Tulisan-tulisan ini ditulis agar seperti rokok, tepatnya seperti asap rokok, muncul dengan tebal lama-lama terurai & hilang oleh ketidakpentingannya, kalau kena orang, resiko mengganggu. Tapi gapapa, sama halnya rokok, hanya yang menghisap yang pada akhirnya bisa menikmati.
Udah lama nggak nulis. Kali ini iseng nulis esai pendek di medium, mengawalinya dengan esai filosofis ala-ala eksistensialisme tentang satu hal yang sering kita anggap harus selalu ada, "Tujuan Hidup".
Baca di sini: https://t.co/vdfiasPipn
Guys, ini baru keluar dan gue rasa ini salah satu berita paling penting soal MBG yang perlu semua orang tahu.
BGN beli 21.000 motor listrik untuk program MBG. Tanpa laporan ke DPR.
Tanpa persetujuan Kemenkeu.
Dan kantornya distributor motor itu belum jadi.
Baca lagi.
Kantornya belum jadi.
Tapi motornya sudah ada di Indonesia.
Kronologi yang perlu lo tahu:
2025 Menkeu Purbaya sudah menolak pengadaan motor listrik ini.
Secara resmi.
Diblokir.
2026 BGN tetap beli.
21.000 unit.
Sudah masuk ke Indonesia.
Komisi IX DPR tidak pernah dikonsultasi.
Tidak pernah dapat laporan.
Tidak pernah diminta persetujuan.
Kalau disampaikan ke kami di sini, pasti akan kami tolak, kata Wakil Ketua Komisi IX Charles Honoris.
Dan ini yang paling bikin gue speechless.
Charles bilang dia nonton video dari salah satu media dan yang dia lihat adalah:
kantor distributor motor listrik itu belum selesai dibangun.
Tapi di dalamnya sudah disiapkan satu SPPG Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang akan beroperasi di sana.
Terjemahannya:
motor sudah dibeli,
distributor sudah ditunjuk, l
okasi SPPG sudah disiapkan
semua sebelum kantornya selesai dibangun.
Something fishy, kata Charles.
Dan gue setuju.
Pertanyaan yang harus dijawab:
Satu siapa yang beli?
BGN beli 21.000 unit motor listrik.
Dari merek apa?
Importir mana?
Harganya berapa per unit?
Total anggarannya berapa?
Dua dari anggaran mana?
Kalau Kemenkeu sudah blokir di 2025 dari mana uangnya keluar di 2026?
Ada pos anggaran yang tidak terpantau?
Tiga siapa distributornya?
Kantornya belum jadi tapi sudah jadi distributor resmi pengadaan pemerintah itu bisa terjadi hanya kalau ada yang melindungi di belakang.
Empat kenapa motor listrik untuk program makan bergizi gratis?
SPPG adalah satuan dapur kepala dapurnya butuh motor untuk apa?
Untuk koordinasi antar lokasi?
Oke, mungkin.
Tapi 21.000 unit?
Tanpa laporan ke DPR?
Ini bukan soal motor listriknya.
Ini soal tata kelola yang berantakan dari program yang anggarannya Rp71 triliun per tahun.
Kalau pengadaan motor saja bisa bypass Kemenkeu, bypass DPR, masuk diam-diam, dan kantornya belum jadi apa lagi yang bisa bypass dengan cara yang sama?
Dan ini yang paling menyakitkan:
Program MBG lahir dari niat mulia memberi makan anak-anak Indonesia yang kekurangan gizi. Itu niat yang tidak bisa diperdebatkan kebenarannya.
Tapi niat mulia yang dieksekusi dengan tata kelola yang kotor ujungnya bukan anak-anak yang kenyang. Ujungnya distributor motor yang belum punya kantor yang panen.
Dan yang rugi? Sama seperti biasa.
Rakyat yang bayar pajak.
Dan anak-anak yang harusnya dapat makan bergizi tapi anggaran programnya habis di jalan.
Senin 13 April 2026 BGN dipanggil Komisi IX DPR.
Dan gue harap DPR kali ini tidak cuma memanggil tapi benar-benar minta jawaban yang konkret dan transparan.
Karena kalau rapat Senin itu berakhir dengan jawaban normatif dan tidak ada yang dipecat atau diselidiki berarti kita semua tahu ceritanya akan ke mana.
MBG dianggap sebagai program yang benar-benar rapuh secara moral, namun yang membuat lebih muak bukan perkara betapa banyak kemudaratannya, tapi antusiasme publik yang berebut untuk menikmati remah-remahnya.
Sebuah disolusi integritas moral & etika publik.
Rasa-rasanya belakangan ini seperti menjadi HP yang dicas semalaman, tapi pas bangun baterainya tetap 3%. Entah chargernya yang rusak, port-nya yang konslet, listriknya yang mati, atau aku yang sebenarnya tidak pernah benar-benar terhubung?
Bagaimana kalau ternyata chargernya tidak rusak, port-nya tidak konslet, listrik masih menyala, dan aku sebenarnya telah terhubung? Jangan-jangan masalahnya adalah pada baterai yang bocor?
Sepertinya langit Solo mempersilahkan siapa saja yg ingin menitikkan air mata tak perlu lagi merasa malu, hujan membuatnya terlihat seperti umumnya orang kehujanan. Namun langit Solo lupa, bila ada yang mencium pipiku, mereka akan mengira kalau hujan kali ini mengandung natrium.
Sebenarnya kita takut kehilangan, atau takut akan sedihnya kehilangan? Atau kita hanya tidak ingin mengalami ketakutan? Pada akhirnya, kehilangan, kesedihan, dan ketakutan seringkali saling bergandengan tangan mengajak kita untuk ikut berjalan-jalan menyusuri trotoar kehidupan.