Di media sosial, seorang pria bernama Yurizal Tri Chaerawan menuliskan keluhannya dengan tentang. “8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs.” Ia sudah mendapat penanganan awal, tapi kamar inap tak kunjung tersedia.
Delapan jam menunggu di rumah sakit rujukan nasional, tubuh yang lelah dan sakit menuntut tempat berbaring.
Yurizal tak menyebut nama rumah sakit. Ia hanya ingin ruang. Bukan kemewahan. Hanya tempat untuk dirawat.
Alih-alih mendapat empati, kolom komentar berubah jadi medan hujatan. Netizen, termasuk beberapa yang mengaku dokter dan tenaga kesehatan, menyerbu. Ada yang mencaci. Ada yang merendahkan.
Ada yang lebih kejam lagi. “Kalo full, mau dipindahkan kemana ? mau di lantai? Gk ada hubungannya sama BPJS atau nggak BPJS yang make banyak, otomatis yg dirawat juga banyak, ga cuma u sendiri. Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong. Ngeselin dah, nakes/RS bahkan pemerintah melalui BPJS berusaha bantuin, masyarakatnya malah gini.”
Kalimat itu dilontarkan akun yang teridentifikasi sebagai dokter alumni FKUI. Ruang jenazah. Selalu kosong. Seolah kematian adalah solusi praktis bagi pasien yang berani mengeluh.
Ironi pahit datang pada 31 Juli 2026. Yurizal dinyatakan meninggal dunia. Kondisinya sudah gawat, penanganan terlambat. Sepupunya kemudian mengungkap, “Yurizal sender ini sepupu saya, sudah meninggal 31 Juli kemarin karena terlambat RS tangani karena sudah gawat banget. Maafin sepupu saya kalau curhat begini di Threads. Sebelumnya dia sakit enggak pernah cerita ke mana-mana, bahkan ke keluarga. Sudah ya, jangan ada hate lagi di sini.”
Kata-kata sumpah serapah netizen yang sebagian adalah dokter dan nakes itu seolah menjadi kenyataan. Ruang jenazah yang “selalu kosong” akhirnya ditempati Yurizal.
Mereka yang berani menyuruh pasien pindah ke sana kini harus menatap fakta bahwa orang yang mereka hina telah pergi selamanya.
Lebih menyakitkan lagi, salah satu pengomentar adalah dokter penerima beasiswa LPDP, dr. Elda Putri Rahardini, alumni UGM. Ia menulis, “PP nya kayak orang Have tapi aslinya Haven’t kah? haven’t some brain cells.”
Seorang awardee yang dibiayai uang rakyat, dididik dengan standar tinggi, justru memilih merendahkan kapasitas berpikir pasien yang sedang sekarat menunggu kamar.
Komentar itu memicu gelombang kemarahan lebih besar. Publik mempertanyakan sumpah dokter, etika, dan moral. Setelah viral dan Yurizal wafat, Elda akhirnya meminta maaf. Tapi maaf datang setelah nyawa telah hilang, setelah luka di keluarga sudah menganga.
Tanggapan netizen dan sebagian dokter saat pasien BPJS mengeluh memperlihatkan wajah keras sistem. Banyak yang langsung menyalahkan pasien, seolah antre delapan jam adalah kesalahan pribadi.
Sebagian nakes terkesan jengah, seakan keluhan itu menyerang profesionalisme mereka. Padahal tak menutup kemungkinan, di balik layanan BPJS, para dokter dan tenaga kesehatan sendiri hanya menerima bayaran yang jauh lebih tipis dibanding penanganan pasien umum.
Klaim yang lama, tarif yang rendah, beban kerja yang tinggi, semua itu bisa menumpuk rasa frustrasi. Namun frustrasi bukan alasan untuk melempar kata-kata yang menyuruh pasien ke ruang jenazah.
#yurizal #BPJS #dokter #hujatan #viral BM
Jadi gini, ada "paper" berjudul Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by the National Nutrition Agency Building Smart Business for Food Security Industry and Indonesia's Economic Growth
Isinya... Program MBG yang diinisiasi oleh BGN diusulkan atau dinominasikan untuk Nobel Peace Prize 2026
Pertanyaannya... kok bisa?
Nah, dokumen ini menjabarkan beberapa alasannya, antara lain,
- Ketahanan pangan adalah bentuk dari infrastruktur perdamaian.
- Kelaparan dan gizi buruk dianggap sebagai indikator awal dari kerentanan sosial yang bisa memicu ketidaksetaraan dan konflik.
- Dengan menjamin ketersediaan makanan bergizi, negara dianggap melindungi martabat manusia, menciptakan keadilan sosial, dan mencegah konflik struktural, yang sangat sejalan dengan semangat penghargaan Nobel Peace Prize.
Menariknya... dari 69 lembar, isinya itu hanya 15 halaman. Sisanya adalah lampiran berisi bukti-bukti administratif seperti
- paket surat pengajuan resmi ke Komite Nobel Norwegia
- pendaftaran Hak Cipta (copyright) untuk publikasi riset/buku terkait, serta
- daftar panjang akademisi dan tokoh penting yang terlibat, termasuk Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron
#intinyadeh ada pasien BPJS ngeluh di Threads udh 8 jam nunggu blm dpt ruangan.
Dihujat, dikatain miskin, disuruh serangan jantung, iris nadi aja biar cepet, ke kamar jenazah aja, dll. Termasuk oleh dokter2.
Trus keluarganya ngabarin klo ybs meninggal, diduga telat ditangani.
Lo baca lanjutannya deh. Di situ dia jelas menulis bahwa itu faskes rujukan satu-satunya yang punya alat untuk kondisi medis dia. Baca tuh yang lengkap, cek profile dia gitu lho. Dia mau pindah ke mana lagi? Lo baca tidak bahwa dia disuruh pindah ke kamar mayat dan alam lain?
Dari bahasa yang dia gunakan dia cuma menulis dua kalimat.
Kalimat pertama "Delapan jam belum dapat ruangan." Ini sebuah fakta. Ini kenyataan yang dia hadapi.
"Ga mau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS," ini dia namanya sadar diri. Dia tau dia membutuhkan jasa RS (lewat program BPJS) tersebut sehingga besar kemungkinan bahwa dia tidak ingin nama RS tersebut jelek.
Opini apa yang digiring di sini? Bahwa dia delapan jam tidak dapat ruangan? Bahwa dia tidak spill nama RSnya? Bahwa dia menggunakan BPJS?
Pun dia tidak sekalipun menyinggung tenaga medis dan kesehatan. Nakes dan named di Threads aja yang baper dan julidnya kebangetan. They can go fuck themselves.
Beda pandangan ya boleh aja, but make it make sense.
"Kalau mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong."
Seorang dokter meluapkan kesalnya di akun seorang pasien yang mengeluh lama tak dapat kamar di media sosial.
Hitungan hari, pasien itu betulan meninggal.
Alhasil, dokter itu dkk jadi sasaran amarah netizen.
Ga bakal expect kalimat ini keluar dari ketikan seorang dokter, padahal pasien cuma ngeluh belum dapet kamar. Jahat bgt ketikannya.
Al-Fatihah untuk almarhum.
welcome to ✨WALL OF FAME✨ jejak digital para manusia minim empati.
kita mulai dari yang pertama dulu ya
ada dr. Elda Putri Rahardini, M.D., Ph.D., alumni UGM dan penerima beasiswa LPDP.
semoga setelah ini jadi lebih bijak ya dokter 🥰
@cenblubaik Sementara pembully lain minta maaf, dr. Benny Christian ini masih nantangin Netizen. Nakes lain, Yang awalnya nantangin, begitu medsos tempat kerjanya diseruduk netizen, langsung jiper.
nih list manusia minim empati
1. dr Elda Putri Rahardini, M.D., Ph.D., alumni UGM dan penerima beasiswa LPDP
2. dr. Benny Christian Sihombing, anak guru asal Sumatera Utara yang merupakan alumni fakultas kedokteran UI.