Ketika bantuan sosial dikaitkan dengan data survei, muncul kemungkinan di mana responden sengaja menurunkan laporan pengeluarannya. Tp, sbnrnya memanipulasi data pengeluaran scr konsisten jauh lebih sulit daripada memanipulasi data pendapatan.
Gampangnya, survei Susenas BPS kan nyatet puluhan hingga ratusan item konsumsi (dari beras, rokok, hingga pulsa dan listrik). Berbohong lintas puluhan variabel ini sangat rentan menghasilkan inkonsistensi logis yang bisa dideteksi. Selain itu, enumerator dilatih untuk melakukan observasi silang kayak misalnya responden mengaku pengeluaran listrik sangat kecil, namun di rumah terlihat ada kulkas dan TV yang menyalan terus2an.
Terus soal possibility perubahan rezim subsidi (kyk BBM atau LPG) dapat mendistorsi indeks harga dan memberikan sinyal kesejahteraan yang keliru. Untuk menghitung Garis Kemiskinan (GK), BPS kan nggak murni mengandalkan Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI) agregat nasional. BPS menggunakan keranjang komoditi yang spesifik (52 komoditi makanan & 51 non-makanan) berdasarkan pola konsumsi populasi rujukan (kelompok masyarakat kelas bawah, bukan rata-rata nasional).
Dengan memisahkan bobot ini, inflasi yang dihitung BPS untuk menentukan GK jauh lebih mencerminkan real cost of living bagi kelompok miskin, sehingga bias dari perubahan subsidi yang dinikmati kelas menengah bisa diminimalisir.
Instrumen GK memang didesain scr spesifik untuk menilai kemampuan bertahan hidup hari ini, bukan kerentanan di masa depan.
Apakah orang tersebut bisa makan 2100 kkal hari ini? Jika ya, dia bukan miskin scr absolut. Buat ngukur kerentanan ekonomi, BPS dan perumus kebijakan memiliki instrumen analisis turunan lainnya,seperti "rentan" dan semisalnya.
Memang tdk ada single metric yang sempurna, namun kombinasi pendekatan pengeluaran yang dilakukan Indonesia saat ini adalah salah satu adaptasi metodologi terbaik untuk negara berkembang.
Kira2 ada yg belum kejawab gak ya
Sebenernya yg bikin sedihnya lg: kenapa ya saat defending case KS, kita seringkali perlu bawa narasi “bayangin kl itu terjadi ke ibu/kakak/adik/pasangan kalian” dulu cuma utk nyadarin hati nurani laki-laki about how fucked up sexual violence is.. Why isnt basic humanity enough :(
Kita lg menyaksikan sejarah (proyek korup sistematis paling besar di sejarah Indonesia)
Ak ingat dulu pas korupsi e-ktp yg 2 triliun. It truly feels VERY big and massive. Tapi sekarang? 1,5 hari MBG 😂