Ini bentuk self-control yg mahal. Diam dr debat kusir itu bagian dr menjaga lisan agar gak ngerusak hati (qalb). Tapi dlm psikologi Islam, alangkah baiknya silent treatment diganti dgn tabayyun singkat dulu sebelum cut off, biar batasanmu jelas & gak jd beban di kamu.
@fajarrusalem Sudah soft gel. Harga vitamin affordable
ULTIGAR VITAMIN K2 D3 SUPLEMEN KESEHATAN ISI 100 KAPSUL LUNAK dengan harga Rp191.999. Dapatkan di Shopee sekarang! https://t.co/pwaNcBsHE1
@fajrek1 Nenek pernah bilang, " jangan sebab seseorang sudah tua lalu dianggap selalu benar karena telah melewati banyak hal dan kamu belum, Ndaru inget ya, orang bodoh bisa menua "
my beloved grandma,
@yappingfess Bukan nanya pengen tau, tapi nanya sambil nyeret opini ini
Kalau mau ngerti sistem haji, kuota tiap negara sama pengelolaan dana haji tuh ada penjelasannya kok. Beda antara ‘kritik’ sama ‘ngegas pake asumsi'
Guys, Felix Siauw baru ngomong sesuatu di podcast Helmy Yahya yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari seorang ustaz Indonesia dalam waktu lama.
Dan intinya satu kalimat yang langsung dilontarkan:
"Orang Indonesia tidak pernah menjadi Islam."
Bukan karena KTP-nya.
Tapi karena cara berpikirnya.
Masalah pertama
kita salah paham soal tawakal:
Felix kasih contoh yang sangat konkret.
Ada pesantren roboh.
Respons orang Indonesia:
"Qadarullah, ini takdir Allah."
Felix langsung potong:
itu bukan tawakal.
Itu kebodohan yang dibungkus agama.
Karena setiap insinyur teknik sipil yang melihat bangunan tiga lantai dengan pondasi yang salah sudah bisa prediksi itu akan roboh.
Tidak perlu menunggu roboh untuk tahu.
Dan kalau kita sudah tahu sebabnya tapi tidak dikerjakan lalu ketika roboh bilang qadarullah itu bukan pasrah pada Allah.
Itu menyalahkan Allah atas kelalaian kita sendiri.
Rasulullah memakai baju besi
dua lapis di medan perang.
Seorang sahabat tanya kenapa.
Jawabannya sederhana:
karena sebab akibat adalah bentuk tawakal yang sesungguhnya.
Bekerja sekeras mungkin baru serahkan hasilnya.
Masalah kedua
"enggak apa-apa mereka ambil dunia,
yang penting kita akhirat"
Felix bilang dia ingin kritik keras kalimat ini.
Karena logikanya terbalik total.
Cara masuk surga menurut ulama ada empat:
dengan ilmu,
dengan kekuatan,
dengan harta,
atau dengan doa.
Kalau kamu tidak punya ilmu,
tidak punya kekuatan,
tidak punya harta kamu hanya tersisa doa.
Dan kalau kamu bilang "yang penting akhirat" sambil tidak mengerjakan satu pun dari empat jalan itu dengan serius kamu sedang tidak mengejar akhirat.
Kamu sedang memakai akhirat sebagai alasan untuk tidak berusaha.
Rasulullah miskin bukan karena tidak bisa kaya.
Beliau miskin karena memilih memberi semua yang dimiliki kepada yang membutuhkan.
Miskin by choice bukan miskin karena tidak punya pilihan.
"Kalau dunia aja kamu enggak bisa nguasain,
jangan ngomong akhirat.
Akhirat itu lebih susah dari dunia."
Masalah ketiga
tidak ada critical thinking:
Ini yang paling mendasar dan paling merusak menurut Felix.
Ayat pertama yang turun kepada Rasulullah adalah iqra baca, berpikir, analisa.
Di saat itu bahkan tidak ada buku.
Tidak ada perpustakaan.
Artinya perintah iqra bukan sekadar membaca teks tapi perintah untuk berpikir kritis terhadap segala sesuatu.
Tapi apa yang terjadi di Indonesia?
Pertanyaan dibungkam.
Otoritas tidak boleh diganggu gugat.
Santri yang dilecehkan menerima
karena percaya itu "ritual penyucian."
Orang tua yang anaknya diperlakukan tidak wajar diam karena takut melawan ulama.
Felix bilang ini adalah abuse of authority yang masif dan akarnya adalah ketidakmampuan berpikir kritis yang sudah ditanamkan sejak kecil.
Padahal bahkan Rasulullah sendiri melatih sahabat untuk tidak buta taat.
Ada sahabat yang diperintahkan pemimpinnya masuk ke dalam api sebagai hukuman.
Mereka ragu dan datang bertanya ke Rasulullah.
Jawaban Rasulullah:
"Untung kalian tanya aku.
Kalau kalian masuk,
kalian tidak akan keluar selamanya."
Dari situ keluar hadis:
taatlah kepada makhluk selama tidak bermaksiat kepada Allah.
Artinya Islam dari awal mengajarkan untuk mempertanyakan bahkan otoritas.
Masalah keempat faktor struktural yang sering dilupakan:
Felix tidak hanya menyalahkan internal.
Ada faktor eksternal yang sangat besar yang tidak boleh diabaikan.
Di zaman kolonial Belanda,
ada sistem pembagian kelas berdasarkan akta kelahiran STBL.
Kelas pertama orang Eropa.
Kelas kedua orang Arab, India, Cina.
Kelas ketiga pribumi dan pribumi Muslim ada di posisi paling bawah.
Akta kelahiran itu menentukan siapa yang boleh sekolah di mana, siapa yang boleh masuk restoran mana, siapa yang boleh masuk pemerintahan.
Bukan soal kemampuan tapi soal sistem yang dirancang untuk memastikan satu kelompok tidak bisa mengakses kekayaan dan pengetahuan.
Itulah mengapa sampai hari ini di daftar orang terkaya Indonesia dan dunia dominasi Muslim sangat kecil dibandingkan populasinya.
Ini bukan semata karena etos kerja.
Ini juga karena sistem yang dibangun ratusan tahun untuk menutup akses.
Korelasi yang menarik antara keyakinan dan peradaban:
Felix membawa temuan arkeologi di Gobeklitepe, Turki bangunan berusia 11.000 tahun yang mendahului rumah dan ladang pertanian.
Para arkeolog menyimpulkan bahwa manusia tidak membangun keyakinan setelah perutnya kenyang.
Justru sebaliknya keyakinan dibangun dulu,
baru peradaban lain mengikuti.
Ini membalik teori lama bahwa agama
adalah produk kemakmuran.
Ternyata keyakinan adalah fondasinya.
Tapi ada yang salah kaprah.
Felix memisahkan dengan jelas:
bukan agamanya yang menentukan maju atau mundur suatu bangsa tapi kepedulian.
Romawi maju bukan karena agama tertentu tapi karena mereka peduli pada kotanya,
pada infrastrukturnya, pada warganya.
Ketika kepedulian itu hilang Romawi hancur.
Bukan karena Tuhannya berubah.
Felix menyimpulkan dengan satu pertanyaan keras yang ditujukan kepada dirinya sendiri dan seluruh ulama Indonesia:
"Rasulullah bilang ilmu dicabut dengan wafatnya para ulama. Ketika ulama pergi tanpa meninggalkan warisan berpikir yang benar yang terpilih adalah pemimpin-pemimpin bodoh.
Dan pemimpin bodoh membuat kebijakan bodoh yang menghancurkan umatnya."
Artinya yang paling bertanggung jawab atas kondisi umat bukan politisinya. Bukan penjajahnya. Tapi mereka yang seharusnya mendidik cara berpikir dan memilih untuk tidak melakukannya.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan podcast Helmy Yahya bersama Felix Siauw. Semua pandangan adalah pendapat pribadi narasumber dalam konteks diskusi keagamaan dan peradaban. Pembaca dianjurkan untuk memverifikasi referensi sejarah dan hadis dari sumber primer.
Karakter yg kami kagum sama adik ini
Pintar:terbukti jawaban dia benar
Sopan:terbukti ketika bilang "izin"
Gigih:terbukti ketika memperjuangkan keyakinannya
Berani:bahkan dia tau,siapa yg ada di depannya
Cerdik:terbukti ketika melibatkan penonton menguatkan keyakinan dia
ENGGAK MAU KABUR AJA DULU
Salah satu alasan bangga menjadi bagian dari Indonesia adalah karena negeri ini masih dipenuhi jiwa-jiwa mulia yang memandang rezeki bukan semata soal angka dan uang, melainkan tentang keberkahan, ketulusan, dan keikhlasan saat memberi.
Di tengah dunia yang semakin sibuk dengan hitung-hitungan untung rugi, bangsa ini masih memiliki banyak orang yang rela menolong tanpa syarat, membantu tanpa pamrih, dan berbagi tanpa menunggu balasan.
Inilah kekuatan sejati Indonesia. Bukan hanya kekayaan alamnya, bukan sekadar luas wilayahnya, tetapi hati rakyatnya yang tetap hidup dengan nilai gotong royong, kepedulian, dan kemanusiaan.
Selama semangat itu masih menyala di dada rakyatnya, Indonesia akan selalu menjadi bangsa besar yang layak dibanggakan.
📹: Adiabdilah.23
Tim Basarnas dan SAR gabungan berhasil mengevakuasi korban tabrakan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Dalam kondisi gerbong yang ringsek dan sempit, petugas dengan sigap menggunakan peralatan cutting dan lifting untuk menyelamatkan korban yang terjepit. Seorang korban terlihat telah mendapat perawatan awal dengan selimut emergency dan masker oksigen. Operasi evakuasi berjalan cepat dan berhasil diselesaikan dalam waktu kurang dari 12 jam.Hingga saat ini, seluruh korban telah dievakuasi. Mayoritas korban adalah perempuan. Beberapa meninggal dunia, sisanya dirawat di rumah sakit terdekat.Investigasi penyebab kecelakaan masih dilakukan oleh pihak berwenang.
@SistersInDanger Beritany udah dipecat kak. Jadi Jadi salah satu ortu ke-trigger kasus jogja dan dpt info salah satu pengasuh dipecat jadi penasaran knp dipecat dan jadi nge cek cctv yg mmg bisa diakses ortu. Dan pemkot sdh tutup izin beroperasi daycare
Guys, gue mau ceritakan kronologi kecelakaan kereta di Bekasi Timur secara detail karena dari semua yang beredar ada banyak informasi yang perlu disusun dengan benar.
Dan setelah lo baca semuanya gue yakin lo akan setuju bahwa ini bukan hanya tentang satu taksi yang salah tempat.
Kronologi menit per menit:
Senin malam, 27 April 2026. Sekitar pukul 20.40.
Sebuah taksi listrik jenis Green SM yang menggunakan armada Vinfast menerobos palang perlintasan kereta api di area Stasiun Bekasi Timur. Bukan karena ceroboh sembarangan.
Tapi kemungkinan besar karena pengemudinya berpikir masih sempat menyeberang sebelum kereta datang.
Tapi ada sesuatu yang tidak dia perhitungkan.
Dalam radius tertentu dari kereta yang mendekat rel kereta menghasilkan medan elektromagnetik bertekanan tinggi dari dinamo lokomotif.
Medan magnet ini bisa membuat sistem kelistrikan kendaraan mati total termasuk ECU atau electronic control unit yang mengontrol seluruh fungsi mesin.
Taksi listrik Green SM berhenti mendadak.
Tepat di atas rel.
Dan karena sistem keamanan baterai mobil listrik otomatis shutdown ketika mendeteksi anomali arus listrik mobilnya mengunci sendiri.
Tidak bisa didorong.
Tidak bisa dipindahkan.
Tidak bisa diapa-apain.
Warga panik.
Tidak ada yang bisa membantu karena memang secara teknis tidak bisa.
Lalu KRL pertama datang:
KRL Commuter Line menabrak taksi yang terjebak di atas rel.
KRL tersebut kemudian ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa dengan kode PLB 5181 artinya berhenti berdinas dan tidak bisa melanjutkan perjalanan.
KRL kedua PLB 5698 menuju Cikarang diperintahkan berhenti di peron Stasiun Bekasi Timur.
Menunggu.
Tidak bisa kemana-mana karena situasi di depannya kacau.
Dan di sinilah bencana sesungguhnya terjadi:
Dari arah Jakarta KA Argo Bromo Anggrek kereta jarak jauh Jakarta-Surabaya melaju dengan kecepatan tinggi.
Ada video yang beredar memperlihatkan sinyal di Stasiun Bekasi Timur masih berwarna hijau artinya jalur dinyatakan aman tepat sesaat sebelum tabrakan.
Masinis Argo Bromo melihat sinyal hijau.
Dia melaju.
Padahal di depannya KRL PLB 5698 sedang berhenti di peron.
Argo Bromo sudah mulai menurunkan kecepatan ketika menyadari ada sesuatu yang salah.
Tapi jaraknya terlalu dekat.
Kereta tidak bisa berhenti mendadak.
Fisikanya tidak memungkinkan.
Kereta dengan bobot ratusan ton yang melaju kencang membutuhkan jarak ratusan meter untuk berhenti total.
Tidak seperti mobil yang bisa ngerem mendadak.
Lokomotif Argo Bromo menembus masuk ke dalam gerbong belakang KRL yang sedang berhenti.
Dan gerbong yang paling hancur adalah gerbong nomor 12 — gerbong khusus perempuan:
Gerbong itu penuh dengan perempuan yang pulang kerja.
Ibu-ibu yang membawa cooler bag ASI.
Seorang perempuan yang baru selesai cuti melahirkan tiga bulan hari itu adalah hari pertamanya masuk kerja lagi.
Dan seorang perempuan lain yang sedang hamil hari itu adalah hari terakhirnya sebelum cuti melahirkan.
Penumpang terjepit di antara bangku dan badan gerbong yang penyok hancur berantakan. Ada yang terpental.
Ada yang nyangkut di atas.
Ada yang terjepit di bawah.
Proses evakuasi berlangsung belasan jam karena menarik lokomotif tanpa memastikan tidak ada yang masih terjepit di dalam bisa membunuh korban yang masih hidup.
Fakta korban yang terakhir dikonfirmasi:
15 orang meninggal dunia.
84 orang luka-luka.
10 jenazah masih dalam proses identifikasi di RS Polri Kramat Jati.
Evakuasi selesai pukul 08.00 pagi tanggal 28 April delapan jam setelah kejadian.
Soal sinyal hijau dan ini yang paling perlu diinvestigasi:
Kalau sinyal menunjukkan jalur aman saat KRL sudah berhenti di peron berarti ada kegagalan sistem yang sangat serius.
Sensor tidak mendeteksi keberadaan KRL yang berhenti.
Atau sensor mendeteksi tapi tidak mengubah sinyal.
Ini adalah pertanyaan yang harus dijawab oleh KNKT dalam investigasi resmi.
Dan jawabannya akan menentukan apakah ini murni human error dari sopir taksi atau ada kegagalan sistemik dari infrastruktur sinyal KAI.
Soal ormas yang tolak palang otomatis dan ini yang paling mengerikan:
Ada informasi dari netizen belum dikonfirmasi KAI bahwa palang pintu di lokasi itu masih manual dan tidak menutup semua jalur karena ada ormas yang menolak pemasangan palang otomatis.
Kalau ini benar maka pertanyaannya adalah: bagaimana sebuah ormas bisa memiliki kekuatan untuk menolak infrastruktur keselamatan di jalur kereta aktif yang dilalui puluhan ribu penumpang setiap hari?
Siapa yang mengizinkan itu?
Siapa yang membiarkan itu berlangsung?
Dan berapa lama kondisi itu sudah ada sebelum akhirnya menelan korban?
Soal Green SMdan ini yang blunder:
Pernyataan pertama Green SM setelah kejadian:
tidak ada permintaan maaf.
Tidak ada bela sungkawa.
Hanya menyatakan mereka sudah memberikan informasi kepada pihak berwenang dan siap mendukung investigasi.
Komentarnya dibatasi.
Netizen marah besar.
Baru kemudian Green SM mengeluarkan pernyataan kedua yang menyampaikan duka cita.
Dan soal Menteri PPPA yang usul pindahkan gerbong perempuan ke tengah:
Gue sudah bahas ini secara terpisah.
Tapi dalam konteks kronologi ini pernyataan itu menjadi lebih tidak masuk akal lagi.
Gerbong perempuan hancur bukan karena posisinya di ujung.
Tapi karena di situlah titik impak terjadi.
Kalau gerbong laki-laki yang di sana laki-lakilah yang mati.
Itu bukan solusi keselamatan.
Itu distribusi korban berdasarkan gender.
Tiga pertanyaan yang harus dijawab oleh investigasi KNKT:
Satu — kenapa sinyal bisa tetap hijau saat KRL sudah berhenti di peron? Ini adalah pertanyaan paling kritis tentang sistem sinyal KAI.
Dua — apakah benar palang pintu di perlintasan itu masih manual dan tidak menutup semua jalur karena tekanan ormas? Kalau iya siapa yang bertanggung jawab selama ini?
Tiga — apakah ada protokol yang jelas untuk situasi kendaraan mogok di atas rel yang melibatkan mobil listrik? Karena ini bukan pertama kalinya terjadi dan tidak akan jadi yang terakhir kalau tidak ada standar prosedur baru.
Kronologi kecelakaan ini dimulai dari satu taksi listrik yang menerobos perlintasan dan tersangkut karena medan elektromagnetik. Tapi yang membuat 15 orang meninggal bukan hanya sopir taksi yang lalai.
Yang membuat 15 orang meninggal adalah akumulasi dari kegagalan sistemik yang berlapis-lapis:
Perlintasan sebidang yang masih ada di jalur kereta cepat. Palang yang mungkin tidak menutup semua jalur. Sistem sinyal yang kemungkinan tidak mendeteksi KRL yang berhenti. Dan respons sistem yang tidak cukup cepat untuk mencegah Argo Bromo menghantam KRL.
Satu taksi adalah pemicu. Tapi sistemnya yang memungkinkan satu pemicu kecil menghasilkan bencana sebesar ini.
Dan selama pola penangalannya masih "bentuk satgas setelah ada korban, umumkan anggaran setelah ada yang mati" maka kita hanya menunggu kronologi berikutnya untuk ditulis.
Sumber: Kamar Jeri