Hari ini. Sejumlah preman, sekira 400an org suruhan PT PMC, menyerang warga Sukajaya Bogor. Ada 7 warga & pendamping yg jd korban kekerasan, yg mana salah seorang mengalami luka bacok di wajah. FYI di Sukajaya terdapat konflik agraria yg cukup lama antara PT PMC & warga.
Jadi begini.
Orang-orang mengoleksi buku. Mereka bilang itu karena cinta. Cinta pada pengetahuan. Cinta pada kata-kata. Cinta pada kertas yang bau aneh.
Mereka beli buku. Banyak buku. Buku-buku itu duduk di rak, rapi, tertutup, perawan. Hampir tidak pernah dibuka. Hampir tidak pernah dibaca. Mereka hanya dipamerkan, seperti piala yang tidak pernah dimenangkan dalam pertandingan apa pun.
Begitulah adanya.
Nilai buku? Orang bilang akan naik. Seperti saham. Seperti tanah. Tapi kebanyakan tidak. Mereka turun. Pelan-pelan. Diam-diam. Seperti harapan. Kecuali yang langka sekali, yang pernah disentuh orang mati terkenal, sisanya cuma kertas mahal yang semakin murah setiap tahun.
Begitulah adanya.
Buku-buku itu makan tempat. Mereka menduduki dinding. Mereka menekan lantai. Mereka memaksa manusia menyamping, membungkuk, minta maaf. Rumah yang dulu lega jadi gudang. Manusia yang dulu bebas jadi penjaga gudang.
Debu datang. Jamur datang. Serangga datang. Sinar matahari datang. Semuanya bekerja sama untuk membunuh buku pelan-pelan. Bau yang orang sebut nostalgia? Itu bau kematian. Bau kertas yang sedang busuk dengan sabar.
Begitulah adanya.
Ada garis tipis antara mengoleksi dan menimbun. Garis itu sering hilang. Orang tidak sadar sampai rak sudah penuh, uang sudah habis, dan tetangga mulai bergunjing. Lalu mereka bilang, βIni hobi.β Padahal sudah penyakit.
Komunitasnya kecil. Mereka bicara soal first edition dan dust jacket asli seolah dunia akan kiamat kalau ada yang salah. Orang di luar hanya menggeleng. Orang di dalam hanya tersenyum. Kedua belah pihak sama-sama bodoh dengan caranya masing-masing.
Pada akhirnya manusia mengoleksi buku supaya merasa pintar. Supaya merasa memiliki makna. Sementara halaman-halaman itu tetap tertutup. Menunggu. Diam. Dan pelan-pelan membusuk.
Begitulah adanya.
Dan begitu seterusnya.ββββββββββββββββββββββββββββββββββββββββββββββββββ
Sayalah salah satu orang bodoh itu hhe.
Reminder buat tenaga medis:
Pasien BPJS itu bukan dapet gratisan. Mereka udah 'investasi' tiap bulan pas sehat demi bisa dapet pelayanan pas sakit, sehatpun tetep bayar BPJS, Treat them with respect
@acebuttolol Padahal kalau dibedah syarah hadisnya (Imam Nawawi), itu majas/kiasan. Hadis itu sebenarnya sentilan keras buat laki-laki agar kontrol matanya, bukan nyamain wanita sama setan. Niatnya melarang syahwat liar, tapi sayangnya sering disampaikan tanpa konteks yang utuh
Masalahnya, Indonesia lebih terbiasa beradaptasi daripada bermitigasi. Budayanya βlihat nanti sajaβ. Kalau selamat, syukur. Kalau nggak selamat, ya takdir.
Aku juga pernah mikir, mungkin aku harus "beres" dulu sebelum bisa serius sama siapa pun.
Harus stabil dulu, harus gk overthinking dulu, harus gk punya luka dulu. Tapi makin dewasa aku sadar, manusia mana sih yang bener bener tanpa luka...
Halo temen temen, ada yang lagi berniat mau donor darah?
Papaku butuh transfusi darah rutin dan dari RS diharuskan barter 2 kantong darah sama 2 pendonor. Meanwhile kami udah donor dan baru bisa donor 3 bulan lagi. Kalau ada yang willing buat donor please lmk! π₯Ί
Palestine is still going through a genocide and I barely see anyone talking about them. Cuba is still facing a severe socioeconomic and humanitarian crisis. Sudan is still facing a severe civil war. 1.6k+ people have been killed due to Ebola. Speak up about them.
Weekend : Pelukis di Bundaran HI
Weekday : Penjual roti di Dukuh Atas
Muhammad Yusuf (16) buka jasa gambar bayar sesukanya dan hasilnya bagus banget!
Sempat putus sekolah & hanya tinggal berdua dengan ibunya, dia jualan roti buatan ibunya π₯Ή
katanya doa kalo diaminkan 40 orang gampang di ijabah?
kudoakan siapa saja yang mengaminkan doa ini, diberi rezeki seluas samudera, diberi kemudahan melunasi segala hutang, sehat wal afiatttttttt dan hidup bahagia pastinya π₯Ήπ