"Hindari Berkata Kasar ke Suami, Istri dan Anak-anak"
Kadang dalam kehidupan berkeluarga, kadang ada pernik-pernik kecil yang menyebabkan amarah. Ledakan amarah sering membuat kita lepas kontrol, lepas kendali. Kata-kata kasar dan sikap kasar berhamburan.
Apa yang menyebabkan semua itu terjadi? Tak ada kesabaran dan kesadaran ketika mengerjakan sholat.
Loh, apa hubungannya mengerjakan sholat dengan laku amarah di luar sholat? Jelas ada. Kait mengkait.
Allah menegaskan di surat Albaqarah ayat 45
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ
"Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk".
Kalau kita mau minta pertolongan ke Allah, syarat yang diajukan Allah dengan sabar dan sholat. Sabar di luar sholat dan sabar di dalam sholat.
Sabar di luar sholat, salah satunya sabar menghadapi istri, suami dan anak-anak.
Sikap istri atau suami juga anak-anak, kadang menyempal dari standar etika dan adab. Niretika, niradab. Dari lakunya, perkataannya, kadang membuat kita marah.
Menghadapi situasi seperti ini, Allah meminta kita sabar. Tak perlu melakukan kekerasan fisik dan kekerasan kata-kata.
Sabar di dalam sholat, harus ada kesadaran akan perlunya sikap tuma'ninah ketika mengerjakan sholat. Sikap ini bisa mewujud jika ada kesadaran dan kesabaran dalam sholat, baik gerakan atau bacaannya. Jangan terburu-buru. Yang tenang dan sabar. Ada hadis Nabi Muhammad yang berbunyi seperti ini:
وَن��هَانِي عَنْ نَقْرَةٍ كَنَقْرَةِ الدِّيكِ وَإِقْعَاءٍ كَإِقْعَاء�� الْكَلْبِ وَالْتِفَاتٍ كَالْتِفَاتِ الثَّعْلَبِ
"Beliau melarangku sujud dengan cepat seperti ayam mematuk, duduk seperti duduknya anjing, dan menoleh-noleh seperti rusa." (HR Imam Ahmad)
Sholat itu melembutkan hati dan laku lampah kita sehari-hari. Ini bisa terjadi jika syarat sholat bisa kita penuhi. Apa itu syarat sholat? Khusyu dan khudu. Khusyu itu bertendensi ke laku hati, khudu itu bersandar ke gerak jasad ketika sholat.
Jika komponen khusyu dan khudu terpenuhi, insya Allah ada kelembutan dalam tutur kata dan laku kita.
Kita sering membaca umpatan babi, anjing dan monyet di dunia medsos ketika ada orang yang menyakiti diri kita. Saking sakitnya, keluarlah umpatan babi, anjing dan monyet. Umpatan ini bisa jadi karena kita sekadar mengerjakan sholat, tidak mendirikan sholat.
"Mereka orang-orang Non Islam sudah berlebihan menghina ajaran Alquran".
Alasan itu sering jadi pembenaran terkait umpatan-umpatan kita. Tetap saja itu cerminan kita tak sabar di dalam sholat. Mungkin masih bisa menggunakan kata bloon, bodoh atau jahil. Tapi kalau sampai ada umpatan babi, anjing dan monyet, itu bisa jadi refleksi terkait sholat kita, ya sekadar sholat.
Dan bisa jadi ketika marah di ruang keluarga, umpatan-umpatan itu keluar untuk istri, suami atau anak-anak kita. Bisa jadi penyebab perpisahan.
"Amalan Ya Latief"
Ada amalan dari sufi masyhur kelahiran Persia, Syeikh Abu Yazid Al-Busthami. Amalan itu mendawamkan bacaan Ya Latief, 129 kali dalam sehari. Allah Maha Lembut, begitu arti dari Ya Latief (asmaul husna).
Syeikh bergelar Sulthanul Arifin ini, selalu mengingatkan pentingnya menegakkan syariat: sholat, puasa dll. Menurut Syeikh Abu Yazid, jangan kagum kalau ada orang bisa terbang sebelum kita melihat laku orang tersebut. Sholat gak? Puasa gak?
Kapan dibacanya? Kapan saja. Yang penting sehari 129 kali. Apa alasan harus 129 kali? Gak usah masuk ke area ini. Itu wewenang orang yang memberi amalan.
Itu seperti pertanyaan kenapa ketika usai sholat membaca tasbih, tahmid, takbir dan tahlil, 33 kali? Itu domain Nabi. Amalkan saja.
Yuk ah sholat dengan khusyu dan khudu. Memang berat laku ini tapi dicoba saja. Kadang khusyu, kadang sama sekali gak khusyu.
Mulailah pembenahan wudhu kita, tahu dan paham bacaan sholat kita. Insya Allah imbasnya ke laku diri agar tak bertutur dan berkata kasar.
Yakinlah, sholat itu melembutkan hati kita