bukan maksudku untuk menciptakan jurang pemisah antara ku dan keluarga, kuingin bisa berikan sesuatu yang berharga untuk dinda, daffa, eja dan semuanya. mungkin kalian dalam hati sering bertanya si adam kemana kok jarang di rumah. believe me i'm doing something yg ga percuma. :)
"Pacaran sekarang bukan makin susah karena cari pasangan... tapi karena kebanyakan lihat timeline."
Pernah kepikiran nggak, kenapa pacaran sekarang rasanya jauh lebih ribet dibanding dulu?
Menurut gue, salah satu penyebabnya adalah media sosial.
Setiap hari kita disuguhi couple goals.
Ada yang tiap minggu liburan.
Ada yang dikasih bunga segede galon.
Ada yang bikin video romantis lengkap dengan backsound yang bikin jomblo pengen uninstall aplikasi. 😅
Lama-lama, tanpa sadar, kita mulai menganggap itu sebagai standar hubungan yang "normal".
Kalau pasangan nggak sering upload bareng, dianggap kurang sayang.
Kalau nggak dikasih hadiah, dianggap nggak effort.
Kalau nggak bisa video call berjam-jam, dianggap nggak cinta.
Padahal... siapa bilang semua yang ada di media sosial itu kehidupan sehari-hari?
Bisa jadi itu cuma potongan terbaik dari hubungan mereka.
Lima menit yang diposting, sementara lima jam debatnya ya disimpan sendiri. 😂
Masalahnya, banyak orang jadi sibuk mengejar hubungan yang terlihat indah, daripada membangun hubungan yang benar-benar sehat.
Padahal hubungan yang sehat sering kali membosankan kalau dijadikan konten.
Nggak ada drama.
Nggak ada prank.
Nggak ada caption "putus nyambung season 8".
Yang ada cuma dua orang yang saling menghargai, saling percaya, dan menyelesaikan masalah tanpa perlu penonton.
Gue justru merasa hubungan terbaik itu bukan yang paling ramai di timeline.
Tapi yang paling tenang di kehidupan nyata.
Karena validasi dari media sosial cuma bertahan beberapa jam.
Sedangkan ketenangan dalam hubungan bisa bertahan bertahun-tahun.
Jadi jangan sampai kita mengukur kualitas hubungan dengan highlight kehidupan orang lain.
Karena belum tentu yang paling sering pamer adalah yang paling bahagia.
Menurut kalian, media sosial bikin hubungan jadi lebih mudah... atau justru lebih ribet? ✌🏻
Yang merupakan effort antara lain :
Anter-jemput
Beliin hadiah
Ngajakin jalan
Apapun yg ngeluarin tenaga , waktu dan uang
Dan effort layak dapet apresiasi.
Yang termasuk effortless :
Chatan
Telponan
Yang disebut bare minimum :
Setia
Kejujuran
Komunikasi
Gak genit ke lawan jenis lain
Kuharap gak ada campur aduk lagi atau bikin laki2 merasa serba salah 🙃
Bos yg micromanage itu bukan tanda dia teliti, tapi tanda dia ga percaya timnya.
Padahal kepercayaan itu fondasi dari segalanya. Kalau tiap langkah kecil harus lapor, tiap keputusan harus minta izin dulu, lama2 orang jadi ga berani ambil inisiatif.
Yang terjadi bukan tim yg makin kompeten, tapi tim yg cuma jago "nurutin perintah." Mereka berhenti berpikir sendiri karena toh ujung2nya akan dikoreksi juga.
Dan ironisnya, bosnya malah makin sibuk. Makin semua dikontrol sendiri, makin ga ada yg bisa jalan tanpa dia. Itu bukan produktif, itu jebakan.
Organisasi yg sehat butuh orang2 yg bisa "ownership" atas pekerjaannya. Dan ownership itu ga akan tumbuh kalau ruangnya ga pernah dikasih.
Setuju ga?
Kadang ngebayangin bakal ada sesuatu yang spesial, ada yang nginget, ada yang bikin hari ini terasa beda. Tapi pas hari itu datang, ternyata cuma hari Rabu biasa. Bangun, kerja, pulang, mikir.
Apalagi kalau lagi banyak beban pikiran.
Narasumber bukan entitas yang statis. Mereka bisa berubah. Bisa menarik pernyataan. Bisa menyangkal juga. Dan perubahan itu tidak selalu berarti bahwa mereka sejak awal berbohong.
Ada banyak kemungkinan, bisa jadi
mengalami tekanan, mendapat ancaman hukum, mengalami intimidasi fisik atau digital, atau mungkin ada tawaran lain.
Karena itu, dalam jurnalisme atau dalam hal ini film dokumenter, perubahan sikap narasumber tidak otomatis dibaca sebagai bukti bahwa laporan sebelumnya salah, dan Papua baik-baik saja. Tetapi juga tidak boleh diabaikan begitu saja. Justru di situlah pentingnya verifikasi berlapis dan prinsip informed consent.
Narasumber adalah manusia yang berada dalam relasi kuasa. Semoga Mama Yasinta sehat selalu.
Huge erupt at the Marapi volcano in the West Sumatra Province of Indonesia 🇮🇩 (30.05.2026)
The height of the ash column reached 2,000 m above the summit.
kayak bangsa lemah aja. lagi krisis ekonomi kok solusinya presiden dan menteri potong gaji 50%.
contoh tuh bangsa yang kuat. kalau lagi krisis ekonomi solusinya ya nambah kementerian, nambah program, naikin gaji dan tunjangan pejabat, sering-sering ke luar negeri. apa lagi?
Terima kasih banyak, TVRI. Selayaknya seperti dokumenter Pesta Babi, lewat konten ini lagi-lagi kami disuguhi dokumentasi yang menayangkan fakta, bahwa pejabat negara kita (sangat) goblok dalam memilih prioritas.
Inilah yang disebut kejahatan struktural.
Ketika negara membiarkan rakyat tetap miskin agar bergantung pada program dasar, ketergantungan itu kemudian dipakai untuk menekan mereka sendiri.
Rakyat dibuat tidak berdaya, sementara yang mampu berpikir kritis diintimidasi agar tidak membangun kesadaran dan tidak membongkar cara kerja sistem yang selama ini menindas mereka.
Saya sebagai orang pusat "Pula Jawa", kurang sepakat dengan konsepsi "NKRI Harga Mati" dulu kita berawal dari keterpisahan, kemudian menyatu, maka ketika ingin berpisah lagi terlebih dengan alasan "kekecewaan yang mendalam" harusnya boleh. Atau minimal dipertimbangkan dengan referendum.
Negara ini terlalu besar, untuk SDM pemerintahan yang kacau dan orientasinya keruk jual-keruk jual. Hasilnya tidak fokus dan problemnya selalu pemerataan dari zaman Sukarno berdebut.
Saya sendiri masih ingat seorang Menteri asal Papua (Menhub) Freddy Numberi menulis sebuah artikel berjudul "NKRI Harga Hidup". Gagasan ini menjadi antitesis dari slogan-slogan kaku, dan ancaman terhadap kemanusiaan.
Bahwa kemerdekaan itu ialah Hak segala bangsa. 👍
Indonesian authorities have shut down several screenings of a new documentary on alleged human rights abuses in Papua, including Indigenous land seizures. Rights groups and international media still face restricted access to the region.
Al Jazeera’s @JesWashington reports.
Teman-teman di Sumatera, apakah per hari ini kami boleh meminta tolong lagi, untuk mengabarkan daerah mana saja yang masih padam? 🙏🏻
Agaknya pihak biadab @pln_123 mulai melakukan cuci tangan dengan cara menyebarkan disinformasi terkait daerah-daerah yang listriknya sudah nyala.