[ 🇮🇩 INA GO @gojiajan ] help rt !!
MARK INSPIRED ITALIAN BRACELET by troublekiddco
🔗 FORM ORDER (isi ini dulu ya) : https://t.co/dTnUJLB4pH
🔗 FORM CICILAN : https://t.co/8DfaF4kwnp
📢 details about order on the gform!
[ 🇮🇩 INA GO @gojiajan ] help rt !!
MARK INSPIRED ITALIAN BRACELET by troublekiddco
🔗 FORM ORDER (isi ini dulu ya) : https://t.co/dTnUJLB4pH
🔗 FORM CICILAN : https://t.co/8DfaF4kwnp
📢 details about order on the gform!
[ 🇮🇩 INA GO @gojiajan ] help rt !!
MARK INSPIRED ITALIAN BRACELET by troublekiddco
🔗 FORM ORDER (isi ini dulu ya) : https://t.co/dTnUJLB4pH
🔗 FORM CICILAN : https://t.co/8DfaF4kwnp
📢 details about order on the gform!
[ 🇮🇩 INA GO @gojiajan ] help rt !!
MARK INSPIRED ITALIAN BRACELET by troublekiddco
🔗 FORM ORDER (isi ini dulu ya) : https://t.co/dTnUJLB4pH
🔗 FORM CICILAN : https://t.co/8DfaF4kwnp
📢 details about order on the gform!
[ 🇮🇩 INA GO @gojiajan ] help rt !!
MARK INSPIRED ITALIAN BRACELET by troublekiddco
🔗 FORM ORDER (isi ini dulu ya) : https://t.co/dTnUJLB4pH
🔗 FORM CICILAN : https://t.co/8DfaF4kwnp
📢 details about order on the gform!
hi tmeen2!! ☺️ aq bkin aplikasi grammar corrector yang 1000% gratis, unlimited & suprot 180+ bahasa di dunia 😭
cocok bnget bwt tmen2 #zonauang yg punya cust luar atau siapapun yg suka raguu klau mau nulis ssuatu dalam bahasa asingg,, 🤗🫰🏻
project lama yg hidup kembali ,,😭🫰🏻🫰🏻
Kartinian should never be celebrated with lomba memasak atau lomba apapun yang berhubungan dengan pekerjaan domestik… Kartinian itu diselebrasi dengan elu-elu pada (perempuan) hak-haknya didenger, marahnya divalidasi, upahnya dinaikkin, dan bebannya dikurangin. THAT IS KARTINIAN
Kartini was so hated during her era thats why perjuangan beliau direduksi dengan mendomestifikasi figurnya pada hari ulang tahunnya. Bener-bener cara paling brengsek rezim ini menindas perempuan
Empat syarat Kartini sebelum (terpaksa) mau dipoligami:
1. Boleh mendirikan sekolah & mengajar untuk putri di Rembang, melanjutkan cita-citanya memajukan pendidikan perempuan.
2. Penolakan adat feodal dalam upacara pernikahan: tidak mau berjalan jongkok di belakang suami, tidak berlutut, tidak menyembah/mencium kaki suami.
3. Kesetaraan bahasa: berbicara dengan suami menggunakan bahasa Jawa Ngoko (bahasa sehari-hari setara), bukan Krama Inggil (bahasa hormat yang menunjukkan hierarki istri lebih rendah).
4. Boleh membawa ahli ukir dari Jepara ke Rembang untuk mengembangkan kerajinan secara komersial sebagai kegiatan ekonomi perempuan.
Semua syarat ini (sangat progresif & radikal pada masa itu) dipenuhi oleh calon suaminya, Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat.
Kartini melihat poligami sebagai bentuk penindasan terbesar terhadap perempuan. Ia menyaksikan langsung penderitaan ibunya, Ngasirah, yang dimadu oleh ayahnya. Dalam surat-suratnya, ia menulis dengan getir bahwa tak ada perempuan yang bahagia dimadu, & laki-laki yang memadu kehilangan kehormatan. Poligami dianggapnya sebagai "dosa" yang membuat perempuan menjadi saingan dan korban, sementara laki-laki bebas. Ia juga menolak pernikahan paksa dengan orang asing yang belum dikenal, karena cinta sejati harus dimulai dari rasa hormat, bukan paksaan adat.
Namun, pada 1903, Kartini di usia 24 tahun (dianggap perawan tua yang memalukan keluarga ningrat pada masa itu) terpaksa menikah dengan Raden Adipati Ario Djojoadiningrat, Bupati Rembang yang jauh lebih tua (~25 tahun) & sudah punya 3 istri (salah satunya baru meninggal) karena tekanan budaya feodal priyayi pada masa itu & karena ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, sakit serta terus "dibully" teman-temannya karena anak perempuannya belum menikah.
“Saya telah berjuang, bergulat, menderita, dan saya tidak dapat menjadikan nasib celaka Ayah, dan dengan demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai." (Surat Kartini kepada Abendanon, 14 Juli 1903)
Meski seumur hidup menentang poligami & pernikahan paksa, Kartini terpaksa mengalahkan idealismenya, terpaksa menanggalkan egoismenya, serta harus berkompromi dengan realitas sosial feodal Jawa demi menjaga kehormatan ayah & keluarga yang dicintainya.
Tekanan budaya feodal & partriarkis kelas priyayi pada masa itu terlalu kuat & ketat, di mana poligami & pernikahan paksa merupakan norma adat (diperkuat ajaran agama), sehingga meskipun Kartini sempat menolak keras, beliau kalah, beliau akhirnya terpaksa menerima pernikahan poligami itu.
Kartini tetap melanjutkan perjuangan emansipasi & pendidikan perempuan dari dalam pernikahan, meski hanya berlangsung singkat karena beliau wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya pada pada 17 September 1904 di usia 25 tahun.
Penyebab utama kematiannya adalah komplikasi persalinan, diduga akibat preeklampsia (tekanan darah tinggi pada kehamilan yang dapat memicu kejang dan kegagalan organ). Tragedi ini sangat ironis karena Kartini baru saja mulai mewujudkan cita-citanya setelah menikah, yang salah satu visinya tentu saja untuk meningkatkan akses kesehatan yang lebih baik bagi perempuan, khususnya kesehatan reproduksi & maternal (masa kehamilan, persalinan, & pasca melahirkan).
Alfatihah untuk Ibu Kartini, damai di surga 🌹🌷🌼💐🌺🌸🪻
always be the one who sends flowers to my friends, so he made sure i got one too. he bought me books from my tbr list, told me he’s proud of me after i did a stressful tasks, & gave me beomgyu’s album when i finished my thesis ( & many more ) 🥹🫀