Pas futur baca ini :
"Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk, maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik, dan tanpa keyakinan. Karena Tuhan yang dengan rahmatNya tetap menerima mata uang palsumu"
ยคMaulana Jalaludin Rumiยค
Rasanya tu...Allah๐ญEngkau baik banget :"
Di-notice ekonom amrik lho ya ๐น๐ซต
Jujur ini harusnya memalukan banget wkwk. Program yang dibangga-banggain cuma jd lahan basah buat dikorupsi.
Ga bisa dinafikan kalau 'Embegek' ini salah satu faktor terbesar situasi ekonomi negara kita kayak skrg.
SHAME ON U, MR. PRES!
wowok is literally a disgrace of this country like how the heck could we have the dumbest of all as our leader? Bener2 bikin malu, bikin susah rakyat.
Udah sih wok, ngaku salah, stop ambis yg bikin susah orang. Capek gue kerja dipotong pajak buat menuhin ambisi tolol elu itu
Kata Andre Rosiade :
"yang naik cuma BBM non-subsidi. Itu kan dinikmati orang kaya."
Realita 10 Juni 2026:
a. Andi, ojol Lampung: "Kemarin Rp12.600, sekarang Rp16.650. Selisihnya lumayan buat beli beras."
b. Bahrudin, 65 tahun, ojol Manggarai: "Tiap hari ngisi. Ini pukulan berat."
c. Herdi, karyawan Banjarbaru: "Spesifikasi motor minta RON 92. Mau ke mana lagi?"
d. Maulida, ibu rumah tangga: "Pabrikan mobil wajib RON 92. Nggak bisa sembarangan ganti."
Akibat framing "cuma buat orang kaya" ini:
jutaan orang pindah ke Pertalite โ antrean mengular โ kuota subsidi diserbu โ pemerintah pasang QR code โ mulai ngomong "potensi penyesuaian tahap II."
Terjemahan:
subsidi yang katanya "aman" itu sekarang terancam jebol, justru karena kebijakan yang diklaim pro-rakyat.
Pertanyaannya sederhana: kalau Pertamax memang cuma buat orang kaya , kenapa yang paling keras ngeluh justru ojol, sopir, dan ibu rumah tangga yang motornya butuh RON 92?
Atau jangan-jangan, ada kelas yang terlalu "kaya" untuk dapat subsidi, tapi terlalu miskin untuk bayar Rp16.650/liter , dan mereka ini yang tidak dihitung dalam kalkulasi "berpihak ke rakyat" itu?
Atau jangan-jangan definisi "orang kaya" versi Gerindra itu siapapun yang motornya perlu RON 92?
Bener kata bang Pandji. Orang ini dari kecil hidup dari keluarga kaya yg membuat tidak ada org yg berani mendebat dia, semua keinginannya pasti dituruti. Saudara, ART, dan temannya pasti mengiyakan dia. Mungkin cuma orang tuanya yg bisa bilang 'tidak' ke dia (itupun kalo orang tuanya tegas).
Ditambah dia masuk militer yg emg sistemnya 'siap ndan'. Semua hal dilakukan atas perintah atasan, bukan hasil duduk bareng dan saling challenge pendapat seperti di lingkungan kampus.
Udah gitu jadi ketua partai pula. Tau sendiri partai di Indonesia itu fanboy club. Ngga ada ideologi tapi semua arah partainya ditentukan tokoh partai tersebut. Hampir semua bawahannya pasti ABS.
So, selama dia hidup ngga biasa dgn kritikan. Karena dia biasa diiyain segala keinginannya. Sampai pada titik dia jadi presiden. Yg mana presiden adalah jabatan publik. Banyak org yg mengawasi dan mengkritik.
Alhasil pas jadi presiden ya begini. Kaget kalo ternyata dia bisa dikritik orang banyak dan dihajar kanan kiri. Jadi lgsg cap yg kritis itu nyinyir, antek asing, musuh negara, dll.
Romantisasi kemiskinan, dan bagaimana negara secara heroik "hadir" dengan menyuapi rakyatnya makanan seharga 7.500 - 10.000 rupiah (sebelum dikorupsi), padahal negara berpotensi membangun perekonomian warganya sehingga cukup buat hidup mandiri -- bukan sekedar buat beli makan siang satu anak sehari sekali.
#NegaraSalahUrus
orang-orang yg ngerasa โga peduli politikโ itu sebenernya bentuk paling nyata dari sistem yg gagal ngebangun rakyatnya buat kritis. karena politik dibuat sejauh itu dari masyarakat, sampe banyak yg lupa kalo semua hal yg nyentuh hidup kita hari ini ya hasil dari politik juga.
Yg 'males' baca artike di bawah, intinya gini..๐
- Prabowo Subianto terlalu boros (spendthrift) dan terlalu otoriter (authoritarian), sehingga membahayakan stabilitas ekonomi dan demokrasi Indonesia.
- Prabowo punya sifat mercurial (mudah berubah-ubah): kadang terlihat ramah & menerima kritik, tapi sering marah-marah dan menuduh kekuatan asing mendanai LSM untuk mengganggu stabilitas.
- Masalah Ekonomi: Program-program populis yang sangat mahal (terutama makan bergizi gratis) menekan anggaran negara, melemahkan rupiah, dan mengancam stabilitas makroekonomi.
- Masalah Demokrasi: Tendensi sentralisasi kekuasaan, pembungkaman kritik, dan gaya kepemimpinan yang semakin otoriter.
- Latar belakang: Prabowo mantan jenderal yang punya masa lalu โthuggishโ (kasar), kini berubah image jadi kakek penyayang kucing, tapi watak aslinya masih muncul dan mengkhawatirkan sekutu sendiri.
- Inti kritik dari Economist: Prabowo sedang membawa Indonesia ke jalur berbahaya dengan kombinasi pengeluaran berlebihan + gaya kepemimpinan yang kurang demokratis.
Guys, Felix Siauw baru ngomong sesuatu di podcast Helmy Yahya yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari seorang ustaz Indonesia dalam waktu lama.
Dan intinya satu kalimat yang langsung dilontarkan:
"Orang Indonesia tidak pernah menjadi Islam."
Bukan karena KTP-nya.
Tapi karena cara berpikirnya.
Masalah pertama
kita salah paham soal tawakal:
Felix kasih contoh yang sangat konkret.
Ada pesantren roboh.
Respons orang Indonesia:
"Qadarullah, ini takdir Allah."
Felix langsung potong:
itu bukan tawakal.
Itu kebodohan yang dibungkus agama.
Karena setiap insinyur teknik sipil yang melihat bangunan tiga lantai dengan pondasi yang salah sudah bisa prediksi itu akan roboh.
Tidak perlu menunggu roboh untuk tahu.
Dan kalau kita sudah tahu sebabnya tapi tidak dikerjakan lalu ketika roboh bilang qadarullah itu bukan pasrah pada Allah.
Itu menyalahkan Allah atas kelalaian kita sendiri.
Rasulullah memakai baju besi
dua lapis di medan perang.
Seorang sahabat tanya kenapa.
Jawabannya sederhana:
karena sebab akibat adalah bentuk tawakal yang sesungguhnya.
Bekerja sekeras mungkin baru serahkan hasilnya.
Masalah kedua
"enggak apa-apa mereka ambil dunia,
yang penting kita akhirat"
Felix bilang dia ingin kritik keras kalimat ini.
Karena logikanya terbalik total.
Cara masuk surga menurut ulama ada empat:
dengan ilmu,
dengan kekuatan,
dengan harta,
atau dengan doa.
Kalau kamu tidak punya ilmu,
tidak punya kekuatan,
tidak punya harta kamu hanya tersisa doa.
Dan kalau kamu bilang "yang penting akhirat" sambil tidak mengerjakan satu pun dari empat jalan itu dengan serius kamu sedang tidak mengejar akhirat.
Kamu sedang memakai akhirat sebagai alasan untuk tidak berusaha.
Rasulullah miskin bukan karena tidak bisa kaya.
Beliau miskin karena memilih memberi semua yang dimiliki kepada yang membutuhkan.
Miskin by choice bukan miskin karena tidak punya pilihan.
"Kalau dunia aja kamu enggak bisa nguasain,
jangan ngomong akhirat.
Akhirat itu lebih susah dari dunia."
Masalah ketiga
tidak ada critical thinking:
Ini yang paling mendasar dan paling merusak menurut Felix.
Ayat pertama yang turun kepada Rasulullah adalah iqra baca, berpikir, analisa.
Di saat itu bahkan tidak ada buku.
Tidak ada perpustakaan.
Artinya perintah iqra bukan sekadar membaca teks tapi perintah untuk berpikir kritis terhadap segala sesuatu.
Tapi apa yang terjadi di Indonesia?
Pertanyaan dibungkam.
Otoritas tidak boleh diganggu gugat.
Santri yang dilecehkan menerima
karena percaya itu "ritual penyucian."
Orang tua yang anaknya diperlakukan tidak wajar diam karena takut melawan ulama.
Felix bilang ini adalah abuse of authority yang masif dan akarnya adalah ketidakmampuan berpikir kritis yang sudah ditanamkan sejak kecil.
Padahal bahkan Rasulullah sendiri melatih sahabat untuk tidak buta taat.
Ada sahabat yang diperintahkan pemimpinnya masuk ke dalam api sebagai hukuman.
Mereka ragu dan datang bertanya ke Rasulullah.
Jawaban Rasulullah:
"Untung kalian tanya aku.
Kalau kalian masuk,
kalian tidak akan keluar selamanya."
Dari situ keluar hadis:
taatlah kepada makhluk selama tidak bermaksiat kepada Allah.
Artinya Islam dari awal mengajarkan untuk mempertanyakan bahkan otoritas.
Masalah keempat faktor struktural yang sering dilupakan:
Felix tidak hanya menyalahkan internal.
Ada faktor eksternal yang sangat besar yang tidak boleh diabaikan.
Di zaman kolonial Belanda,
ada sistem pembagian kelas berdasarkan akta kelahiran STBL.
Kelas pertama orang Eropa.
Kelas kedua orang Arab, India, Cina.
Kelas ketiga pribumi dan pribumi Muslim ada di posisi paling bawah.
Akta kelahiran itu menentukan siapa yang boleh sekolah di mana, siapa yang boleh masuk restoran mana, siapa yang boleh masuk pemerintahan.
Bukan soal kemampuan tapi soal sistem yang dirancang untuk memastikan satu kelompok tidak bisa mengakses kekayaan dan pengetahuan.
Itulah mengapa sampai hari ini di daftar orang terkaya Indonesia dan dunia dominasi Muslim sangat kecil dibandingkan populasinya.
Ini bukan semata karena etos kerja.
Ini juga karena sistem yang dibangun ratusan tahun untuk menutup akses.
Korelasi yang menarik antara keyakinan dan peradaban:
Felix membawa temuan arkeologi di Gobeklitepe, Turki bangunan berusia 11.000 tahun yang mendahului rumah dan ladang pertanian.
Para arkeolog menyimpulkan bahwa manusia tidak membangun keyakinan setelah perutnya kenyang.
Justru sebaliknya keyakinan dibangun dulu,
baru peradaban lain mengikuti.
Ini membalik teori lama bahwa agama
adalah produk kemakmuran.
Ternyata keyakinan adalah fondasinya.
Tapi ada yang salah kaprah.
Felix memisahkan dengan jelas:
bukan agamanya yang menentukan maju atau mundur suatu bangsa tapi kepedulian.
Romawi maju bukan karena agama tertentu tapi karena mereka peduli pada kotanya,
pada infrastrukturnya, pada warganya.
Ketika kepedulian itu hilang Romawi hancur.
Bukan karena Tuhannya berubah.
Felix menyimpulkan dengan satu pertanyaan keras yang ditujukan kepada dirinya sendiri dan seluruh ulama Indonesia:
"Rasulullah bilang ilmu dicabut dengan wafatnya para ulama. Ketika ulama pergi tanpa meninggalkan warisan berpikir yang benar yang terpilih adalah pemimpin-pemimpin bodoh.
Dan pemimpin bodoh membuat kebijakan bodoh yang menghancurkan umatnya."
Artinya yang paling bertanggung jawab atas kondisi umat bukan politisinya. Bukan penjajahnya. Tapi mereka yang seharusnya mendidik cara berpikir dan memilih untuk tidak melakukannya.
โ ๏ธ Disclaimer: Berdasarkan podcast Helmy Yahya bersama Felix Siauw. Semua pandangan adalah pendapat pribadi narasumber dalam konteks diskusi keagamaan dan peradaban. Pembaca dianjurkan untuk memverifikasi referensi sejarah dan hadis dari sumber primer.
@ushiijiwma Pas Korea dulu rakyatnya kompak 1 suara kak ๐ฅน no buzzee buzzer, enaknya negara maju kalo liat pemerintahnya ga beres rakyat dari semua kalangan bisa menyatu satu suara lengserin pemerintah yang ga becus tanpa ijo akan duit ๐ญ๐ญ
Faktor kita sebagai WNI ini kompleks banget
kalo negara mahamin pendidikan tinggi cuma sebagai pencetak pekerja industri, kampus-kampus kyk UGM, UI, dan ITB mending jadi bootcamp atau LPK aja sekalian.
kuliah itu bukan cuma tempat belajar skill teknis buat memenuhi kebutuhan industri, tapi jadi ruang untuk membentuk cara berpikir, cara belajar, cara membaca masalah, cara berargumentasi, cara beradaptasi, dan cara belajar bertahan hidup.
skill teknis bisa dikejar lewat bootcamp. tapi membangun nalar, kedewasaan, jejaring, kepekaan sosial, dan proses menemukan diri sendiri ga bisa disimplifikasi dalam logika cepat kerja.
kalo negara pengen punya masyarakat yang mampu berpikir luas, memahami dunia secara lebih kritis, membangun pondasi intelektual, dan bukan sekadar menjadi skrup-skrup industri, kuliah ga boleh direduksi cuma untuk menuhin kebutuhan industri.
Jujur, capek banget baca berita tentang pelecehan seksual di berbagai kampus beberapa hari ini. Gila sih, ini udah bukan soal "oknum" lagi, tapi emang environmentnya yang rusak dan menormalisasi rape culture.
Kalo kuliah cuma buat nyari kerja, mending langsung bootcamp, LPK atau ambil diploma. Banyak yg kecewa karena masuk kuliah sarjana dgn ekspektasi โhabis lulus harus langsung kepake buat kerjaโ
Kuliah ngajarin cara mikir, cara belajar, cara survive. Skill bisa dikejar di bootcamp. Tapi cara mikir itu butuh proses.
Kalau cuma mau cepat kerja, bootcamp lebih efisien. Tapi kalo mau lihat dunia yang lebih luas, bangun pondasi berpikir, networking, bahkan self discovery journey, kuliah lah. Sekalian kuliah lah di tempat yg bagus ๐คฃ
Ada tanggung jawab yang datang untuk memperlihatkan seberapa luas pundakmu sebenarnya.
Tekanan sering terasa berat, dimana seolah hidup sedang meminta terlalu banyak.
Padahal justru karena langit tahu ada kapasitas besar yang dititipkan di dalam dirimu.
Mungkin hari ini kamu belum melihatnya. Mungkin kamu masih merasa goyah. Tapi belum sadar, bukan berarti tidak punya.
Pressure is privilege.
Sebab tidak semua orang dipercayai memikul hal yang besar. Tidak semua orang diberi ruang untuk bertumbuh lewat beban yang besar.
Dan Allah sudah lebih dulu menenangkan hati kita:
โAllah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.โ
QS. Al-Baqarah 2:286.
Tarik napas dalam. Tenangkan hati. Jalani pelan-pelan.
Kamu tidak dipilih untuk ini tanpa kemampuan.
Kamu Son Goku yang belum tau bisa jadi Super Saiya 1, 2, dan 3.
Ngejaga Mental Health bkn berarti kita harus bahagia terus2an, bkn berarti harus positive vibes only.
Kata partner w yg jebolan psiko, setelah aware soal Mental Health, next step yang perlu dilakuin adlh ngebangun Mental Resilience. Gak gampang jatuh, gak gampang baper, gak gampang sedih.
Krn dunia gak se-happy go lucky itu. Kita akan salah, kita akan ketemu sm org yang nyalahin kita, kita akan sedih, atau membuat org lain sedih.
Jd bkn soal gabole sedihnya, tp belajar utk bs nerima dan balik lagi.