Inilah menariknya dunia perbukuan bin literasi Indonesia.
Tere Liye dan penulis sejenisnya, yang mungkin sering dikritik seputar isi tulisan dll ternyata menyumbang angka adat orang mulai membaca.
Tapi, fakta tsb perlu diurai. Saya coba uraikan sedikit
Politik jatah preman: sebuah upaya pemerintah untuk melanggengkan kekuasaan rezim sekaligus melakukan kekerasan terhadap rakyat tanpa harus mengotori tangan mereka.
Waktu zaman orba, Prabowo memanfaatkan ormas untuk menekan pergerakan aktivis Timor Timur.
Haii, kenalin kami Geng Umbi-umbian Nusantara.
Berhubung kawan masih suka buta arah kalau disuruh bedain kami di kebun atau di pasar, mari kita absen satu-satu biar kalian melek soal kamu hehhe..
1. Si Kembar Beda Bentuk: Kimpul & Bote (Talas)
Kenalin, aku Kimpul (Xanthosoma sagittifolium) yang lagi trending itu.
Tolong catat baik-baik, ciri mutlakku ada di bentuk daunku yang melekuk seperti panah tajam. Jangan panggil aku Talas. Talas itu nama lain dari saudaraku si Bote (Colocasia esculenta). Kalau si Bote, lekukan daunnya lebih tumpul dan berbentuk seperti hati yang utuh. Walau umbi kami sama-sama enak direbus, daun kami jelas beda.
2. Para Raksasa Nyentrik: Sente & Suwek
Kalau kalian lihat yang daunnya guede banget menantang langit, itu aku si Sente (Alocasia macrorrhizos). Daunku bentuknya segitiga raksasa, dan umbiku juga super besar di bawah tanah. Tapi kalau kalian lihat ada yang batangnya loreng-loreng kayak ular sanca, itu saudaraku si Suwek (Amorphophallus paeoniifolius). Si Suwek ini daunnya majemuk (terpecah-pecah) dan tumbuh memayung.
3. Geng Akrobat Pemanjat: Uwi, Mbolo, & Mbili
Nah, kami bertiga ini beda aliran. Kalau umbi lain batangnya tegak (pseudostem), batang kami tumbuh melilit dan memanjat.Kami dari marga Dioscorea.
- Aku Uwi (Dioscorea alata), punya daun bentuk jantung yang besar.
- Aku Mbolo (varian Uwi), primadona yang umbinya berwarna ungu eksotis di dalam tanah.
- Aku Mbili (Dioscorea bulbifera), si paling mindblowing. Kenapa? Karena selain nyimpen umbi di dalam tanah, aku juga memproduksi Bulbil Udara alias umbi yang menggantung di batang atasku. Keren kan, karbohidrat bisa berbuah di udara😂😂
So.. Selamat pagi dari kami geng karbohidrat lokal kearifan Nusantara.
Mulai sekarang, jangan sampai salah sebut nama kami lagi ya kalau mblusuk ke kebun atau belanja di pasar.
Kawan-kawan di sini paling suka olahan dari umbi yang mana nih? Digoreng, direbus, atau dibikin kolak? Coba absen.
2014 menjelang anakku wedok lahir, saya jual genio 92 payu 53jt. Saya belikan motor ini. Dg pengalaman lairan anak lanang yg agak spesial dan ora nyekel duit, sya kawatir dan memutuskan jual mobil utk jaga². Romantismenya motor ini sngat byk. Sampai² anak wedok hampir nangis ketika sy bilang mau memindah motor ini ke Kung di luar kota. Sy pun demikian thd motor ini. Tdk usah sy ceritakan detilnya.
Saya hanya mau menormalisasi bhw menghargai sebuah barang itu seperti sebuah pertemanan. Saling menjaga krn saling membutuhkan. Sy percaya barang itu ada penunggunya. Bukan jin atau klenik, tapi timbunan perhatian puluhan lap ratusan air sabun dan jutaan terimakasih saya lah yang menjadi penunggu.
Rawatlah barangmu sekecil seremeh apapun. Agar waktu menjadi satu²nya alasan dia tidak bisa lagi menemanimu.
salah satu metafora keren di novel piramid. kadaré menyebut tulisan sebagai cara “memumikan pikiran manusia”.
sejak sekarang, akan sulit aku melihat tulisan sebagai rangkaian huruf semata.
selamat senin pagi, fren.
Sisi lain:
Underrated things tentang pemilik usaha yang menunjukkan / show up anak buahnya berkembang adalah, sebenarnya mereka membuktikan bahwa mereka memberi upah yang layak—bukan sekadar flexing laku / tidak.
Kalau melihat buku buku mulai dihancurkan AI dengan alasan efisien.
Tiap masa selalu ada yang meringkas pekerjaan ataupun mencari lubang tikus yang menjadi penanda, setiap waktu.
Kalau waktu korona kita kenal Psiphon—pengubah kuota belajar jadi kuota utama, masa sebelumnya ada SSH yang bisa digunakan bersamaan dengan adanya kebocoran melaluu inject.
Sebelumnya lagi, kita berselancar dengan ponsel 3G.