Los terroristas sionistas israelíes de las FDI matan a un niño palestino de 14 años. Necesitamos que este video se vuelva viral. Compártelo.
#CIJ_ICJ 🇵🇸🌎⚖️
Guys, ada satu fakta tentang IKN yang menurut gue paling memalukan dan paling jarang dibahas secara jujur.
IKN proyek terbesar yang pernah ada dalam sejarah Indonesia modern sudah resmi ditunda sebagai ibu kota negara.
Dan penyebabnya bukan karena bencana alam.
Bukan karena perang.
Bukan karena force majeure apapun.
Penyebabnya adalah:
Keppres pemindahan ibu kota tidak pernah keluar.
Bayangkan skala masalah ini:
Ratusan triliun rupiah sudah dihabiskan.
Infrastruktur dibangun.
ASN dipaksa pindah.
Pejabat-pejabat tinggi sudah berkantor di sana.
Seluruh narasi tentang Indonesia Maju 2045
dibangun di atas proyek ini.
Tapi satu dokumen paling fundamental Keputusan Presiden yang secara resmi memindahkan ibu kota tidak pernah ditandatangani Jokowi sampai masa jabatannya berakhir.
Ray Rangkuti menyebutnya dengan sangat tepat: Jokowi terlalu bernafsu.
Bernafsu membangun.
Bernafsu mengeluarkan uang.
Bernafsu memotong pita.
Bernafsu tampil di depan kamera di tengah hutan Kalimantan dan bilang ini adalah masa depan Indonesia.
Tapi untuk menandatangani dokumen yang secara hukum memindahkan ibu kota yang merupakan satu-satunya hal yang paling penting dari seluruh proyek itu tidak pernah terjadi.
Dan ini yang paling mengerikan:
Tanpa Keppres pemindahan ibu kot secara hukum Jakarta masih ibu kota Indonesia.
Sampai hari ini.
Apapun yang sudah dibangun di Kalimantan secara konstitusional belum menjadi apa-apa kecuali proyek konstruksi yang sangat mahal.
Amien Rais sudah menyebutnya:
IKN sekarang mangkrak.
Dalam bahasa Jawa muspr terbengkal tidak terpakai.
Berapa puluh triliun yang sudah masuk ke lubang itu?
Dan ini sambungkan dengan kondisi sekarang:
Anggaran pendidikan dipotong 44% untuk MBG.
Guru honorer masih digaji di bawah UMP.
Rupiah di Rp17.600.
IHSG ambruk.
Investor asing kabur.
Defisit Q1 sudah Rp240 triliun.
Tapi ratusan triliun sudah terkubur di hutan Kalimantan untuk proyek yang dokumen hukum fundamentalnya tidak pernah ditandatangani oleh presiden yang memulainya.
Dan Prabowo sekarang mewarisi semua ini:
Prabowo tidak memulai IKN.
Tapi dia sekarang yang harus memutuskan:
lanjut dengan biaya yang terus membengkak atau akui bahwa ini adalah salah satu kesalahan terbesar dalam sejarah pengelolaan anggaran negara Indonesia.
Tidak ada pilihan yang mudah.
Karena apapun yang dipilih rakyat yang sudah membayar ratusan triliun untuk proyek ini tidak akan mendapat uangnya kembali.
Dan yang paling menyakitkan:
Jokowi sudah pensiun.
Sudah turun gunung untuk PSI.
Sudah keliling kabupaten kota untuk 2029.
Tapi tagihan dari keputusan-keputusan yang dia buat IKN yang mangkrak, utang yang menumpuk, sistem yang makin rusak itu yang harus dibayar oleh rakyat yang tidak pernah ikut memutuskan apapun.
Terlalu bernafsu membangun.
Tidak cukup serius menyelesaikan.
Dan yang menanggung akibatnya bukan yang memulainya.
Bapak itu memang tidak paham artinya proses. Ketika dia punya ide yang menurutnya bagus, dia ingin ide tersebut segera dieksekusi. Secepatnya.
Dari awal mbrojol ke dunia ini ia sudah dapat privilege.
Lahir dari keluarga kaya raya. Apapun keinginannya pasti terpenuhi. Tidak perlu guling-guling tantrum seperti anak-anak lain agar dibelikan mainan.
Sudah melanglang buana ketika teman-teman sebayanya masih berjibaku dengan revolusi dan krisis moneter.
Ketika lulus akademi, langsung mempersuting putri penguasa. Karir militernya langsung moncer. Pernah jadi jenderal termuda sepanjang sejarah.
Lalu ketika negaranya bermasalah, dia dengan mudah pindah ke negara lain. Hidup nyaman dengan perlindungan seorang raja.
Ketika pulang, langsung jadi petinggi salah satu parpol yang saat itu masih jadi parpol nomor satu. Nggak perlu jadi kader rendahan dulu dan berjuang dari bawah.
Gagal menguasai parpol tersebut, dia bikin parpol sendiri, dengan dana dari keluarga yang sukses dikelola oleh adiknya.
Gagal di 2009, ia pun mulai melirik sosok kontroversial yang namanya saat itu sedang melejit dan jadi idola berkat mobil bodong yang konon katanya sudah diinden 6000 unit. Ia bawa sosok yang kemudian jadi masalah bagi negara itu ke ibukota.
Suara parpolnya pun melesat, walaupun akhirnya orang yang ia bawa itu kemudian jadi lawan politiknya.
Berkali-kali gagal pilpres, ia pun menyerahkan jiwa dan raganya pada orang yang sudah bikin negara porak poranda, demi mendapatkan jabatan yang sudah ia impikan sejak remaja.
Walaupun untuk meraih cita-citanya itu butuh waktu lama—tidak sepenuhnya instan, dan mungkin layak disebut proses, tapi proses yang ia lewati adalah proses yang penuh privilege, penuh kemudahan, tanpa perlu berkeringat. Dia hanya berkorban banyak uang, itu pun bukan uang yang ia kumpulkan sendiri.
Ketika dia dapat ide saat berpidato, dia ingin besoknya idenya itu segera dilaksanakan, karena menurutnya tidak ada yang sulit di dunia ini. Sebuah optimisme yang lahir dari sebuah keistimewaan, bukan perjuangan. Tidak perlu riset. Tidak perlu kajian ilmiah. Tidak perlu uji kelayakan. Tidak perlu dengarkan penjelasan para ahli.
Pokoknya eksekusi.
Contoh ketika ia asal ngomong menurunkan tarif potongan ojol hanya sekian persen, besoknya negara buru-buru membeli saham salah satu aplikator yang kondisinya saat itu sedang sakit, demi bisa mewujudkan omonannya.
Aplikator tidak mungkin sanggup begitu saja menurunkan tarif karena untuk bisa terus eksis, mereka telah dan masih banyak membakar uang untuk biaya promosi dan operasional. Ada perang yang harus mereka menangkan. Potongan ojol dipangkas, promo hilang. Harga jual jadi mahal. Konsumen berkurang. Penghasilan ojol pun menurun. Akhirnya balik lagi ke awal.
Masih banyak janji dan ide lain yang ia lontarkan saat pidato yang di mata anak buahnya jadi semacam perintah. Tapi kalau saya jembrengi semua, nanti kalian jadi tahu siapa orangnya. Bahaya.
Perkerjaan besar yang dikerjakan dengan cara terburu-buru, hasilnya jarang sekali yang memuaskan. Dari seratus, kemungkinan berhasil hanya sebelas. Persentase keberhasilannya kecil sekali.
Dan negara harus membayar mahal atas ide-ide tersebut.
Sumber: Wendra Setiawan
Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.
Sudah 24 thn pernyataan Pak JK terkait surga dan neraka bagi pihak-pihak yg bertikai di Poso dan tdk ada masalah karena itu adalah fakta. Kenapa stlh Pak JK minta Jokowi tunjukkan ijazah asli, kok Geng Solo ngamuk ? Ayo mari kita kompak bongkar kasus ijazah Jokowi dan Gibran !!