Yes. Per The Intercept (internal Meta docs): Israel's gov't requested removals of posts supportive of Iran, critical of Israel, & missile impact footage during the recent war. Meta complied with some.
Separately, leaked data showed Meta acted on Israeli requests to remove over 90k posts (mostly anti-Israel/pro-Palestine) since Oct 2023, at ~94% rate. Standard gov't flagging process; Meta says it reviews by policy.
Boleh. Salah satu hal yang sering tidak disadari orang tua adalah bahwa banyak anak tidak takut pada matematika, tetapi justru takut pada pengalaman belajar matematika yang mereka alami.
Beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan:
1. Kurangi pertanyaan "berapa hasilnya?"
Dan lebih sering tanyakan:
- "Kamu dapat jawaban itu dari mana?"
- "Menurutmu kenapa begitu?"
- "Ada cara lain nggak?"
Tujuannya agar anak melihat matematika sebagai proses berpikir, bukan lomba cepat menjawab.
2. Biasakan membahas perkiraan (estimasi)
Misalnya:
- "Menurutmu antrean ini sekitar berapa menit?"
- "Kalau kita jalan kaki ke sana kira-kira berapa langkah?"
- "Menurutmu ada berapa permen di toples itu?"
Estimasi adalah salah satu bentuk nalar matematis yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
3. Jangan buru-buru memperbaiki jawaban salah
Saat anak salah, coba tanyakan:
"Boleh ceritakan cara berpikirmu hingga sampai pada jawaban ini?"
Sering kali kesalahan justru memperlihatkan bagaimana logika anak bekerja. Yang seperti itu jauh lebih berharga daripada sekadar mengetahui jawaban benar. Kita juga jadi bisa mengoreksi/meluruskan logika yang kurang pas.
4. Mainkan permainan yang melibatkan strategi seperti catur, congklak, Uno, Sudoku, puzzle, permainan kartu, bahkan tebak-tebakan logika.
Banyak konsep matematika tumbuh dari kebiasaan mencari pola dan membuat keputusan, bukan dari lembar latihan.
5. Tunjukkan bahwa orang dewasa juga menggunakan matematika. Misalnya saat berbelanja:
- membandingkan harga,
- menghitung diskon,
- memperkirakan waktu tempuh,
- membagi makanan.
Anak perlu melihat bahwa matematika adalah alat berpikir orang dewasa, bukan sekadar mata pelajaran sekolah.
6. Rayakan cara berpikir, bukan hanya jawaban benar
Daripada bilang, "Pintar, jawabannya benar."
Cobalah pernyataan seperti, "Aku suka cara kamu mencoba tiga strategi berbeda sebelum menemukan jawabannya." Hal ini membantu anak mengaitkan matematika dengan usaha dan penalaran.
7. Kenalkan pola sebelum rumus
Misalnya sebelum menghafal perkalian, kenalkan pola bilangan:
2, 4, 6, 8, ...
5, 10, 15, 20, ...
Biarkan anak menemukan polanya sendiri. Rumus akan lebih masuk akal jika lahir dari pola yang sudah mereka lihat.
Yang paling penting adalah bahwa matematika awalnya bukan tentang angka. Matematika adalah kebiasaan bertanya "kenapa?", "bagaimana?", dan "apakah selalu begitu?"
Kalau anak sering diajak berpikir seperti itu sejak kecil, saat bertemu pecahan, aljabar, atau kalkulus nanti, mereka tidak melihat matematika sebagai monster dan akan melihatnya sebagai bahasa untuk menjelaskan pola yang sudah lama mereka kenal.
@premierleague ini kayak niru watak @ValeYellow46 kalo race. Sampe akhiiir banget baru juaranya ketahuan. Males juga kalo tiap tahun begini, tapi lebih males kalo yang juara satu punya gap 20 poin dari yang di bawahnya.
Nevertheles, bandar tetap juara sejatinya.
Instead of watching an hour of Netflix, watch this 2-hour Stanford lecture on AI careers. It will teach you more about winning in the AI race than all the AI content you’ve scrolled past this year.
International law didn’t die in Venezuela this week, it’s always been an illusion, a conceit of the West - to justify our atrocities to ourselves - and a deceit on the rest of the world. International law and the ‘rules based’ order have never been universally applied, only selectively. Donald Trump - and this is the height of irony - is simply more honest than his predecessors, he makes plain what America has always been about - itself.
Take the Iraq invasion, one million people killed under the false pretence of a threat to the West, with UN resolutions providing ‘legal’ cover - driven by the USA. Afghanistan - another regime change, another invasion, more atrocities, more UN ‘legal’ cover but what was it really for? A failure to extradite a wanted man to the USA…actually, and American fury at 9/11, and the desire for revenge. Libya, regime change. Iran, Yemen, the list goes on...
With the exception of Israel - a country that ignores UN resolutions and international law and all concepts of morality, in its half century long invasion and creeping occupation of Palestine. Mass murder, starvation, ethnic cleansing and Genocide. Its leader is wanted for war crimes - what does the West do about that? Nothing. Europe plays football with them, trades with them and arms them.
Now we have Venezuela - a terrorist attack, 100 dead, a kidnapped leader, regime change and a naked oil grab. The West can’t even find the courage to condemn this. A blatant breach of all we supposedly hold dear - international law, rules based system, blah blah blah…
China’s industry is a different beast 🤯
Every product and its supply chain are tied to one huge city the size of a nation, Eric explains.
This is why other nations can’t compete with China.
Inilah first look TEASER dari film horor komedi GHOST IN THE CELL dari penulis dan sutradara Joko Anwar yang bertabur bintang. Karya ke-12 Joko Anwar setelah Siksa Kubur dan Pengepungan di Bukit Duri. Tayang di bioskop 2026.
#GhosInTheCell#ComeAndSeePictures