkang" biar suku lain males berbaur sama mereka.
Jadi, stereotip itu hasil cuci otak ratusan tahun buat ngamanin aset penjajah. Dan bodohnya mayoritas kita masih memakai stereotip macam tu.
"Orang-orang Jawa cinta damai"
Who decided that!? 🤣🤣
Faktanya, rezim Orde Baru yang sangat Jawa-sentris justru ngebangun kekuasaannya lewat sistem premanisme dan kekerasan negara.
Mulai dari pembantaian 65-66 dilanjut Petrus sampai ormas-ormas yang dipakai buat ngegulung lawan politik nya 🐧
indonesia bukan cuma diisi umat islam yang bayar pajak.
ada kristen, katolik, hindu, buddha, konghucu, penghayat, dan warga lain yang ikut membiayai apbn lewat pajak, ppn, cukai, dan pungutan negara.
jadi kalau kurban pakai apbn, masalahnya bukan semata “sah atau tidak sah secara syariat”.
masalah besarnya: bolehkah uang publik lintas agama dipakai untuk membangun citra ibadah pribadi satu pejabat?
negara harus adil. jangan jadikan anggaran rakyat sebagai panggung kesalehan personal