Transisi politik sering kali menggeser nilai mata uang. Sementara Habibie dan Megawati mengalami apresiasi signifikan, lintasan saat ini Prabowo berada pada depresiasi 13% di tengah tekanan makro global. Apakah itu tak terelakkan?
Transfer kekayaan sepanjang sejarah maybe baru akan dimulaiโฆ.
Harus bisa nangkap.
Mahasiswa MIT raup Rp13,4 miliar hanya 45 hari setelah belajar AI Claude
Awalnya dia bahkan belum pernah trading Bitcoin sama sekali
Dalam 1.735 transaksi, tingkat kemenangannya tembus 85%
Bukan karena jago analisa BTC, tapi karena mampu memakai Claude untuk backtest strategi super cepat
Saat pasar memberi peluang BTC di atas $80 ribu hanya 0,3%, model miliknya menghitung 35%
Dia langsung masuk dengan 60 ribu kontrak
Modal $178 berubah jadi $29.742 dalam satu posisi
Tim quant Wall Street biasanya backtest seminggu sekali
Mahasiswa ini melakukannya 38 kali sehari hanya lewat laptop kamar asrama
Perusahaan trading raksasa seperti Jane Street bahkan sulit masuk ke market seperti Polymarket karena risiko dan ukuran market terlalu kecil
Artinya lawan terkuat di market ini bukan elite Wall Street
Tapi orang biasa yang bergerak lebih cepat
Fenomena ini menunjukkan AI mulai membuka peluang baru di dunia trading dan quant untuk siapa saja
Di keadaan survival mode kyk gini emang cuma bisa ngandelin Tuhan sama diri sendiri.
Salah satu peluang yg bisa dicobain sekarang tu TikTok Go.
Wangmin punya temen yg kerja di agency yg ngurusin TikTok Go. Ada kreator yg omzetnya tembus Rp1,5 M!
Kita bahas!
Timothy Ronald bilang terus terang:
Rupiah sudah kehilangan 99.9978% nilainya sejak dulu.
Itu sebabnya dia bilang, โSaving is the root of povertyโ kalau cuma dalam bentuk Rupiah.
Menurutnya, di tahun 2030 nanti, kalau lo masih nggak punya Bitcoin atau Emas, kemungkinan besar lo akan ketinggalan jauh.
Bukan karena lo malas.
Tapi karena nilai uang kertas terus dihancurkan dari dalam.
Emas sudah terbukti 5.000 tahun.
Bitcoin adalah emas digital dengan supply terbatas.
Pilihannya sekarang ada di tangan lo.
Kalian ngerasa ga sih, mall masih rame, antrian kopi masih panjang, restoran masih penuh.
Padahal rupiah lagi di titik terlemah sepanjang sejarah dan ekonomi lagi susah.
Nama fenomena ini adalah Lipstick Effect.
Dan ini justru sinyal bahaya loh!๐งต
TIPS PERBAIKI HIDUP PELAN-PELAN, TANPA HARUS CERITA KE SIAPUN
1. ngilang dulu sementara. kadang kamu cuma perlu diam sebentar. tenangin diri, rapikan pikiran, fokus ke hidup kamu dulu.
2. belajar lagi dari awal. baca buku, tontonan yang bermanfaat, belajar ngendaliin diri. pola pikir berubah, hidup juga akan berubah.
3. bikin rutinitas yang konsisten. tidur cukup, bangun lebih pagi, makan lebih sehat, olahraga, dan evaluasi diri. disiplin kecil buat ngubah hidup pelan-pelan.
4. menjauh dari hal yang ngerusak diri. orang toxic, kebiasaan buruk, dan hal nggak penting di medsos tinggalkan pelan2. nggak semua hal harus dijelaskan atau ditanggapi.
5. fokus ngebangun skill dan keuangan. belajar hal baru, saving, investasi, dan cari cara hidup lebih stabil. finansial yang tenang sering kali ngeb hidup lebih bebas.
6. sembuh dalam diam, tumbuh perlahan. nggak perlu semua orang tahu prosesnya. biarkan hasil yang nanti berbicara.
โKan kita jajan dan digaji pake Rupiah, ngapain pusing Dollar naik?โ ๐ญ๐ญ
Sering denger argumen t*lol kayak gini? Sini kumpul, kita bahas bentat kenapa mindset ini denial mampus dan efeknya tetep bakal kerasa sampai ke dompet kita. Pake bahasa bayiii!!
Negara kita banyak banget yang memproses sesuatu menggunakan bahan baku nya masih impor, nah kita belinya pake apa di pasar global? Pake Dollar, brokkk! Kalau Dollar makin mahal, harga modal buat beli bahan mentah ini ikut naik. Pabrik cuma punya 2 pilihan: naikin harga jual kita, atau harganya tetep tapi ukurannya dikecilin (shrinkflation).
Gak cuma itu biaya logistik juga bisa jadi melonjak, karena Minyak mentah dunia itu transaksinya pakai USD. Kalau kurs Rupiah anjlok, biaya impor minyak bengkak. ujungnya, ongkos logistik meroket, dan harga semua barang di pasar otomatis ikut terbang melayang ke awan:))
Daaannn yang paling kena itu di bidang industri buat para pekerja. Dari mulai harga bahan baku yang mahal sampe logistik yang meroket bikin perusahaan terpaksa naikin harga produksi. Terus gimana kalau ada perusahaan yang gak sanggup naikin itu? Ya potong budget. Mulai dari nunda naik gaji, hiring freeze (stop buka lowongan baru), potong bonus, sampai yang paling pait: layoff alias PHK massal:((
#intinyadeh di era sekarang gak ada yang namanya "ekonomi lokal 100%". Kita ini saling terhubung. Rupiah melemah itu ibarat invisible tax yang sadar gak sadar ngempesin daya beli uang kita. Dulu Rp50.000 dapet banyak, skrg alhamdillah dapet:โ)
Jadi, kalau ada yang bilang "Gak ngaruh, kan gue pake Rupiah", kasih paham thread ini. Uang di dompet kita emang gambarnya pahlawan, tapi yang berjuang mati matian skrg kita ges๐ญ๐
7 HAL MENANDAKAN LO MENTAL MISKIN
1. nunggu keberuntungan, bukan jemput peluang.
2. masih ngandelin satu sumber penghasilan.
3. gaya hidup lebih besar dari penghasilan. (stop beli gengsi).
4. takut investasi, tapi belanja barang gak penting gak pake mikir.
5. mindsetnya "duit gue segini doang" bukan "gimana cara naikin income".
6. menganggap orang kaya cuma "beruntung" โ meremehkan disiplin dan kerja keras.
7. malas investasi "leher ke atas" โ enggan belajar skill baru atau baca buku untuk upgrade value diri.
jujur lo masih ngelakuin nomor berapa??
Kebanyakan orang pakai Claude seperti mesin tik Ketik pertanyaan, dapat jawaban, selesai
Padahal ada shortcut prompt yang bisa bikin output nya beda level Ini 15 yang paling sering saya pakai ๐งต
Punya AI Agent tuh enak banget ya
Ini adalah list kerjaan AI Agent gw
1. Trading semua Capital Market
2. Coding
3. Ngelola akun 1&2 (yang 2 full automate)
4. Ngatur jadwal liburan
5. Mencari jejak digital para firaun
Dan masih banyak lagi, benerโ jadi assistant tanpa komplain, dengan modal cuma bayar 10-15$ perbulan
Guys, ada nama yang menurut gue perlu dibahas lebih serius dari yang selama ini dibahas media.
Letkol Teddy Indra Wijaya.
Sekretaris Kabinet.
Bukan menteri.
Bukan jenderal bintang empat.
Tapi dalam konteks kebebasan pers dan kontrol informasi di pemerintahan Prabowo dia adalah satu nama yang paling banyak disebut oleh para jurnalis yang berbicara di balik anonimitas.
Apa yang terjadi di bencana Sumatra
dan di mana Teddy masuk:
Akhir November 2025.
Banjir dan longsor menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
BMKG sudah memberikan peringatan
delapan hari sebelumnya.
Tidak ada rapat darurat.
Tidak ada langkah antisipasi dari pemerintah pusat.
Saat bencana meluas Prabowo tetap menjalani agenda seperti biasa.
Rapat soal koperasi.
Ketemu Menteri Kelautan.
Menerima Ratu Belanda.
Baru di tanggal 27 November setelah 72 orang meninggal dan 54 orang hilang rapat penanganan bencana digelar.
Dan per Januari 2026, korban tercatat 1.199 orang meninggal dan 114 orang hilang.
Di tengah semua itu ada wartawan bernama Rina yang dikirim liputan ke Aceh.
Lebih dari tiga minggu di lapangan.
Dia melihat beras menumpuk di posko tapi tidak disalurkan.
Seorang pria yang istrinya harus diamputasi tapi tidak bisa karena tidak ada alat.
Orang-orang yang mengaku sudah siap bunuh diri karena tidak kuat lagi.
Rina melakukan siaran langsung.
Dia tumpahkan semua yang dia lihat.
Dan Teddy Indra Wijaya Sekretaris Kabinet
menonton siaran itu dari Jakarta.
Lalu Teddy menghubungi pemilik media tempat Rina bekerja. Mengamuk.
Dan meminta pemimpin redaksi media itu diganti.
Bukan insiden tunggal ini pola:
Wartawan lain bernama Indira yang dikirim ke Padang mengalami hal serupa.
Setelah dia melapor bahwa bantuan belum datang dan pemerintah belum terlihat atasannya langsung menelepon.
"Next, jangan sebut kalau belum ada bantuan masuk, ya."
"Tapi memang belum ada bantuan.
Faktanya begitu."
"Cerita soal dampaknya aja.
Tapi jangan kasih tahu kalau bantuan belum masuk."
Indira akhirnya siaran langsung di depan sebuah ekskavator yang membersihkan sisa longsor bukan karena ada kemajuan nyata, tapi karena itu satu-satunya hal yang bisa terlihat seperti "pemerintah bekerja."
"Maksa banget," kata Indira.
Teddy dan pola Orde Baru yang sangat familiar:
Project Multatuli yang menginvestigasi ini menarik perbandingan yang sangat tepat dan sangat tidak nyaman.
Di era Orde Baru tidak ada larangan tertulis soal apa yang boleh dan tidak boleh diberitakan.
Yang ada adalah telepon.
Pejabat atau perwira militer tertentu menelepon petinggi redaksi untuk memberi arahan, teguran, atau larangan atas isu tertentu.
Tidak perlu SK.
Tidak perlu aturan resmi.
Cukup satu telepon dari orang yang tepat dan seluruh redaksi paham apa yang harus dilakukan.
Apa yang dilakukan Teddy?
Persis sama.
Menelepon pemilik media.
Mengamuk.
Meminta pemred diganti.
Tanpa surat resmi.
Tanpa proses hukum.
Cukup satu telepon.
Yang paling ironis Teddy adalah simbol harapan yang berubah menjadi simbol yang lain:
Banyak yang dulu berharap besar pada sosok militer muda yang masuk lingkaran dalam Prabowo.
Ada harapan bahwa generasi baru perwira akan membawa cara kerja yang berbeda.
Lebih profesional.
Lebih terukur.
Yang kita saksikan sekarang adalah seseorang yang menggunakan posisinya sebagai Sekretaris Kabinet posisi administratif,
bukan posisi keamanan untuk mengontrol arus informasi tentang kegagalan pemerintah dalam menangani bencana.
Bukan mengontrol berita palsu.
Bukan melawan disinformasi.
Tapi meminta media tidak memberitakan bahwa bantuan bencana belum datang saat bantuan memang belum datang.
Dan Teddy tidak merespons pertanyaan dari Project Multatuli:
Pertanyaan dikirim ke nomor pribadinya dan ke email resmi humas Setkab.
Tidak ada respons sampai artikel diterbitkan.
Tidak ada klarifikasi.
Tidak ada bantahan.
Hanya diam.
Ketika seorang Sekretaris Kabinet bisa menelepon pemilik media dan meminta pemimpin redaksi diganti hanya karena wartawannya melapor bahwa bantuan bencana belum datang itu bukan soal satu orang yang arogan.
Itu adalah sistem yang memang dirancang untuk memastikan bahwa rakyat hanya mendengar apa yang penguasa mau mereka dengar.
Dan sistem seperti itu pernah kita kenal.
Namanya Orde Baru.
Dan kita butuh 32 tahun untuk keluar dari sana.
โ ๏ธ Disclaimer: Berdasarkan investigasi Project Multatuli dalam serial Dead Press Society. Semua nama wartawan disamarkan untuk melindungi sumber. Teddy Indra Wijaya tidak merespons pertanyaan yang diajukan sampai artikel diterbitkan.