kemaren ada anak 3th meninggal jatoh dari lt 5 hotel karna ditinggal breakfast org tuanya, ini ada lagi yg lainn. duh jgn pada punya anak dulu kalo masih pada goblok mah
Ortu summit ke G.Prau terus anaknya ditinggal sendiri di tenda. Untungnya ada pendaki lain yg ngeh karna ada suara anak nangis dr dlm tenda dan nemenin si adek sampe orgtunya balik dr puncak kurleb 1.5 jam.
Kalo mau naik gunung bawa toddler tolong dipikir dg matang ya, jgn main tinggalin anak sendirian!
Habis pulang dari MCD sama cowokku. Kami beli 2 paket ayam spicy. Punyaku pakai minum, dan semuanya aku yang bayar karena akun BCA cowokku ke-logout.
Seperti biasa, setelah bayar di layar, cowokku nyuruh aku duduk, lalu dia yang ambilin makanan. Aku baru sadar, ternyata ukuran potongan ayam kami sering beda, padahal sama-sama dada mentok. Termasuk tadi, dia bilang satu dada mentok dan satu lagi dada tulang.
Dia ambil yang katanya dada tulang, tapi pas aku lihat, ukurannya malah lebih besar dari punyaku. Selama ini juga, ayam dia hampir selalu paling besar.
Sebenarnya aku nggak pernah mempermasalahkan karena biasanya selisih ukurannya nggak terlalu jauh. Tapi kali ini bedanya lumayan banget.
Aku pun bilang baik-baik, โPunyamu lebih besar, ya, ayamnya. Kulitnya juga banyak.โ Padahal aku suka banget kulit ayam.
Dia jawab, โIya, nanti kita paroan (bagi dua), ya,โ sambil mulai motekin kulit ayamnya.
Aku lalu cuci tangan ke wastafel. Pas balik, ternyata kulit ayam itu malah lagi dia makan sendiri.
Aku pun nanya, โLho, katanya mau dibagi sama aku?โ
Akhirnya dia nyodorin sisa gigitan kulit ayam itu ke aku, dan langsung aku habiskan. Aku lalu bilang, โTadi katanya mau dibagi, kok malah dimakan?โ
Dia jawab, โAku nggak sadar. Pokoknya apa pun yang ada di tempat makanku, ya aku makan tanpa sadar.โ
Padahal waktu bilang mau bagi dua, dia justru lagi motekin kulit ayam itu.
Akhirnya aku bilang, โYa udah, tukeran ayam aja.โ
Masalahnya, ayam dia udah gundul karena sebagian dimakan, sedangkan punyaku masih utuh. Kalau ditukar, jatuhnya malah aku yang dapat bagian lebih besar. Dan ternyata ayam dia itu dada mentok, bukan dada tulang seperti yang awalnya dia bilang. Aku sempat mengira dia sengaja mengalah buat aku.
Akhirnya aku ambil bagian ayamnya dan bilang, โTapi ini bukan yang aku mau, jadi jangan berpikir ini adil, ya. Aku maunya kulit.โ
Aku juga bilang kalau sebenarnya aku sadar selama ini dia sering memilih ayam yang ukurannya lebih besar. Menurutku, dia nyuruh aku duduk bukan semata-mata romantis, tapi supaya dia bisa memilih ayamnya duluan.
Jujur, selama ini aku nggak pernah mempermasalahkan hal itu. Bahkan dalam hati aku mikir, biarin aja dia dapat bagian lebih besar karena aku makannya sedikit. Aku juga pengin dia dapat sesuatu yang spesial.
Tapi aku berharap kalau salah satu dari kami dapat bagian lebih besar, itu bukan karena sengaja memilih yang paling menguntungkan diri sendiri. Apalagi kalau kejadian ini terus berulang. Aku selalu mengiyakan, tapi kok dia nggak merasa nggak enak, ya?
Akhirnya malah berujung dia marah karena merasa egonya tersentil waktu aku bilang dia sengaja nyuruh aku duduk supaya bisa memilih ayam lebih besar.
Dia bilang, kalau memang sengaja makan kulit ayamku, harusnya dia makan diam-diam, bukan terang-terangan di depanku. Dia juga mempertanyakan kenapa aku nggak langsung minta tukar ayam dari awal.
Padahal, pertama, aku memang memperhatikan kalau selama ini ayam dia selalu lebih besar. Kedua, dia makan kulit ayam itu saat aku pergi ke wastafel. Kalau dicocokkan dengan omongannya sendiri, bukankah itu berarti dia makan diam-diam? Ketiga, aku nggak minta tukar dari awal karena sebenarnya aku nggak terlalu mempermasalahkan. Tapi kok kejadian ini terus berulang? Apalagi saat aku kasih kode, dia sendiri yang bilang mau membagi kulitnya.
Jadi, aku pikir buat apa sampai harus tukeran ayam?
Jujur, aku sedih banget. Masa hal sekecil ini aja bisa jadi masalah? Tapi kenapa aku merasa dia perhitungan banget sama aku? Sebagai orang yang mengenal dia, dia memang tipe orang yang perhitungan. Dia nggak akan melakukan sesuatu kalau merasa nggak ada untungnya. Tapi kenapa sampai ke orang terdekatnya sendiri juga begitu?
Aku jadi punya masalah soal ketulusan karena dia juga sering bersikap seperti itu ke teman-temannya.
Padahal selama jadi pasangannya, aku nggak pernah mempermasalahkan kalau makanan yang dia pesan lebih enak daripada makananku. Aku juga nggak pernah menuntut harus selalu dapat bagian yang lebih besar, seperti konten-konten cewek yang sering tukeran makanan sama cowoknya.
Terus, daripada dia lebih dulu memikirkan egonya sendiri, kenapa dia nggak minta maaf dulu karena sudah kelupaan soal janji membagi kulit ayam tadi?
Sumpah, capek banget perkara beginian malah jadi debat. ๐ญ๐ญ Tapi ya, jangan sampai nggak adil juga, dong.
Ada yang pernah mengalami hal serupa? Gimana cara kalian tahu pasangan kalian benar-benar tulus sama kalian atau nggak?
Aku merasa prasangka burukku makin kuat karena aku sudah mengenal sifatnya. Jajanan yang aku beli pasti dia gigit atau minum lebih banyak. Apalagi kalau jajanan itu dia beli sendiri, tiba-tiba bisa habis dia makan semuanya. Jadi aku sering merasa rugi kalau urusannya makanan.
Iya, memang cowokku ini nggak merokok. Tapi kalau soal makanan, nafsunya juga besar banget. Sama-sama bikin aku geleng-geleng kepala karena kelihatannya nggak bisa mengontrol diri, semuanya dilahap begitu aja. ๐ญ
kalau kamu liat ada orang yg tiba-tiba kehilangan motivasi, bawaannya mau tidur aja, udah ga happy lagi ngelakuin hal yg dia suka sebelumnya.
udah mulai ngerasa lost spark, cepet bgt marah dan jadi sensitif triggered dengan small thing even dulu dia ga kayak gitu. udah start mengabaikan diri, pola makan ga dijaga, jam tidur pun ga cukup dan kacau balau.
itu sebenernya bukan karna dia malas, tapi mental dia udah totally burnout, kadang dia pun sampai ga ngenalin diri sendiri.
so please rest guys. kalau cape istirahat jangan sampai burnout. beneran ga worth it kalau udah burnout itu๐ฅฒ