Kalau lihat semua orang posting bahwa si abang ini ingin pulang ke Indonesia, saya punya unpopular opinion: JANGAN PULANG!
Jangan pulang, tapi bikinlah perkumpulan "mafia" Indonesia di luar negeri.
Mafia Indonesia di FAANG, di Silicon Valley, di west coast, di east coast. Di OpenAI, di Anthropic, di NVidia, di Intel, di Apple, di mana-mana lah.
Di US, di EU, di JP/CN/KR/TW/SG/MY, di mana-mana pusat teknologi.
Saya yakin sudah ada di tempat-tempat tadi, cuma jumlahnya masih kurang banyak. Saya personally kenal dgn beberapa teman yg sudah ada di sana. Semuanya orang Indonesia di sana itu nggak kaleng-kaleng, top markotop semua.
Bikinlah mafia ini, entah caranya gimana. Kalian yg di luar ini pasti lebih ngerti caranya. Lebih mudah, dan lebih menguntungkan daripada musti pada balik ke sini.
Indonesia ini kerusakannya sistemik, ngeberesinnya musti pakai mukjizat Nabi atau karamah Wali Allah, kalau cuma pakai niat baik ingin kembali, perbaiki niat dulu dan pikirkan baik-baik, nanti takutnya kecewa.
Kita ngalamin yang namanya Inflasi Pendidikan.
Gelar S1 zaman now itu nilainya udah setara sama ijazah SMA zaman dulu karena hampir semua orang bisa kuliah.
Efeknya, HRD jadi kebingungan ngefilter lautan sarjana ini. Solusinya? Mereka nyiptain rintangan ala Ninja Warrior atau Hunger Games (Online Test berlapis, FGD/LGD, presentasi kasus, psikotes berjam-jam).
Proses ribet itu berevolusi bukan karena kerjaannya butuh skill yang bagus, tapi semata-mata buat nge-eliminasi ribuan kandidat dengan cepet aja. ๐ค
Supply and Demand buat lapangan pekerjaan disini juga jomplang banget cik. Supply tenaga kerja di Indo kata GIBRAN membludak ruah, sedangkan lapangan kerjanya seret.
Dampaknya? Karena tahu yang butuh kerja itu ada jutaan orang, perusahaan seenaknya melempar beban biaya penyeleksian ke pelamar. ๐น
Kalo dibandingin di US atau di Eropa mah proses rekrutmen rata-rata straight to the point. Kirim CV/Resume - Screening (via telepon) - Interview (1 atau 2 kali sama user/manager) - Offering.
Tes aneh-aneh berjam-jam atau MCU sampai disuruh puasa dan bugil itu jatuhnya red flag dan bisa kena tuntutan pelanggaran privasi malahan di US/Eropa. KECUALI lu daftar masuk militer, kerja di lab berbahaya, atau buruh fisik berat.
Di Indo? Daftar staf admin entry level aja MCU-nya kayak mau dikirim dinas ke daerah konflik ๐
Bener kata bang Pandji. Orang ini dari kecil hidup dari keluarga kaya yg membuat tidak ada org yg berani mendebat dia, semua keinginannya pasti dituruti. Saudara, ART, dan temannya pasti mengiyakan dia. Mungkin cuma orang tuanya yg bisa bilang 'tidak' ke dia (itupun kalo orang tuanya tegas).
Ditambah dia masuk militer yg emg sistemnya 'siap ndan'. Semua hal dilakukan atas perintah atasan, bukan hasil duduk bareng dan saling challenge pendapat seperti di lingkungan kampus.
Udah gitu jadi ketua partai pula. Tau sendiri partai di Indonesia itu fanboy club. Ngga ada ideologi tapi semua arah partainya ditentukan tokoh partai tersebut. Hampir semua bawahannya pasti ABS.
So, selama dia hidup ngga biasa dgn kritikan. Karena dia biasa diiyain segala keinginannya. Sampai pada titik dia jadi presiden. Yg mana presiden adalah jabatan publik. Banyak org yg mengawasi dan mengkritik.
Alhasil pas jadi presiden ya begini. Kaget kalo ternyata dia bisa dikritik orang banyak dan dihajar kanan kiri. Jadi lgsg cap yg kritis itu nyinyir, antek asing, musuh negara, dll.
UMAR BIN ABDUL AZIZ.
Kenapa?
1. Sblm menjadi orang nomor 1, perawakan umar gemuk, setelah menjdi pemimpin, badannya justru mnjdi kurus.
2. Awal pelantikannya, umar memiliki harta 40 ribu dinar. Lalu ktika meninggal, hartanya hnya trsisa 400 dinar.
Imam Syafii prnah mngatakan,
ู ู ูููู ุงููุถุงุก ููู ููุชูุฑ ููู ูุตู.
Seseorang yang diberi jabatan, namun setelahnya dirinya bertambah kaya, maka dia adalah pencuri.
3. Abu Umayyah Al-Khashy, sekretaris kepemerintahan, prnah dibuat jengkel saat berkunjung ke rumahnya. Selama di kediaman umar, ia hanya disuguhi sbuah kacang. Istri umar lalu mengatakan, "Maaf, tpi itu lah makanan sehari-hari umar."
Dan masih bnyak lagi teladan darinya.
Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
โข Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
โข Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
โข Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
โข Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
โข Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
โข Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L
orang jepang kerja, bangun jam 7, jam 8 masih commute dan sarapan, jam 9 baru masuk, jam 5 sore pulang tenggo.
orang indo masuk jam 8, bangun jam 5 pagi, masih bisa kesiangan. bukan karena orang indo yang males tapi segala hal disini gak bisa efisien
Mungkin kalian merasa buruk hari ini karena setiap Prabowo muncul, yang ada hanyalah perasaan semakin menderita sebagai WNI.
Tapi perlu kalian sadari satu hal, 2029 nantipun kemungkinan ia tetap akan terpilih. Atau paling buruknya, Gibran.
Program MBG milik pemerintah sekarang itu sudah menjaring pemilihnya untuk Pemilu berikutnya. Jumlahnya besar; pengusaha, pegawai MBG, politisi, semua yang terlibat di rantai pasok hingga penerima manfaat. Program ini memang sampah, tapi bagi pemerintah ini adalah jalan untuk melanggengkan kekuasaan ke depan.