Hampir tiap hari, 3 jam waktuku habis di jalan. Motoran PP JaktimβTangsel demi Istri dan Anak.
Capek? Pasti. Tapi, nggak disangka ini justru jadi "blessing in disguise".
Semua berkat satu kebiasaan yang ngubah pola pikirku dan jadi alasanku mulai nulis di sini.π§΅
Ada yg udah pernah langganan Audible? Newbie here. Sebenernya maju mundur karena udah kebiasaan gratisan dengerin podcast di Spotify wkwk
Tapi yaudah lah ya, kita coba dulu free trial yg premium plus ini. Lumayan, dapet 1 kredit tiap bulan buat dituker ke buku harga berapapun. Dan bukunya, kita keep terus walaupun udah nggak langganan.
Diri sendiri masih bingung mau spending ke buku yg mana, tapi kalau ada yg sama dan mau nyobain, rekomendasiku antara:
1. Lean Learning-nya Pat Flynn, atau,
2. Chimp Paradox-nya Prof. Steve Peters.
I've come across these 2 big ideas behind the book (dijelasin langsung sama para penulisnya), again, through podcast.
Yang pertama sharing gimana caranya belajar yg efektif & praktis di era digital dan modern. Biar ilmu yg kita dapet, beneran kepake, nggak mengendap di kepala doang. Ini cocok banget buat kita yg ngerasa kalau belajar sesuatu butuh data lebih. "Paralysis by analysis". Karena menerima informasi β mempraktikkan & menguasai sepenuhnya.
Yang kedua sharing soal mental model "otak kera" yg bakalan ngubah cara pandang dan pola pikirmu selamanya. Like, seriously. Di setiap diri kita, ada tiga "mode" sekaligus yg hidup berdampingan, cuma munculnya bergantian: otak kera/chimp, otak manusia/human, & otak komputer. Kalau kamu orang yg gampang emosi, jangan-jangan selama ini kamu bukan nggak sabaran. Cuma "mode" yg dominan adalah si mode primitif: otak kera. Mekanismenya gimana? It's worth another post to explain it better in detail dan mungkin akan jadi ide posting ke depannya.
TL;DR: Markicob "bahan bakar" baru perjalanan commuting harian kita & let's see how it goes.
Tanpa kita sadari, kita semua ini sejatinya seorang penulis.
Ngechat WA ke temen? Nulis.
Ngerjain kerjaan di laptop? Nulis.
Ngepost atau reply di X? Nulis.
Mungkin terlalu menyederhanakan, tapi prinsipnya sama: menulis.
Sekarang, tinggal mau seberapa berkualitas tulisanmu?
---
p.s.
(Post kali ini dan kemarin pendek-pendek & nggak langsung nyambung satu sama lain, kerjaan lagi capek banget euy.
If you don't know what to learn, start writing.
Writing teaches you how to think, how to learn, and how to attract an audience that supports your work. Those 3 skills are needed more than ever.
Being a first-time parent is hard. Dan podcast ini adalah salah satu alasan yang bikin masa kehamilan dan pascalahiran kemarin terasa lebih ringan.
"Growing", ngomongin seputar kehidupan "bertumbuh" bareng anak dan serba-serbi menjadi orang tua. Dibawain oleh dua narasumber yang notabene bidan tersertifikasi dari Aussie, landasan ilmunya jelas. Gaya pembawaannya santai kayak dua Ibu-Ibu yang lagi ngobrol sama temen. Topiknya boleh santai, tapi ilmunya berbobot.
Apalagi kalau kamu seorang Bapak. Percaya deh, pasanganmu bakal ngehargain banget if you take the time to listen to this. Dari podcast ini aku banyak belajar; nggak cuma soal bayi, tapi juga beratnya jadi Ibu. It can be lonely being a Mother, so you might as well try to understand things from their perspective.
Tanpa panjang lebar, kalau kamu penasaran apa itu "babywearing" ("make bayi?" wkwk), dasar-dasar meng-ASI-hi, sleep pattern, kenapa snack/jajanan itu penting buat seorang Ibu, go and check this awesome podcast!
"Paralysis by analysis."
Planning kejauhan > ngerasa butuh data lebih banyak > overthinking duluan > overwhelmed > batal eksekusi.
Sounds familiar?
Kalau iya, kamu nggak sendiri. Ini juga yang sering kulakuin. Ini alasan lahir project post 30 hari di X yang sekarang lagi jalan.
Being by doing. This is the way.
Finish something. Anything. Stop researching, planning, and preparing to do the work and just do the work. It doesnβt matter how good or how bad it is. You donβt need to set the world on fire with your first try. You just need to prove to yourself that you have what it takes to produce something.
There are no artists, athletes, entrepreneurs, or scientists who became great by half-finishing their work. Stop debating what you should make and just make something.
It's going to be a short post tonight, but it doesn't make it any less thought-provoking.
Jadi, dari kemarin kepikiran kutipan abang-Koe (pun intended) soal alasan kenapa konten yang pure bahas sesuatu dari kacamata meaning/fulfillment/progress tension itu cenderung lebih lambat naik.
Alasannya: 90β95% orang, masih berkutat di tahapan soal bertahan hidup & identitas diri.
Tipsnya: Kalau kamu pengen karya atau pesanmu lebih mudah dilihat orang secara luas, "sentuh" dari aspek ini dan trigger relatability. You'll definitely see a change.
Ini kenapa karya yang berpengaruh sama money-making ability dan sense of belonging seseorang cenderung lebih gampang "meledak".
Penghasilan yang lebih baik + tergabung ke suatu "kelompok" = safety.
And it's not a flaw; ini cuma soal insting paling dasar manusia. Stay alive as long as possible.
Bayangin: suatu saat kamu lagi ongkang-ongkang di rumah atau lagi berkelana entah ke mana, ngelakuin sesuatu yang kamu genuinely suka, dan dibayar buat itu.
Kamu nggak lagi sekadar kerja buat bertahan hidup. Soalnya sekumpulan "fans" setiamu, pendukung terbesarmu, "superfans"-mu, nemuin nilai dari kreasimu dan secara sukarela "ngebayarin" hidupmu. Nggak cuma dibayarin, you get to build wealth from it.
Gimana, kedengeran menyenangkan, bukan?
Tapi di saat yang sama, kedengeran "too good to be true". Terutama buat kebanyakan dari kita; termasuk aku sendiri. Karena pemahaman soal gagasan di atas belum nyampe ke kita.
Nah, inilah kenapa aku rasa Smart Passive Income-nya @PatFlynn bakal ngebantu. Lewat podcast-nya dan collab bareng bintang-bintang tamu, banyak gagasan, terutama yang soal entrepreneurship, jadi gampang banget dicerna. (Jujur, intonasi & kualitas audio si Pat Flynn juara sih; storytelling dan penyampaiannya pakem banget di telinga.)
Dari episode-episodenya, aku juga nemu beberapa jargon yang singkat tapi ngena:
"You've gotta be cringe before they binge."
"The riches are in the niches."
"When you try to help everyone, you serve no one."
"You don't need a million subscribers; you only need a thousand, or even less, of your true superfans."
Tanpa panjang lebar: langsung aja ke podcast-nya, dengerin dan serap ilmunya. Kalau bingung mulai dari mana, cobain satu episode ini: "SPI 900 - Why Superfans Are Still the Fastest Path to Success."
@hanifproduktif Kalau kata @RyanHoliday (waktu ngomongin soal kedisiplinan diri di podcast @AliAbdaal), efek punya anak itu bikin kita "grounding" dan menyadari apa yang beneran penting: waktu dan hubungan kita dengan orang terkasih.
Ketika grounded, pikiran kita less likely ke mana-mana.
Punya ketertarikan alami di banyak bidang sekaligus? Sering dicap "generalist"? Atau malah dibilang "nggak fokus" dan "cuma buang-buang waktu" gara-gara ngikutin rasa penasaranmu?
Kalau kamu relate, tolong dengerin @thedankoe. Salah satu pemikir paling berpengaruh di era modern ini. I mean it.
Pertama kali aku dengerin podcastnya, The Koe Cast, aku langsung ngebatin, "ini aku banget." I feel heard, seen, and understood. Perasaan "bersalah" yang selama ini menghantui, gara-gara tertarik ke terlalu banyak hal, langsung hilang. Yang tersisa cuma satu: rasa empowered.
Kamu bakal ngerti maksudku begitu dengerin sendiri. Episode-episodenya banger after banger.
Dia juga rutin nulis artikel panjang kayak gini, dan ini main model of value creation-nya. Artikel ini nantinya bakal direpurpose jadi berbagai sub-topik di podcastnya, jadi aku udah nggak sabar buat dengerin sih!
(Notice kenapa aku bilang "value creation", bukan "content creation"? Karena tiap karyanya beneran ninggalin value yang kepakai buat kita.)
Tanpa bertele-tele: sempetin dengerin podcastnya sekarang. Nggak usah bingung mulai dari mana. Mulai aja dari satu episode yang pertama kali bikin aku nyangkut: "How to Articulate Your Thoughts Intelligently."
I promise you, kamu nggak akan nyesel.
Rekomendasi Podcast ke-1: Deep Dive with Ali Abdaal
Kalau kamu pengen dapet macem-macem insights; mainly dari segi produktivitas, self-development, dan bisnis; plus ngebiasain telinga sama English UK accent yang posh dan cepet (beneran cepet si bang Ali ini kalau ngomong wkwk), nah ini jawabannya.
Dulu memutuskan buat mulai dari podcast dia karena salah satu pernyataan di video YT-nya:
"Suatu gagasan/ide/mindset, sesederhana apapun, kalau kamu belum pernah terpapar, pasti nggak akan kepikiran. Dan begitu kamu kepikiran, hal itu bisa jadi pemantik penting rentetan proses kreatif, self-discovery, wirausaha, atau petualangan lain".
Dan bener aja. Begitu ngedengerin dia ngobrol sama bintang tamunya, banyak hal yang sebenernya kayak obvious banget, tapi tetep bikin mikir, "iya juga ya, kok aku nggak kepikiran ya?".
Saking banyaknya poin belajar dari tiap episode, kayaknya bakal aku bahas sendiri deh di post-post berikutnya.
Long story short: kalau kamu lagi nyari podcast buat mulai, start dari dia aja, guys. Kalian nggak bakal kecewa. ππ»
@bardanslm Saya tim jujur sih, Mas. Tapi ya nggak langsung tembak: "sayang, ini nggak enak." Wkwk
Makasih dulu udah ngebuatin, kepoin cara bikinnya gimana, coba deskripsiin rasanya semampu kita, terus ajak buat nyicipin dan tanya pendapatnya.
Insyaallah aman wkwk π
Begitulah kira-kira cerita kebentuknya habit yang sekarang.
Next, aku bakal mulai bahas podcast dan pelajaran favorit dari episode pilihanku. Beberapa, truly life-changing, aku janji.
So, stay tune, it may change yours! ππ»
Dulu, awal-awal PP kantor-rumah rasanya mau misuh terus. Gondok banget tiap ngeliat pemandangan begini.
2β3 jam per hari rasanya kayak kebuang gitu aja. Cuma jadi keringat dan sambat.
Buat seseorang yang tumbuh-besar di kabupaten di Jawa Timur, ini tuh rasanya kayak: WTH?!?
Sekarang, bener-bener bisa menikmati dan meresapi perjalanan.
Alih-alih terbebani, sekarang bisa kubilang jadi sesuatu yang dinanti.
"Belajar apa lagi ya selanjutnya?"
Macetnya boleh jadi sama, tapi isi kepala udah beda.