seniman pendengar rumahan dan aspirasi
menjadi pendengar rumah dan aspirasi dibutuhkan seni baik
menjadi seniman baik butuh rumah yang mendengar aspirasi
Cerita kali ini adalah ketika aku diajakin mba @oktaarnt selaku Kabid LH PP IPM yang juga mahasiswa prodi sama kek aku yang paling menyebalkan hehehe. Ketika first time kegiatan literacy camp PP IPM via zoom kala itu
[Lanjutan nya dibawah yaa ]
Para atlet Indonesia ini hanya membutuhkan Rp 700 juta atau Rp 20 juta saja per atlet utk kebutuhan transportasi dan akomodasi ke Asia Pacific Deaf Multi-Sport Championships 2026 di Penang.
Beberapa upaya dilakukan. Tp Kemenpora menolak krn alasan efisiensi. Timnas Tuli juga menyebarkan 100 proposal ke berbagai pihak swasta, jg tdk membuahkan hasil.
Sekarang, dgn menahan malu, atlet2 ini, terpaksa turun ke jalanan untuk menggalang donasi..
Miris.
Baru tau kalo ternyata ayahnya Azka adalah Dr. Fauzan Adziman, yang saat ini menjabat sebagai Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Di samping perannya di pemerintahan, ia juga aktif sebagai akademisi di University of Oxford.
Beliau merupakan lulusan Institut Teknologi Bandung, melanjutkan studi magister di Tokyo Institute of Technology, kemudian meraih gelar doktor di Swansea University dalam bidang Computational Engineering sebelum melanjutkan riset postdoctoral di University of Oxford.
Selain berkarier di dunia akademik, Pak Fauzan juga merupakan salah satu pendiri Alloyed Ltd., perusahaan teknologi hasil pengembangan Oxford yang bergerak di bidang manufaktur digital berbasis komponen aditif.
Beliau juga turut menggagas Global Forum for Indonesia Technopreneurs dan menjabat sebagai Wakil Direktur Next Generation Tatara Co-Creation Centre (NEXTA). Namanya kembali menjadi sorotan setelah putranya, Azka, viral sebagai salah satu peserta Clash of Champions Season 3 berkat prestasi akademiknya di University of Oxford.
Thalita Ramadhani Wiryawan🇮🇩, 18 tahun, asal Surabaya, bermain begitu lepas, mencatat kejutan besar, mengalahkan Sim Yujin🇰🇷, memperpanjang nafas Indonesia!
SEMIFINAL UBER CUP 2026
Indonesia🇮🇩 vs Korea🇰🇷 1-2
Guys, ada laporan baru dari lembaga riset Celios yang menurut gue adalah salah satu yang paling mengerikan yang pernah gue baca tentang kondisi ekonomi Indonesia.
Judulnya: Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026.
Dan datanya bukan dari sembarang sumber.
Dari Forbes.
Dari LHKPN.
Data yang sudah terverifikasi dan tidak bisa dibantah.
Fakta pertama yang langsung bikin gue sesak napas:
50 orang terkaya Indonesia hanya 50 orang total kekayaannya mencapai Rp4.600 triliun per 2026.
APBN Indonesia?
Rp3.800 triliun.
Artinya 50 orang itu lebih kaya dari seluruh anggaran negara yang digunakan untuk membiayai 270 juta rakyat Indonesia selama satu tahun penuh.
Satu tahun.
Gaji PNS, subsidi BBM, bayar utang, bangun jalan, biaya militer, semua program sosial semuanya masih kalah dari 50 orang itu.
Dan setiap harinya harta 50 orang itu naik Rp13 miliar per hari.
Sementara upah pekerja harian di Indonesia bergerak di kisaran Rp2.000 sampai Rp5.000 per jam.
Fakta kedua ketimpangan di antara pejabat negara sendiri:
Total kekayaan pejabat negara era Prabowo-Gibran: Rp1 triliun lebih.
Dan dari seluruh pejabat itu 73% kekayaannya hanya dikuasai oleh 12 orang.
Dua belas orang.
Yang masing-masing punya kekayaan di atas Rp1 triliun.
Siapa?
Salah satu yang terbesar adalah Menteri Pariwisata Widya Kusuma.
Ada juga Menteri Perumahan Rakyat.
Keduanya masuk dalam daftar lima pejabat terkaya.
Fakta ketigayang paling menohok soal TNI dan Polri:
Setiap tamtama TNI prajurit paling bawah butuh 252 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Panglima TNI.
Dua ratus lima puluh dua tahun.
Kalau mulai kerja umur 20 baru bisa menyamai kekayaan atasannya di umur 272 tahun.
Itu bukan angka. Itu absurditas.
Di Polri sedikit "lebih baik" polisi golongan paling rendah butuh 139 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Kapolri.
Ketimpangan ini bukan hanya antara rakyat dan orang kaya. Tapi di dalam institusi yang sama.
Di antara satu korps yang sama.
Fakta keempat anggota DPR versus konstituennya:
Anggota DPR Gorontalo kekayaannya 800 kali lipat dari rata-rata masyarakat Gorontalo yang mereka wakili.
Anggota DPR Yogyakarta 400 kali lipat dari rata-rata masyarakat Yogyakarta.
Orang-orang yang mengklaim mewakili rakyat hidupnya 400 sampai 800 kali lebih kaya dari rakyat yang katanya mereka wakili.
Dan mereka yang membuat undang-undang. Mereka yang memutuskan kebijakan pajak. Mereka yang menentukan siapa yang dapat subsidi dan siapa yang tidak.
Dan ini yang membuat seluruh gambar itu menjadi sangat gelap:
Celios mengajukan satu pertanyaan yang sangat sederhana: kalau 50 orang terkaya itu dipajaki hanya 2% dari total kekayaan mereka negara dapat berapa?
Rp93 triliun per tahun.
Sembilan puluh tiga triliun.
Setiap tahun.
Dari pajak 2% saja atas kekayaan 50 orang.
Itu lebih dari cukup untuk membiayai rekonstruksi bencana besar.
Untuk membenarkan semua perlintasan kereta berbahaya di Jawa yang butuh Rp4 triliun.
Untuk menggaji 8 juta guru honorer setahun penuh.
Untuk menutup seluruh defisit BPJS Kesehatan.
Hanya dari 50 orang.
Hanya 2%. Per tahun.
Tapi itu tidak terjadi.
Dan Celios menjelaskan kenapa:
Karena orang-orang yang punya kekayaan itu — adalah orang-orang yang sama yang membiayai kampanye politik, yang duduk di dewan komisaris BUMN, yang punya akses langsung ke pengambil keputusan.
Pajak kekayaan sudah masuk dalam rencana Kementerian Keuangan paling lambat 2028 kata mereka. Tapi implementasinya? Masih "akan akan akan" saja. Tidak pernah benar-benar dieksekusi.
Sementara yang terus dipajaki adalah kelas menengah yang sudah ngos-ngosan. Kelas menengah Indonesia turun 1,1 juta orang dalam setahun tapi mereka yang paling mudah dikejar pajaknya karena datanya ada, penghasilannya kelihatan.
Seperti kata peneliti Celios: berburu di kebun binatang. Hewannya kelihatan, tinggal tembak. Sementara yang benar-benar harus dipajaki terlalu kuat untuk disentuh.
Dan ini yang paling mengerikan dari seluruh laporan ini:
Ketimpangan yang ekstrem ini bukan hanya masalah ekonomi. Ini adalah bahan bakar untuk sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Celios menelusuri pola historis dan hasilnya konsisten. Ketika ketimpangan mencapai titik ekstrem dan orang-orang hopeless tidak melihat jalan keluar yang rasional mereka tidak lari ke gerakan buruh atau gerakan sosial yang terorganisir.
Mereka lari ke kelompok-kelompok yang menawarkan identitas, musuh bersama, dan rasa memiliki.
Di Italia 1930-an orang yang di-PHK direkrut oleh Black Shirt. Di Jerman industri tutup, pengangguran meledak, orang mencari pegangan.
Di Indonesia sendiri kerusuhan 1998 dan berbagai gejolak sosial sesudahnya, ketika ditelusuri, akar masalahnya selalu sama: ketimpangan ekonomi yang dibalut isu identitas.
Dan tanda-tandanya sudah mulai terlihat sekarang ormas-ormas yang berdemo bukan ke instansi pemerintah tapi ke lembaga bantuan hukum masyarakat sipil, bayaran demo yang menjadi solusi pengangguran, program-program besar yang menyerap tenaga kerja tapi dengan cara yang menciptakan ketergantungan bukan kemandirian.
Solusi yang Celios rekomendasikan dan ini sangat konkret:
Satu — pajak kekayaan 2% untuk 50 orang terkaya. Langsung hasilkan Rp93 triliun per tahun. Bukan mimpi Brazil dan Colombia sudah melakukannya dengan komite audit independen.
Dua — moratorium MBG. Hentikan sementara, perbaiki tata kelola dari akar, baru jalankan lagi dengan tepat sasaran fokus ke daerah 3T dan keluarga miskin ekstrem, bukan merata ke semua sekolah termasuk swasta di Jabodetabek.
Tiga — kembalikan 20 triliun yang diambil dari anggaran kesehatan ke Kementerian Kesehatan untuk program stunting yang sudah terbukti efektif. Benefit yang dihasilkan: Rp400 triliun. Versus MBG yang belum jelas benefit konkretnya.
Empat — pajak windfall untuk komoditas yang sedang untung besar batu bara, sawit, nikel, minyak. Mereka untung dari harga global yang tinggi, sementara rakyat menanggung subsidi energi. Ini bukan soal nasionalisasi ini soal keadilan distribusi keuntungan.
Indonesia bukan negara miskin. Indonesia adalah negara yang kekayaannya terkonsentrasi pada sangat sedikit orang, yang sistem pajaknya melindungi orang kaya dan membebani kelas menengah, dan yang program-program besarnya lebih banyak menciptakan celah korupsi baru daripada menyelesaikan masalah lama.
50 orang lebih kaya dari APBN. 12 pejabat kuasai 73% kekayaan seluruh pejabat negara. Tamtama butuh 252 tahun untuk menyamai Panglima. Anggota DPR 800 kali lebih kaya dari konstituennya.
Dan solusinya sudah ada. Jelas. Terukur. Bisa dijalankan hari ini.
Yang tidak ada adalah kemauan politik untuk melakukannya. Karena yang harus meloloskan kebijakan pajak kekayaan itu adalah orang-orang yang sama yang akan paling terdampak olehnya.
Itu bukan korupsi yang bisa ditangkap KPK. Itu adalah struktur. Dan struktur hanya bisa diubah kalau tekanan dari bawah lebih kuat dari kenyamanan di atas.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan laporan Celios "Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026" dan wawancara peneliti Celios Bima Yudistira. Data bersumber dari Forbes dan LHKPN yang dapat diverifikasi publik. Ini analisis berbasis riset independen bukan tuduhan hukum kepada individu manapun.
Ciri-ciri negara sakit :
Orang pintar & Akademisi dilarang bersuara lantang tapi orang gemblung bebas bicara apa saja.
-------
Turu Nakhun GOWEEKEND
TIDAAAAAK
Segelas kopi, dan teri sebiji kadang sudah bisa menjadi pelipur lelah sebelum pulang ke rumah.
Semoga lelah bekerjamu yang diniatkan karena Allah jadi berkah, dan langkahmu selalu dimudahkan.
Selamat Hari Buruh
#Muhammadiyah
Kasus video Bayu Elnino yang sempat viral di media sosial mengenai tuduhan pelengseran Ketua OSIS SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta karena kritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah diklarifikasi sebagai hoaks. Berdasarkan fakta yang ada, Bayu bukan merupakan pengurus organisasi (IPM/OSIS) saat ini karena sudah duduk di kelas 12, dan narasi pelengseran tersebut tidak benar.
Sesuai dengan panduan dalam buku Fikih Informasi yang diterbitkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, ada prinsip yang seharusnya dipegang oleh warga Muhammadiyah dalam menyampaikan atau menerima informasi.
Buku Fikih Informasi menekankan bahwa aktivitas di media sosial bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari muamalah yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.
Sebelum menyebarkan informasi, setiap individu wajib melakukan tabayyun. Dalam kasus Bayu Elnino, warga digital seharusnya memastikan apakah jabatan yang disebutkan benar adanya dan apakah ada bukti administratif (seperti SK pemberhentian) sebelum ikut memviralkan narasi "pelengseran sepihak."
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti..." (QS. Al-Hujurat: 6)
Media sosial adalah cerminan akhlak. Penyampaian informasi harus menggunakan bahasa yang santun, tidak provokatif, dan tidak mengandung ujaran kebencian.
Jika ada ketidaksetujuan terhadap suatu program (seperti MBG), Fikih Informasi mengarahkan agar kritik disampaikan melalui jalur yang tepat dan berbasis data yang valid, bukan melalui manipulasi identitas.
Jadilah "Netizmu" (Netizen Muhammadiyah) yang cerdas dan mencerahkan. Jangan menjadi mata rantai penyebaran hoaks. Jika menerima informasi yang bersifat bombastis atau menyudutkan, berhentilah sejenak, lakukan verifikasi ke sumber resmi, dan ingatlah bahwa setiap jempol kita mencerminkan iman kita.
Terhadap kasus ini, kita perlu mengapresiasi langkah klarifikasi yang telah dilakukan oleh pihak sekolah dan permohonan maaf dari yang bersangkutan sebagai bentuk pertanggungjawaban moral.
Sejak tahun 2020 kampus dibawah Persyarikatan Muhammadiyah tidak mentolerir adanya Pelaku Pelecehan seksual, bahkan telah mendesain kampus yang Benar-benar aman dan nyaman.
Desain sistem pencegahan dan pelaporan pelecehan seksual ini tentunya sejalan dengan prinsip keadilan bagi PEREMPUAN yang sudah diperjuangkan Kiai Dahlan sejak awal berdirinya Muhammadiyah.
Pelajar SMK mengirim surat kepada Presiden, ia menolak menerima MBG dan meminta jatah makan MBG miliknya diberikan untuk kesejahteraan guru. Para pelajar kita, ada yang pikirannya tajam dan halus perasaannya. Rafif Arsya, anda membuat sejarah.
🔥🔥🔥🔥🔥
Secara permainan timnas Indonesia jauh lebih unggul malam ini, Bulgaria dikurung dan nyaris sepanjang pertandingan didominasi.
Hanya kurang beruntung kebobolan via penalti.
John Herdman baru beberapa bulan megang tim ini, cukup menjanjikan. 👍