Kalimat “cuma sedikit” adalah bentuk menormalisasi kekerasan yang selalu dipake negara untuk lari dari tanggung jawab. Mulai dari kasus MBG sampai kekerasan di pesantren.
Padahal satu kasus aja udah terlalu BANYAK.
Cari solusi, nyawa manusia bukan sekedar angka statistik!
I agree. Panggilan "sayang" itu sakral, buatku. Maknanya dalam seperti samudera, nggak ada yang bisa mencapai ujungnya, karena sudah "sayang". It really means that, "I love you wholeheartedly," no doubt, no need reason. Just because you're my "sayang", I would give you the world.
Ini kenapa (jika jenis pekerjaannya bisa) kebijakan WFH atau mix WFH/WFO perlu diterusin. Jalanan macet, antri kereta kayak gini, belum panas terik ga ngotak.
Kerjaan ga butuh-butuh amat ke kantor, tapi harus ngantor. Ya mati di jalan.
Seminggu sekali WFH jg gpp kali.
Triliyunan perhari..... gila banget.
Bayangin ini dana bisa dipake benerin sekolah2 yg ga layak, fasum dan bahkan hal2 lain yg lebih penting. Atau bahkan gaji guru agar menjadi lebih layak 🥺
Kita liat aja akan bertahan sampai kapan. Totally craZZZZZY.
Murid videokan MBG, langsung dilarang. Guru parodikan MBG, langsung dilarang. Kemudian muncul larangan-larangan memposting MBG di sekolah. Orang tua, guru dan sekolah ditekan agar ikut bertanggung jawab jika MBG bermasalah.
Sampai ketika guru dan siswa keracunan. Rumah sakit yang memberitakan, kebenaran tidak bisa dibungkam.
Orang tua/ masyarakat selalu menemukan solusi dalam situasi buruk.
Buka MBG, masukan kembali dalam tempat bekal, buang setelah pulang sekolah. Semata-mata menyelamatkan anaknya dari keracunan tanpa harus menyinggung pemerintah yang punya program.
Mestinya sadar, malah ceramah jangan lelah mencintai Indonesia, ceunah.