@ardisatriawan ya kalo dia pribadi dukung program ini, trus skrg dia ada d situ ya kan gpp..dpt lebih, ya menurut dia itu rezeki dia, krn dia jg ga mau program itu hilang..mk nya dia ikut turun utk mendukung dan syukur nya dpt banyak hadiah..itu sih sudut pandang aku aja ya klo jd dia..hehe
Ya Allah sedih banget ini ππ
βββββββ
6 Mei, kakakku hanya pamit sebentar.
Sebelum pergi, ia menitipkan kedua anaknya kepada kami. Tidak ada tangisan, tidak ada firasat buruk, tidak ada perpisahan yang terasa seperti akhir. Kami semua mengira ia akan pulang seperti biasa.
Namun ternyata, hari itu menjadi pertemuan terakhir kami.
Kakakku dan suaminya meninggal dunia setelah ditabrak oleh taksi Bluebird. Dalam sekejap, dua anak yang masih sangat belia harus kehilangan ayah dan ibunya sekaligus. Kehangatan keluarga yang selama ini mereka rasakan berubah menjadi luka yang akan mereka bawa sepanjang hidup.
Yang lebih menyakitkan, hingga hari ini kami masih belum melihat nilai keadilan yang benar-benar mampu menjamin masa depan kedua anak korban. Mereka tidak hanya kehilangan orang tua, tetapi juga kehilangan sosok yang seharusnya membimbing, melindungi, dan mengantarkan mereka menuju masa depan.
Saya memohon bantuan teman-teman semua. Tolong bantu dengan memberikan komentar, membagikan, dan menyukai video ini agar suara kami dapat didengar dan mendapat perhatian dari pimpinan Bluebird.
Karena bagi sebagian orang ini mungkin hanya sebuah berita, tetapi bagi dua anak kecil itu, ini adalah kehilangan yang akan mereka rasakan setiap hari sepanjang hidup. π
Cr: rezaairwn
Tolong bantu sebarkan gaes agar didengar oleh @bluebirdgroup@nikitawilly_24
Hewan Langka Khas Papua
Kangguru Pohon Wondiwoi
ia sudah pernah di nyatakan punah sejak puluhan tahun yang lalu
Hewan langka ini kembali ditemukan di Papua Barat dan juga kembali terancam punah akibat pembabatan Hutan yang terus berlangsung di Papua
@KangDien_Wae@liputan6 keliatan bgt ya jurinya sendiri ga tau n ga paham dgn soal dan jwbn lho.. pake nyontek dulu ke layar Tab dia.. itu yg bikin dia bingung nentuin, nih anak tadi jwb nya bener apa salah ya?! wkwkwkwk..
Setuju banget sama Raditya Dika:
βKita tidak sepenting itu untuk orang lain. Berhenti memikirkan hal yang di luar kuasa kita. Pendapat orang soal kita itu di luar kuasa kita, nggak usah dipikirin.β
Jadi, lakuin apa yang kamu suka karena yang ngejalanin hidup itu kamu β¨
Baru tahu, biaya listrik dari jam 17-22 adalah 2 X lipat diluar waktu tsb ... rubah kebiasaan, ingat waktu nya ! Viralkan agar mengurangi beban pengeluaran.
Guys, ada kasus yang menurut gue perlu lo dengar karena ini bukan cuma soal satu anak di satu sekolah di Pemalang. Ini adalah cerminan dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Seorang orang tua di Randudongkal, Kabupaten Pemalang sebut saja Bapak ini memposting sesuatu di media sosialnya.
Isinya dua hal: kritik terhadap implementasi MBG dan pengingat bahwa sekolah negeri dilarang memungut biaya LKS dan infak berdasarkan aturan pemerintah yang sudah berlaku.
Dia tidak menyebut nama sekolah anaknya.
Tidak menyebut nama kepala sekolah.
Tidak menyebut nama guru siapapun.
Tapi anaknya Mas Azhim, siswa SD N 01 Banjarayar dikeluarkan dari sekolah.
Yang terjadi secara kronologis:
Bapak ini memposting kritik soal MBG dan pungutan liar di sekolah negeri di akun media sosialnya.
Kepala sekolah memanggil dia.
Dan setelah pertemuan itu anaknya diberhentikan secara sepihak.
Tidak ada surat resmi pemberhentian yang prosedural.
Tidak ada proses klarifikasi yang fair.
Tidak ada mekanisme banding.
Satu pertemuan dan anak itu tidak boleh masuk sekolah lagi.
Dua bulan lebih Mas Azhim tidak mengikuti pelajaran. Dua bulan lebih seorang anak SD kehilangan haknya atas pendidikan bukan karena dia berbuat salah, tapi karena bapaknya berani bicara.
Dan di atas itu semua Mas Azhim juga mengalami bullying.
Bukti percakapan yang beredar dan ini yang paling mengejutkan:
Ada screenshot percakapan WhatsApp yang beredar. Pihak sekolah melalui salah satu guru membalas pesan si Bapak dengan kalimat yang menurut gue sangat mengungkapkan segalanya:
Meskipun njenengan tidak menyebutkan identitas sekolah, tapi kan masyarakat tahu kalau Mas Azhim sekolah di SD N 01 Banjarayar, jadi menggiring opini publik ke SD kami.
Berhenti sebentar di sini.
Pihak sekolah sendiri yang mengakui bahwa yang jadi masalah bukan tindakan si Bapak secara hukum tapi dampak reputasi ke sekolah.
Bukan soal anak yang melanggar aturan. Bukan soal proses belajar yang terganggu.
Tapi soal opini publik yang mengarah ke SD mereka.
Artinya anak ini dikeluarkan bukan karena dia salah. Tapi karena bapaknya membuat sekolah tidak nyaman di mata publik.
Apa yang dilakukan si Bapak itu sebenarnya?
Dia mengingatkan bahwa sekolah negeri tidak boleh memungut biaya LKS dan infak.
Ini bukan opini.
Ini fakta hukum.
Permendikbud dan berbagai regulasi turunannya sudah jelas melarang pungutan di sekolah negeri yang sudah mendapat BOS Bantuan Operasional Sekolah.
Sekolah negeri mendapat dana BOS dari APBN untuk membiayai operasional sekolah.
Dana itu sudah termasuk untuk pengadaan buku, alat tulis, dan kebutuhan belajar siswa.
Memungut LKS tambahan di atas BOS adalah pelanggaran regulasi.
Si Bapak tidak mengarang.
Dia mengingatkan aturan yang memang ada.
Dan untuk itu anaknya dikeluarkan.
Soal kritik MBG yang dia sampaikan dan ini relevan dengan konteks yang lebih besar:
Kita sudah bahas panjang lebar soal MBG dari Rp340 miliar yang menurut Mahfud MD hanya sampai ke makanan dari total triliunan yang dianggarkan, sampai 33.000 kasus keracunan, sampai 1.720 SPPG yang tutup tapi tetap dibayar Rp6 juta per hari.
Orang tua yang kritis terhadap MBG bukan musuh program. Mereka adalah orang-orang yang paling langsung terdampak ketika program itu tidak berjalan dengan baik.
Anak-anak merekalah yang makan makanan dari program itu. Anak-anak merekalah yang keracunan ketika standar sanitasinya tidak terpenuhi.
Mengkritisi MBG bukan kejahatan.
Mengkritisi sekolah yang memungut biaya ilegal bukan kejahatan.
Tapi di Banjarayar Pemalang melakukan dua hal itu ternyata cukup untuk membuat anakmu kehilangan akses pendidikan.
Ini bukan hanya masalah satu sekolah ini adalah masalah sistemik:
Yang terjadi di sini adalah penggunaan kekuasaan institusional untuk membungkam kritik warga.
Dan yang dikorbankan bukan si orang tua tapi anaknya yang tidak berdaya.
Ini adalah bentuk intimidasi yang sangat kejam justru karena targetnya bukan si pengkritik secara langsung. Targetnya adalah orang yang paling dicintai oleh pengkritik itu anaknya sendiri.
Kalau lo mau membungkam seseorang tanpa kelihatan melanggar hukum secara terang-terangan sakiti anaknya.
Itu yang terjadi di sini.
Dan kalimat dari guru itu tadi "menggiring opini publik ke SD kami" menunjukkan bahwa ini adalah keputusan yang diambil secara sadar untuk melindungi reputasi institusi, bukan untuk kepentingan terbaik anak didik mereka.
Apa yang seharusnya terjadi secara hukum:
Pertama β sekolah tidak punya kewenangan hukum untuk mengeluarkan siswa secara sepihak hanya karena orang tuanya mengkritik di media sosial.
Ini melanggar hak anak atas pendidikan yang dijamin Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan UUD 1945 Pasal 31.
Kedua β pungutan LKS dan infak di sekolah negeri yang sudah menerima BOS adalah pelanggaran regulasi yang seharusnya dilaporkan dan diinvestigasi oleh Dinas Pendidikan dan inspektorat daerah.
Ketiga β bullying terhadap anak karena tindakan orang tuanya adalah pelanggaran serius yang masuk dalam kategori kekerasan berbasis relasi kuasa.
Kasus ini sudah masuk ke Polres Pemalang.
Dan si Bapak memohon agar Kapolres mengawal proses penyidikan ini agar berjalan sesuai hukum bukan sesuai keinginan pihak tertentu.
Yang paling menyentuh dari seluruh cerita ini:
Si Bapak menulis: "Saya tidak mampu membayar pengacara untuk mencari keadilan."
Dan di sisi lain dia bilang: "Tidak apa-apa, saya bisa mendidik anak-anak walaupun tanpa ada ijazah."
Ini adalah seorang ayah yang sudah pasrah dengan sistem tapi belum menyerah pada kebenaran.
Yang tahu dia mungkin tidak punya kekuatan finansial untuk melawan.
Tapi tetap berjalan karena dia yakin masih ada orang-orang baik yang bisa membantu.
Dan si Bapak menutup pernyataannya dengan kalimat yang menurut gue harus diingat oleh setiap pejabat dan kepala sekolah di Indonesia:
"Jangan semena-mena dengan jabatan yang kau sandang karena itu semua hanya titipan."
Kalau kita bisa marah pada triliunan rupiah MBG yang tidak sampai ke makanan anak-anak kita juga harus bisa marah ketika satu anak SD kehilangan haknya atas pendidikan hanya karena bapaknya berani mengingatkan aturan.
Keduanya adalah wajah dari sistem yang sama sistem di mana institusi lebih sibuk melindungi dirinya sendiri daripada melayani mereka yang seharusnya dilayani.
Mas Azhim berhak atas pendidikannya.
Dan bapaknya berhak atas keadilannya.
Hanya Terjadi di Indonesia
Bukan diberi penghargaan tapi Remaja ini malah di Vonis 8 Tahun Penjara Karena Membacok Penjahat Yang telah merampas uang hasil dagangan ibunya
Warga DKI Jakarta dapat mengakses fasilitas pemakaman gratis, termasuk:
- *Izin Penggunaan Tanah Makam (IPTM)*
- *Fasilitas peralatan*: kursi, tenda 3x3 meter, pengeras suara
- *Peralatan memandikan jenazah*
- *Mobil jenazah* (hubungi 021-5484544 atau 021-5480137)