@AMFFoead Sudah pernah baca utas ini dr awal sampe akhir bbrp tahun lalu.
hari ini mencoba membaca lagi setelah meninggalnya ibuku bbrp hari yang lalu, rasanya jadi tenang karna tau beliau sudah ditempatkan ditempat terbaik, terimakasih utasnya
Puncak penghambaan adalah ketika bersujud.
Kepala, anggota tubuh tertinggi, simbol kehormatan, kecerdasan, dan kemuliaan, diletakkan pada posisi yang rendah hingga menyentuh tanah tempat berpijak.
Menunjukkan betapa lemahnya diri.
Hanya Dia Yang Maha Segalanya.
Urusan agama, hemat saya, selagi tidak menabrak hal yang sifatnya prinsip, dipermudah saja untuk khalayak umum.
Terkadang yang rumit bukan pada ajarannya, tetapi ada soal pada yang menyampaikan ☺️
Allah Belum Selesai Menulis Ceritamu
Jadi gini…
“Kalau aja dulu saya diterima di situ, mungkin hidup saya udah hancur sekarang.”
Pernah nggak sih kamu mikir gitu?
Dulu kamu nangis karena ditolak, dipecat, ditinggal, atau gagal total. Eh pas dilihat lagi, justru itu yang nyelamatin kamu. Yang kamu kira mimpi buruk, ternyata malah jadi penyelamat diam-diam.
Pertemuan kecil yang kamu anggap biasa aja, bisa-bisa ubah seluruh arah hidup kamu.
Hidup emang nggak sesederhana “berhasil” atau “gagal” di satu titik doang.
Dalam Islam, hidup itu bukan foto statis. Ini film panjang yang terus muter. Al-Qur’an berulang kali bilang: jangan buru-buru judge kejadian.
Lihat Nabi Yusuf. Dibuang ke sumur? Tamat riwayat. Dijual budak? Masa depan gelap. Dipenjara? Kelar sudah.
Tapi sumur itu justru tangga naik. Penjara itu malah pintu menuju kekuasaan. Satu episode nggak pernah jadi ending cerita.
Gimana dengan kamu? Apa sumur versi kamu yang bikin kamu merasa dibuang?
Yang bikin orang depresi itu bukan susahnya. Tapi karena dia kira susah itu ada di seluruh hidupnya. Padahal hidup masih gerak terus.
Hari ini kamu diremehin? Bisa aja besok orang-orang yang dulu ngomong “dia nggak akan jadi apa-apa” justru antri minta nasihat sama kamu.
Hari ini kamu dipecat? Bisa jadi paksaan buat nemuin potensi yang selama ini kamu kubur.
Hari ini patah hati parah? Nanti kamu ketawa sendiri inget betapa “duniamu runtuh” cuma karena orang yang ternyata nggak seharusnya kamu pertahankan.
Dulu kamu buat keputusan salah dalam hidup kamu sampai orang lain ikut susah? Iya, tapi bukan berarti otomatis kamu selamanya jadi orang jahat. Kamu masih bisa kok memperbaikinya.
Imam Al-Ghazali bilang, manusia sering ketipu sama pandangan sesaat. Seolah ya guys…Kita lihat hidup cuma dari lubang kunci, lalu langsung ngomong “game over”.
Padahal waktu itu guru terbaik.
Jadi jangan terlalu sombong pas lagi di atas. Jangan juga hancur lebur pas lagi di bawah. Cerita kamu belum tamat.
Banyak hal yang baru kamu pahami bertahun-tahun kemudian. Dan sering kali, yang kamu sebut “kehancuran” dulu, ternyata cuma pintu masuk ke versi kamu yang jauh lebih baik.
Santai aja. Allah masih nulis lanjutan ceritanya…
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Di musim semi di Jepang, bunga sakura bermekaran dengan tenang. Tidak ada suara. Tidak ada pengumuman. Tapi semua orang berhenti sejenak untuk melihat.
Keindahannya nyata. Tapi singkat.
Dalam ajaran Siddhartha Gautama, ini adalah anicca. Segala sesuatu muncul. Lalu berubah. Lalu lenyap.
Sakura tidak berusaha bertahan.
Ia tidak melawan waktu.
Ia mekar sepenuhnya. Lalu gugur dengan tenang.
Kita sering sebaliknya.
Ingin yang indah tetap tinggal.
Takut kehilangan.
Sulit melepas.
Padahal hidup bekerja seperti sakura.
Yang datang akan pergi.
Yang mekar akan gugur.
Saat kita mulai menerima itu, batin jadi lebih ringan.
Tidak lagi menggenggam terlalu keras.
Tidak lagi takut saat sesuatu berakhir.
Sakura tidak kehilangan maknanya saat gugur.
Justru di situlah keindahannya lengkap.
Dan mungkin, hidup kita juga begitu.
@AMFFoead Its meee... Kalo situasi udah terlalu memancing kekesalan dan bikin stress mencoba inget "its just the Sims in real life" ku cuma harus jalanin misi di dunia, jadi org baik, bener, cari solusi, dah beres. Ga perlu emosi bgt dan overthinking, walau kadang kecolongan wkwk