AI dipakai untuk menelanjangi perempuan -- and we’re pretending it’s just “user misuse”
NO. IT'S NOT.
Apa yang kita saksikan ini bukan sekadar penyalahgunaan teknologi. Ini adalah cerminan ketimpangan struktural yang selama ini dibiarkan.
AI tidak bekerja di ruang hampa. Ia beroperasi di dalam sistem sosial yang sudah timpang: timpang dalam literasi, timpang dalam akses ke keadilan, dan timpang dalam posisi tawar.
Ketika tanggung jawab sepenuhnya dilempar ke “pengguna”, asumsi yang digunakan adalah bahwa semua orang memiliki kapasitas yang sama untuk memahami risiko, melawan balik, dan mencari perlindungan.
Faktanya, tidak demikian.
Kelompok paling terdampak (perempuan, anak-anak, dan lansia) sering kali tidak memahami bagaimana sistem bekerja, tidak tahu ke mana harus melapor, tidak memiliki sumber daya hukum, dan tidak punya energi untuk menghadapi proses panjang yang melelahkan.
Akuntabilitas pun menjadi kabur karena tersebar di antara pengguna, platform, dan pembuat kebijakan, hingga akhirnya tidak ada pihak yang benar-benar bertanggung jawab.
Inilah yang jarang dibicarakan secara terbuka di ruang publik: meski membawa banyak manfaat, AI juga memperbesar ketimpangan kekuasaan yang sudah ada.
Mereka yang memahami sistem—cara kerja, celah hukum, dan batas tanggung jawab—berada di posisi relatif aman. Mereka yang tidak, justru menanggung risiko terbesar.
Karena itu, AI tidak bisa dipandang hanya sebagai isu inovasi atau efisiensi. AI adalah soal siapa yang terlindungi, dan siapa yang dibiarkan sendirian ketika kekerasan terjadi.
Dalam konteks ini, AI literacy dibutuhkan bukan sekadar mengajarkan kemampuan teknis menggunakan tools atau menulis prompt.
AI literacy adalah mekanisme perlindungan sosial. Ia menentukan apakah seseorang mampu memahami bahwa apa yang dialaminya adalah pelanggaran, bukan “risiko biasa” -- dan mengetahui opsi yang tersedia, meski terbatas, untuk mencari pertolongan.
Tanpa literasi ini, korban sering kali menyalahkan diri sendiri. Atau lebih buruk, menganggap kekerasan digital sebagai sesuatu yang harus diterima.
Selama kelompok paling rentan belum serius dilindungi, AI akan terus menguntungkan mereka yang sudah kuat dan berbahaya bagi mereka yang sejak awal berada di posisi paling lemah.
Itulah mengapa peringatan ini perlu terus diulang (saya juga sampaikan di berbagai forum lokal, internasional, dan kepada pemerintah melalui Menteri Komdigi) bahwa:
Tanpa literasi dan perlindungan yang memadai, kemajuan teknologi tidak pernah netral. Ia akan menguatkan yang sudah kuat, dan melemahkan yang sudah lemah.
Tugas pemerintah bukan hanya mendorong edukasi AI literacy, tetapi juga memastikan kebijakan publik yang berpihak nyata pada kelompok paling rentan.
Alhamdulillah. Akhirnya pekerja bakal dilindungi 24/7.
Maksudnya, tak kira kita WFH ke, kerja syif malam ke, dalam waktu pejabat ke or even lepas waktu pejabat sekalipun, kalau terjadi kemalangan, kita akan dilindungi oleh PERKESO.
Antara faedah yang akan diterima:
What's extraordinary about this story is the Israelis didn't even bother to remove evidence of execution - bound hands, blindfolds - before handing the bodies back.
Impunity.
TERKINI : 12 rakyat Malaysia ditahan IDF iaitu :
1. Zizi Kirana
2. Musa Nuwayri
3. Zulfadli Khiruddin
4. Rusydi Ramli
5. Sul Aidil
6. Iylia Balqis
7. Haikal Abdullah
8. Muaz Zaina
9 Farah lee
10. Danish
11.heliza
12.hazwani
Sebarkan gambar ini dan kita tuntut pembebasan segera sukarelawan kita ini.
#BebaskanTahananSumud
Hanya di Malaysia: Kementerian Sumber Asli & Kelestarian Alam anjurkan pertandingan guna GenAI yang terang terang merosakkan alam dengan tema Kelestarian Alam you can't make this shit up 😂😂😂😂