saat sedang menemani istri memasak, seorang suami mengutarakan kegelisahannya:
👨🎓: Dek, kadang rasanya pemerintah kita enggak punya kesadaran politik ya.
🧕: Memangnya kesadaran politik itu apa, Mas?
👨🎓: Kamu tahu ada tetangga yang rumahnya kebanjiran?
🧕: Tahu.
👨🎓: Itu tahap pertama, "tahu".
🧕: Lalu?
👨🎓: Kamu coba bayangkan kesusahan yang mereka hadapi.
🧕: Jadi ikut merasa prihatin.
👨🎓: Betul. Itu tahap kedua, "empati". Lalu, besoknya kamu ikut bantu bersih-bersih atau ngumpulin bantuan.
🧕: Nah, itu tindakan.
👨🎓: Betul. Tahap ketiga bisa disebut "teraktivasi".
🧕: Jadi maksud Mas, tahu masalah belum tentu berarti punya kesadaran?
👨🎓: Menurut Eep Saefullah Fatah, demikian. Beliau merumuskan, kesadaran itu harus tahu, empati, lalu teraktivasi.
🧕: Presiden Prabowo, Teddy Indra Wijaya, dan pembantu lainnya, menurut Mas, berarti ngga punya kesadaran politik ya?
👨🎓: Jangan sebut nama terang-terangan, dek. Diskusi kita mau Mas jadiin konten, bisa bahaya 😭.
***
referensi soal kesadaran politik:
YT Madilog, Eep Saefullah Fatah.
Selamat, Mas @wijayamarkk atas wisuda UGM dan tulisan barunya di @hariankompas .
Saya ketemu beliau Selasa lalu saat temu silaturahim penulis Kompas. Sayang ga sempat ngobrol banyak karena ada giat lain dan karena saya orangnya agak sombong jarang nyapa kalo ga disapa duluan 😳
Here we go! Bakalan berkutat sama teks-teksnya Hegel dan Marx semester ini, kelas filsafat dengan nuansa kontinental pertamaku selama berkuliah--sedikit was-was😂
terima kasih Prof. Mahfud MD (@mohmahfudmd), sudah menyuarakan isi hati kami yang terdalam. 🙏😔
beliau mengatakan:
"belum lagi munculnya gaya hedonis dan flexing, berfoya-foya di kalangan elit secara munafik. Pada satu sisi berteriak tentang perlunya hidup sederhana demi rakyat, demi pemerataan, demi empati. Tetapi pada sisi lain, hidupnya berfoya-foya, berpesta, sampai ke luar negeri sekalipun hanya untuk berfoya-foya."
***
sumber:
YT Mahfud MD Official; Terus Terang; saat beliau membahas makna 81 tahun kemerdekaan.
„Mecromegas“ Voltaire karya Porkas Daulae membaca kisah raksasa Sirius untuk menunjukkan besar-kecil selalu relatif; dari guru dan murid hingga wong clik yg mampu “mengukur” peng-gede, lalu menghadapi raksasa imperialisme dari Dien Bien Phu hingga Korea.
https://t.co/bT04wM05od
La expresión de Marx de “poner a Hegel de pie” es mucho más profunda de lo que parece. Marx leyó la Lógica de Hegel en Londres al escribir los Grundrisse y hasta se entusiasmó en escribir un folleto popular para explicar a los militantes la importancia de la obra hegeliana. (+)
Liat foto Fatimah Azzahra di aksi #demo hari ini langsung keinget this iconic picture from 9 years ago.
SAME undefeated calm energy. Merinding liat nya.
MIRIP BANGET BANGET! 🥹🔥
Sc: latteandfash
Bung Karno sebagai Ahli Sedjarah karya Sumardjo menilai Sukarno bukan sekadar tahu fakta tapi menghubungkan peristiwa, menyusun periodisasi & menarik pelajaran dari sejarah; dari Indonesia Menggugat hingga Sarinah, ia dibaca sebagai ahli sejarah politik.
https://t.co/5E2wAC4K41
Kita Adalah Pewaris Karl Marx karya Porkas Daulae membahas Marxisme sebagai warisan yg harus dipelajari, dikembangkan dan di-Indonesia-kan; dari Marx, Lenin, Aidit hingga Homer, Shakespeare, Beethoven, Gorky & Tagore sebagai milik kebudayaan umat manusia.
https://t.co/KTievWzIUs
merespons pandangan Prof. Jimly ini, saya ingin menghadirkan kutpian dari Yudi Latif.
dalam artikelnya berjudul "Merdeka dengan Jiwa Besar", di Kompas pagi ini, Yudi Latif berpesan:
"Pemerintahan yang sehat membutuhkan cermin: pers, akademisi, masyarakat sipil, lembaga hukum, oposisi, dan terutama rakyat yang berani mengatakan adanya kesalahan."
***
saya meyakini pemerintah tengah "sakit", dan ngeyel tak ingin minum "obat". Dan karena itu, kita membutuhkan demo, sebuah cara lain untuk menelan obatnya.
sumber:
https://t.co/wlre1jZnfi
Berikut artikel saya di Kompas, 18 Agustus 2026, “ Odysseus dan Tali Republk” (bebas akses )
https://t.co/1MgZocXqRK
Kekuasaan, seperti laut, punya godaannya sendiri. Kapal itu selamat bukan karena nakhodanya kuat. Kapal selamat karena sang nakhoda tahu ia bisa lemah.
Institusi lahir bukan karena manusia selalu bijak, tetapikarena kita tahu suatu hari kita bisa khilaf atausewenang-wenang.
@dosenhukumnotes Kemarin Nemu quotes bagus, kita harus cari jalan tengah antara hukum berkeadilan+ kepastian hukum,
Sebenarnya akarnya ada pada konsep masyarakat diatas hukum (keadilan hukum)/hukum diatas masyarakat ( kepastian hukum)
Masing-masing ada plus minusnya
berbeda dengan Pak Anies yang mengedepankan kepastian hukum, opini Jendral TNI (Purn.) Dudung Abdurachman yang naik cetak di kompas hari ini, berupaya menekankan soal hukum, yang bukan hanya pasti, tapi juga harus berkeadilan.
tulisan ini jernih dan mudah dikunyah. Dan karena itu, semoga presiden dan pembantunya bisa mengkonsumsinya dengan baik.
beliau berkata,
"jika Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum, hukum semestinya tidak sekadar menghadirkan kepastian. Ia juga harus membawa kemanusiaan, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat setiap warga negara."
***
saya pribadi lebih tergerak oleh tulisan Pak Anies sih 🤔 entah mengapa.
sumber:
https://t.co/97RSAinVa7
"Kepastian Hukum Untuk Siapa?"
Tanggapan saya terhadap Opini Mas @aniesbaswedan di Harian Kompas
https://t.co/fa1MpHgNxK
Semoga bisa mempertajam dan memperdalam analisis.
Salam
Muhamad Isnur