setelah liat sendiri (mual) keyword “cder”, gue jadi paham kenapa hal kayak gini jadi hal yg serius dan bahkan dilaknat. awalnya gue pikir crossdressing tu cuma konten internet aja. ternyata makin dinormalisasi dan didukung, makin pada berani masuk ke ruang publik yaaa, bahkan di ruang perempuan dan ruang ibadah. padahal, batas antara laki-laki dan perempuan itu jelas. banyak ayat dan hadist yg mengingatkan tentang menjaga fitrah dan larangan menyerupai lawan jenis, ternyata hikmahnya bukan cuma soal diri sendiri, tapi juga biar kita gak dzolim ke orang lain. ketika hal itu dilanggar dan dinormalisasi, dampaknya ke ruang sosial juga, kata siapa ah gak ngerugiin orang gelo ceuk aing mah, huntu murudul. agenda kelompok rempong yang bikin batas ruang perempuan jadi kabur, rasa aman orang lain jadi terganggu, nilai ibadah jadinya ikut keseret.
yang bikin makin parah, bukan cuma dibela, tapi difasilitasi. konten sensualnya dibeli, penampilan crossdressing religiusnya didukung dengan dibelikan pakaian syar’i, bahkan dibawa ke lingkungan ibadah dengan narasi “ngedate”, tarawih bareng di masjid. kalo gini mah udah jauh dari urusan pribadi ye, IT DOES AFFECT US AS WOMEN. and then some of you wrap it in a “freedom” narrative without thinking about the impact, kenapa sih orang-orang ini gk pernah mikirin dampaknya astaga
jangan sampe lah kita ikut mendukung sesuatu yang jelas melampaui batas, disgusting
Masih menjadi misteri kenapa anak yang diberi unlimited freedom by thier parents lebih berakal and never crossed the limit daripada anak yang strict parents.
Suatu hari tamuan ke rumah orang liat kamar mandinya kotor. Tanya ke suami, "Kalo kita diem2 bersihin kamar mandinya menurutmu bantu ga?"
Suami awa dengan kesadaran penuh: "Itu adalah contoh nyata breach of sovereignity. Itulah kolonialisme yang selama ini kamu lawan,"