“What’s on your mind, Lex?”
“Enggak… tadi cuma abis one-on-one sama Ko Chris,” ujarnya jujur.
“Ditegur gara-gara playlist hipdut,” masih jujur.
“Terus ya…. dimarah-marahin.” Bohong besar di hari Minggu.
“Siapa?” tanya Baskara cuek yang mampir sebentar cuma untuk makan mi instan soto kesukaan Alex berduaan di kamar sang gadis.
“Mas-mas yang numpahin cimol ke sepatu gue.”
“Oh.”
Cueknya Baskara kali ini membuat Alex bernapas lega.
Baskara heran sendiri. Sebenarnya sudah sadar sejak ia menjemput Alex tadi. Berdiri diam saja, bibirnya digigit-gigit sendiri. Di perjalanan, dilihat dari spion, Alex juga melamun sambil gigit bibir. Masak mi pun, bibirnya masih jadi korban dari giginya.
Closingan biasanya buat Alexandria bisa bernapas lega sedikit. Artinya harinya di Seracik sudah hampir selesai, tinggal beres-beres dan me-reset tempat kerjanya sebelum ia cabut bersama rekannya yang lain.
“Lo kenapa sih??? Abis dimarahin Pak Regi?” tanya Saras sambil menyapu, selagi Alex mengelapi meja.
“Hah? Oh, eh….. hehe iya, gak boleh 𝘯𝑎𝑦𝘬𝑖𝘭𝑎 lagi gue,” sok cuek.
Padahal nama Reginald yang muncul saja sudah buat jantungnya hampir jatuh ke kaki.
@Northingveil Kuncinya jatuh dari kantong, diambil lagi, dan kali ini dimasukkan lebih dalam.
“Mas udah ya! Makasih sepatunya—oh, ntar WA aja kalau jadi!” ucapnya cepat-cepat sebelum ngebirit lari.
@Northingveil
@Northingveil “Eh, anjir, aduh, Mas, sorry, kayaknya gue udah harus cabut-” Alex sudah makin panik, agak mual sudah ditagih one-on-one dengan bosnya.
“Also, mau lah. Ayo jajan bareng, sekalian makan siang kali Jumat depan di sekitar Kemanggisan? Eh, aduh…”