@bbygukies Kalo udah kepalang bayar bisa juga ada prosedur untuk refund gitu.
Pokoknya jangan takut kalo g bisa bayar UKT, asal kita jujur akan data ekonomi kita pasti ada jalan, bisa juga konsul sama kesma or LK untuk prosedur detail or bahkan bisa cari beasiswa.
@bbygukies Selain mandiri bisa banding keringanan UKT, dan biasanya nanti kalo gak sanggup bayar UKT bisa isi form penangguhan UKT, nah itu kaya nunggak bayar UKT gitu, ada juga opsi kaya sebagian bayar or kaya cicil dulu, sembari nanti kita urus proses buat banding keringanan.
@mwwehehehehehe@shiromewo Dan satu lagi ITB banyak beasiswa dan ikatan alumni cukup kuat untuk bantu mahasiswa yang kekurangan. Masalah terbesar justru dari tekanan akademik, itu yang bikin banyak mahasiswa gugur.
@mwwehehehehehe@shiromewo Dan banding UKT ITB logis dan gak sesulit kampus lain, dan seperti yang saya bilang, gak pernah denger ada kasus DO karena g ada UKT ya karena kita g bayar UKT pun masih bisa lanjut kuliah sambil ya harus dipenuhi administrasi penangguhan ukt dan bandingnya.
@mwwehehehehehe@shiromewo Tapi udah terlanjur, semoga adiknya bisa dapet kuliah yang terbaik, kalo kipknya masih masalah coba konsul dengan guru bk or tanya harus konsul k siapa untuk bisa d ubah or d survey ulang untuk desilnya. Setau saya itu bisa d urus.
@mwwehehehehehe@shiromewo Nah justru itu kalo daftar KIPK dari sebelum bukaan SNBP kalo ada salah2 data masih bisa d urus untuk d revisi datanya, makanya saya bilang banyak yang baru daftar KIPK pas udah jalan SNPB or SNBT yang alhasil kalo ada salah data ya udah susah buat ngurusnya,
@mwwehehehehehe@shiromewo Kalo misal gagal turun dan masih g mampu bayar masih bisa banding lagi, dan bisa nunggak bayar, tapi biasanya jelas UKT akan ditetapkan dengn pemasukkan dan aset2 lain, dan seperti yang saya bilang, saya gak pernah denger ada anak ITB yang d DO karena g bayar UKT.
@mwwehehehehehe@shiromewo Sistem UKT ITB dari awal mulai ada namanya UKT, beda dengan kampus lain yang harus submit data ekonomi lengkap baru d tetapkan UKTnya, di ITB UKT awal sistemnya dibuat flat semua, nah terus buat yang merasa keberatan baru bisa banding minta keringanan dengan diminta data lengkap
@mwwehehehehehe@shiromewo Yang banyak sulit untuk lolos kipk adalah yang daftarnya telat, padahal kalo dari awal d urus jika ada kurang atau apa bisa banding sampai lolos sebelum daftar undangan. Tapi sekali lagi jika kondisi ekonomi dan desil sesuai setau saya pasti lolos
@mwwehehehehehe@shiromewo Bahkan bisa turun sampai cuma 500K kalo data ekonomi dan interviewnya sesuai.
Kalo KIPK sebenernya kesalahan banyak orang baru daftar setelah atau baru daftar kipk pas mau daftar. Padahal KIPK itu bisa d urus dari awal kelas 12, dan kita udah bisa tau kita akan dapat kipk or tdk
@mwwehehehehehe@shiromewo Kalo jalur mandiri beda cerita lagi, karena kan dari awal jalur mandiri dibuat salah satu tujuannya untuk subsidi silang, ya meski yang kipk masih bisa daftar juga, dan jalur reguler lainpun uktnya sekarang kan gak flat bisa dapet ukt sesuai golongan juga.
@shoF_x W angkatan lama sii tapi jujur menurut w circle ITB yang jarang ditemuin di circle lain non ITB adalah kita suka tiba2 bahas "akademik" lol kaya tiba2 bahas teori nobel, or bahas diskusi tentang teknologi apa or ya bahas riset masing2 wkwkwk, mungkin beberapa bakal annoying sii
@ganesaspace Klo udah bisa ngajar Les mending ngajar les2an banyak bimbel2 yang mau recruit anak2 ITB ratenya dibayar per jam tergantung berapa banyak dan tingkatan apa.
@haikalstr Mungkin kita baru bisa liat setelah 5-10 tahun, sisa berapa orang yang masih bertahan didunia "akademik" dan berapa orang yang milih jadi influencer dan founder2an.
Ditambah pas nonton ini, emang disatu sisi bagus "menginfluence" yang lain untuk ikut berprestasi, tapi harapannya mereka gak lupa dan gak tergiur buat jadi influencer over than bakat mereka. Emang influencer easy money. Tapi ilmu bukan sesuatu yang bisa ditukar dengan uang.
Huft.. ternyata bukan cuma w yang mikir gini. Bukan cuma COC sebenernya, dulu w berkecimpung didunia olim, ketemu banyak anak2 jenius Indo, tapi gak jarang pas lulus SMA memilih jurusan d luar bidangnya. Lebih memilih jurusan yang mungkin secara prospek kerja lebih baik. [Cont]
have never watched COC but the takeaway i have is we do not have a lack of smart young people in Indonesia - how do we get them to work on solving interesting problems that improve our country instead of becoming influencers?
Tapi di lubuk hati suka mikir, padahal mereka "gifted" kalau aja mereka tetap dibidangnya mendalami itu bukan gak mungkin suatu saat akan ada peraih nobel dari Indo. Emang sii bukan they responsibility, tapi tetep itu tuh kerugian ketika potensi tidak dimanfaatkan.