Rape is caused by one thing:
A rapist.
Not her clothes.
Not alcohol.
Not flirting.
Not walking home alone.
Not trusting the wrong person.
Stop interrogating the victim’s choices and start blaming the person who chose to rape.
@dynautami@seralia_00@phenylephr17@uegetsu kan dia udh bilang urgensi nya udah beda sama jaman nabi dan sahabatnya dulu, dulu urgensi nya itu jelas. sekarang konteks nya udah geser dan mostly praktikal nya ga sesuai tujuan awal. lu mending diem soalnya lu bawa gadun buat jadi “urgensi” lu, argumen lu ga valid.
@phenylephr17@dynautami@uegetsu oiya makesense, intinya lu minta gue untuk lebih objektif liat case nya tnpa generalisasi. fair point, bagus sih lu tetep bisa liat 2 sisi, berempati tapi juga tetep stay objektifitas biar ga asal generalisasi. rare perspective, thanks ya gue jadi belajar sisi yang lain :3
@_ID_corp@primrosepoem@uegetsu gaada korelasi nya sama apa yang gua bahas, gua bahas relevansi sosial & urgensi nya poligami di era sekarang. knp lu ngalor ngidul bahas laki suka laki, cewe jomblo, ga nyambung.
@phenylephr17@seralia_00@dynautami@uegetsu lah ya kenapa ga lu coba deep talk sama pasangan lu? kenapa dia merasa gamau memenuhi hub biologis tsb? apa dia sakit? apa dia ngerasa ga happy jd gamau lagi? coba dengerin pasangan lu & coba ngerti “kenapa?” nya bukan malah poligami berdasarkan nafsu lol
@phenylephr17@dynautami@uegetsu Allahuakbar,
kalau tolak ukur lu adalah “memenuhi nafsu biologis”, nafsu manusia itu ga akan pernah ngerasa cukup kak. tanpa ada self-control dan niat ibadah yang bener, alasan “biologis” ini cuma jadi pintu masuk buat mereka terus mencari pembenaran tanpa batas
men who don’t harm women aren’t special. Men who don’t cheat aren’t exceptional. Treating women as equals isn’t heroic. Cooking and caring for their own kids isn’t “help,” it’s responsibility. This is the baseline stop applauding men for the bare minimum.
@dynautami@uegetsu lol perempuan zaman dulu jelas punya mimpi yang besar & value nya sendiri, masalahnya kan mereka ga ada wadahnya? gada opportunity nya? struktur sosial ga kasih mereka kesempatan. paham ga sih?
@dynautami@uegetsu kalo contoh ‘urgensi’ yg lu bawa dari awal aja udah salah kaprah (hawa nafsu/gadun) gimana argumen lu mau valid? nyegah zina itu solusinya kontrol diri, bukan malah dijadiin ‘urgensi’.
@dynautami@uegetsu gak ada yang ga setuju sama hukum agamanya, yg dikritisin kan pergeseran konteks dan penyalahgunaannya. syariat sendiri yang ngasih syarat mutlak harus adil, kalau syarat utama itu sengaja ditabrak cuma demi pembenaran nafsu ya wajar kalau relevansi penerapannya dipertanyakan :c
@dynautami@uegetsu ngindarin zina itu urusan kontrol diri, Beralasan poligami 'demi hindari zina' cuma ngalihin mudharat pribadi jadi mudharat baru buat keluarga yaitu ngerugiin istri pertama dan memicu ketidakadilan. Niatnya ngilangin satu dosa, malah numpukin zalim baru lol
@dynautami@uegetsu dari waktu lu bawa istilah gadun buat membenarkan poligami daripada zina aja lu udah matahin argumen lu sendiri. gadun itu murni impuls seks & materi, bukan diplomasi, bukan pembatasan bijak, apalagi perlindungan sosial kan? jelas dong klo poligami emg udh ga relevan?
@dynautami@uegetsu poin lu bener soal pembatasan dan variabel diplomasinya, tapi secara praktikal dan relevansi sosial di era modern ini, kasus poligami sekarang udah bukan soal kemanusiaan atau perlindungan sosial, kebanyakan cuma ngikutin nafsu. kaya contoh yg lu sebutin diawal yaitu gadun~~