Bro to bro
Dari first date
atau bahkan chat / telponan pertama kali,
Cewek udah bisa ngerasain,. lu bakal berpotensi jd cowoknya,
apa cukup temen aja
mirip perilaku alami sel telur yg memilih sperma, bukan sperma tercepat yg masuk.
Tapi sel telur yg milih sel sperma mana yg boleh masuk.
Bad news :
Mereka tetep minta lu effort meski mereka tau kalo mereka gak doyan sama lu ๐๐
Bad news lagi ?
Lu mau mau aja. Trus ngamok kalo udah habis duit banyak tetep ditolak ๐
Be rich. But never talk about money. Be fit. But never talk about working out. Be sharp. But never mention books. You're a man. Never let excitement make you announce things prematurely. Stay low-key and move silently. you'll never regret it.
MAKASIH ORANG BAIK!! ๐ฅน๐ซถ๐ป gw baru tau kalo ada jasa arsitek yang affordable!!!๐ธ
Bagi yang mau buat rumah boleh nih dicoba tips abangnya ๐ซต๐ป
Guys, Leon Hartono baru balik dari Singapura dan dia nemuin satu hal yang bikin dia mikir keras.
Rata-rata orang Singapura punya kekayaan Rp7,5 miliar.
Jadi kata dia Pemerintah Singapur tuh Paksa Rakyatnya Jadi Miliarder
Bukan orang kaya.
Bukan CEO.
Bukan entrepreneur.
Orang rata-rata.
Profesional biasa.
Manajer.
Pegawai kantoran.
Mediannya?
Rp1,9 miliar.
Buat konteks Indonesia kita sekitar 25 sampai 30 kali lebih rendah dari angka itu.
Dan yang lebih menyakitkan gap ini makin lebar dari tahun ke tahun.
Di 1970 GDP per kapita Singapura cuma 11 kali lipat lebih besar dari kita.
Sekarang udah 18 kali lipat.
Artinya mereka tumbuh lebih cepat dari kita bukan cuma lebih kaya tapi makin jauh meninggalkan kita.
Dan rahasianya bukan cuma soal korupsi rendah atau negara kecil.
Ada satu program yang jarang dibahas tapi ini yang beneran jadi mesin kekayaan massal di Singapura.
Namanya HDB Housing Development Board.
Kalau lo pikir ini cuma rusun untuk orang miskin lo salah total.
HDB itu bukan program perumahan.
Ini program distribusi kekayaan.
Begini cara kerjanya.
Orang Singapura bisa beli apartemen HDB dengan diskon 50 sampai 60% dari harga pasar.
Rumah yang harusnya lu bayar Rp1 miliar lo cuma bayar Rp400 sampai Rp500 juta.
Dengan bunga fixed 2,6% selama 25 tahun.
Bukan floating rate yang bisa naik kapan aja.
Fixed. Dua koma enam persen.
Dua puluh lima tahun.
Di Indonesia bunga KPR kita berapa?
10% ke atas.
Floating.
Seringkali yield sewa properti kita pun cuma 2-3% jauh di bawah bunga pinjamannya.
Jadi properti di Indonesia secara matematis nggak bisa bayar dirinya sendiri.
Di Singapura?
Properti yang cicilan bulanannya sekitar Rp14 juta bisa disewain Rp40-50 juta sebulan.
Propertinya bayar dirinya sendiri dan masih ada sisa.
Dan ini contoh nyata yang Leon kasih:
Teman SD-nya beli apartemen HDB 60 mยฒ di tahun 2016 seharga 350.000 dolar Singapura.
Bayar dulu cuma 5%.
Empat tahun nunggu sambil kuliah dan awal karir.
Serah terima 2020.
Baru mulai nyicil.
Sekarang 2026 apartemennya dijual di harga 850.000 dolar Singapura.
Capital gain: 500.000 dolar.
Sekitar Rp5,5 miliar.
Dan dia baru nyicil 6 tahun dari 25 tahun.
Artinya dia baru bayar sekitar 120.000 dolar tapi udah dapat keuntungan lebih dari 4 kali lipat modal yang dia keluarkan.
Lu baru bayar sedikit, dalam waktu singkat lu udah dapat 45X upside.
Sistem ini dirancang buat semua fase hidup.
Waktu muda beli yang kecil.
Keluarga berkembang jual, beli yang lebih besar, tetap dapat harga subsidi.
Per keluarga bisa dua kali.
Setiap kali jual, dapat capital gain.
Setiap kali beli, tetap dapat diskon.
Dan kalau mereka udah tinggal sama orang tua HDB-nya disewain.
Uang sewanya jauh lebih besar dari cicilan.
Passive income masuk, cicilan lunas, masih ada sisa.
Lihat datanya dan ini yang paling nyesek:
Untuk 20% warga Singapura paling bawah secara pendapatan 93% kekayaan mereka berasal dari HDB dan CPF yang adalah program pemerintah.
Bukan dari kerja keras ekstra. Bukan dari investasi saham pintar. Tapi dari program yang pemerintah design khusus supaya rakyatnya kaya.
Dan semakin lo naik ke bracket pendapatan yang lebih tinggi porsi HDB dan CPF makin kecil karena mereka udah bisa bikin kekayaan sendiri. Tapi buat yang di bawah pemerintah hadir dan bikin mereka naik kelas.
Sekarang balik ke Indonesia. Dan ini yang bikin gue nggak enak hati.
Program 1 juta rumah kita fokusnya affordability supaya orang bisa beli rumah. Itu bagus. Tapi berhenti di situ.
Nggak ada design untuk capital gain. Nggak ada bunga fixed jangka panjang yang masuk akal. Nggak ada sistem upgrade yang terstruktur. Nggak ada mekanisme supaya properti bisa bayar dirinya sendiri.
Kita bikin program supaya orang punya rumah. Singapura bikin program supaya orang punya kekayaan.
Bedanya itu yang bikin rata-rata orang Singapura jadi miliarder sementara kelas menengah Indonesia makin terjepit.
Yang Leon sarankan dan ini masuk akal:
Nggak harus langsung seluruh Indonesia. Mulai dari Jakarta. Mulai dari Surabaya. Bikin program perumahan terjangkau di lokasi strategis dengan skema yang dirancang bukan cuma untuk tempat tinggal tapi untuk membangun kekayaan kelas menengah.
Kalau pemerintah mau hadir bukan cuma untuk yang paling miskin tapi untuk kelas menengah yang sering kali justru paling nggak dapat apa-apa ini bisa jadi titik balik.
Tapi selama program perumahan kita masih didesain hanya untuk charity dan bukan untuk wealth building gap antara kita dan Singapura akan terus melebar.
Dan 50 tahun lagi kita mungkin masih ngomongin hal yang sama.
"Kok Singapura bisa, kita nggak bisa?"
Kalau mau melek finansial, coba mulai dari belajar soal Opportunity Cost analysis sebagai fondasi.
Karena banyak orang keuangannya ga naik2 karena kebiasaan mengelola keuangannya yang buruk.
Misal, baru punya 100juta langsung beli mobil harga 100juta. Itu harganya belinya gak 100juta. Tp 215juta.
Kok bisa? Karena bayangin si 100juta ditaro di saham/reksadana, dapet 8% setahun, maka 10 tahun (usia mobilnya rusak) bisa jadi 215juta dengan compounding interest. Kan opportunity cost analysis. Jika ditaroh di X, hasilnya gimana dibanding ditaroh di Y?
Let that sink in.