Tidak sampai 1 jam
Suami pasien kasih bintang 1 (⭐️) di google review
Dengan ulasan :
"Sangat Tidak Membantu"
dan mengeluh rujukan dipersulit
Padahal hampir setiap hari dibantu
Waktu, Tenaga, BHP dikerahkan
Tanpa ditagihkan
Sekarang sejawat curhat & nangis
Kasih saran apa ya?
Kalau dibiarkan terus,
Fasilitas Kesehatan, Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan makin kolaps
Pelayanan Kesehatan, Sistem BPJS Kesehatan & Jaminan Kesehatan Nasional berantakan
Seluruh masyarakat rugi,
Ga bisa dapat layanan kesehatan bermutu
Ayo tuntut pemerintah bayar FasKes layak
Tapi sampai kapan?
Kemampuan faskes, named, nakes nombokin kebutuhan kesehatan peserta BPJS Kesehatan itu ada batasnya
Ayo Seluruh Masyarakat Indonesia yg katanya sudah UHC (Hampir semua dicover BPJS) tuntut pemerintah & Menkes utk bayar faskes lebih baik
Jangan sampai kolaps
Seperti yang berkali-kali kami ketik,
Hitungan pembayaran dari BPJS ke Fasilitas Kesehatan (berdasarkan keputusan menteri kesehatan) terlalu rendah, baik kapitasi, non kapitasi, ina-cbgs
Sehingga dilapangan,
pasien BPJS bisa dilayani dengan baik,
krn faskes, named, nakes nombok
Pasien gak tau kalau di belakang layar banyak yang kayak gini. Yang mereka tau cuma komplen teross.
“Kenapa gak di apa-apain pasiennya?”
“Lama kali, pelayananny jelek”
“Karena kami BPJS jadi gak bisa ya?”
“Kami pakai BPJS yang bayar loh!”
Ntar kalau udah sembuh mana ada bilang terima kasih 😁
Akhirnya topik ini muncul juga, gw di case manager aja kesel banget, owner minta pembatasan terapi dan penunjang karena plafon minim, laporan keuangan mines. BPJS minta tidak boleh cost sharing. Terus mau diapain nih pasien? Kalo dilanjut nasib karyawan gimana?
RSUD itu biasa merawat pasien sampai jebol plafon BPJS, lalu bulan depannya diumumkan jaspel nakesnya dipotong sekian puluh persen utk nambal, krn udah era BLUD, Pemda gak peduli, sambil nakesnya baca komen warga di medsos muji2 RS swasta, gak tau kalo mereka rumit dikit rujuk..
Suka bingung sama pasien yang minta diinfus sama dokter dan gak mau sama perawat.
Jujur, bukan males, tapi biasanya perawat lebih jago nginfus dibanding dokter🙏🏻
250 yang nonton katanya aldi taher mau pulang, trs pas lagi asik ngobrol tbtb udah 250 yg nonton DAN SI ALOY MALAH NGOMONG GINI AJG BENER BENER LU YA LOY 😭😭😭😭😭
Izin memperjelas serba-serbi coli (onani) yang dibahas oleh dr. Tirta
1. 𝗟𝗲𝗯𝗶𝗵 𝘀𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗽𝗲𝗿𝗺𝗮 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗯𝗶𝗸𝗶𝗻 𝗽𝗿𝗶𝗮 𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝘀𝘂𝗯𝘂𝗿
Penelitian terbaru tahun 2026, menunjukkan bahwa semakin lama sperma "disimpan" sebelum ejakulasi, dapat membuat kualitas sperma menjadi lebih buruk. Perburukan kualitas tersebut meliputi kerusakan DNA, stress oksidatif, hingga gangguan pergerakan sperma.
Hal tersebut bisa terjadi karena sperma yang "disimpan" di tubuh akan mengalami penuaan dan kualitasnya menurun drastis.
Ejakulasi lebih sering, baik melalui aktivitas seksual atau masturbasi, dapat “membersihkan” sperma rusak dan meningkatkan peluang kehamilan alami maupun IVF.
2. 𝗘𝗷𝗮𝗸𝘂𝗹𝗮𝘀𝗶 𝗺𝗶𝗻𝗶𝗺𝗮𝗹 21 𝗸𝗮𝗹𝗶 𝗽𝗲𝗿 𝗯𝘂𝗹𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗮𝘀𝗼𝘀𝗶𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝘂𝗿𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗿𝗶𝘀𝗶𝗸𝗼 𝗸𝗮𝗻𝗸𝗲𝗿 𝗽𝗿𝗼𝘀𝘁𝗮𝘁
Penelitian tahun 2016 menunjukkan bahwa orang yang ejakulasi minimal 21 kali per bulan, ternyata memiliki risiko kanker prostat yang lebih rendah (19%) dibandingkan dengan yang "hanya" ejakulasi 4-7 kali per bulan.
Kedua penelitian ini jadinya mempertanyakan ulang sebenarnya berapa idealnya frekuensi ejakulasi pada laki-laki per bulannya.
Terima kasih dok sudah menyuarakan!
Semoga bermanfaat!
Sumber:
1. Sanghvi (2026). Sperm storage causes sperm senescence in human and non-human animals.
2. Rider (2016). Ejaculation Frequency and Risk of Prostate Cancer: Updated Results with an Additional Decade of Follow-up