Lo pernah dengar kisah pengusaha muda yang bisa kumpulkan Rp 621 miliar sebelum usia 31 tahun , murni dari kerja keras sendiri?
Gue juga belum pernah dengar.
Sampai nama Kaisar Kiasa Kasih Said Putra muncul di LHKPN KPK.
Mari kita baca datanya pelan-pelan.
@justneedpromo@Kabar_Persib Lah kok jadi beda topik? Bukannya tadi topiknya soal dukung mendukung? “ada gak yg dukung klub (lokal) padahal pemainnya asing?”
Jadi mau diskusi yg mana nih? Soal dukung mendukung klub atau soal ekosistem sepak bola?
If Alexis Mac Allister ever ends up signing for Persib Bandung one day, it’ll probably be because he got influenced by this Insta story from his cousin, Lucho Guaycochea 👇🏼
Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Konawe Selatan ke 23 yang seharusnya penuh kemeriahan, mendadak berubah menjadi panggung kritik tajam. Seorang pemuda asal Kecamatan Lalembuu, Rijal, tampil mencuri perhatian dengan aksi tak biasa. Aksi yang mengenakan kostum berisi foto-foto jalan rusak dan membawa ekskavator mini. Aksi itu bukan sekadar kreatifitas dalam pawai. Ini adalah bentuk protes terbuka terhadap kondisi infrastruktur yang disebut warga telah dibiarkan rusak selama puluhan tahun. Di balik gemerlap perayaan, Rijal seolah memaksa publik menoleh pada kenyataan yang selama ini diabaikan. Jalan di Lalembuu yang disebut telah rusak selama 42 tahun tanpa perbaikan signifikan. Foto-foto yang menempel di tubuhnya bukan hiasan. Itu adalah bukti. Jalan berlumpur, berlubang, dan berubah menjadi kubangan saat hujan. Kondisi yang setiap hari dilalui warga, termasuk anak-anak sekolah.
Gilaaaaa keren banget video klipnya "Storm" garapan Romain Gavras (Athena) ini.
3 menit terakhirnya dibikin one take dengan koreografi tari yang wowwwww🔥🔥🔥🔥🔥
Tumbal Tragedi Bintaro 1987: Kisah Pilu Masinis Slamet Suradio yang Terbuang dan Menanti Keadilan
JAKARTA — Tragedi Bintaro yang terjadi pada 19 Oktober 1987 masih menyisakan luka mendalam dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Insiden maut yang merenggut 139 nyawa dan melukai 254 orang tersebut selalu dikenang sebagai bencana kelam. Namun, di balik puing-puing besi lokomotif yang hancur, ada satu kepingan sejarah yang hingga kini dibiarkan usang dimakan waktu: kisah pilu Slamet Suradio, sang masinis KA-225 yang dituduh sebagai tersangka utama.
Selama puluhan tahun, publik disuguhi narasi bahwa Slamet adalah pihak yang paling bersalah. Namun, benarkah demikian?
Kesalahan Komunikasi dan Surat PTP yang Diabaikan
Hari itu, Slamet Suradio dituduh memberangkatkan kereta api tanpa seizin petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA). Narasi ini menyudutkannya seolah ia bertindak ceroboh dan melanggar aturan.
Faktanya, sebelum lokomotifnya melaju, Slamet telah mengantongi surat Pemindahan Tempat Persilangan (PTP). Dalam dunia perkeretaapian, surat tersebut adalah nyawa dan perintah; surat itu adalah izin resmi bahwa keretanya sah untuk diberangkatkan. Celakanya, terjadi kesalahan komunikasi fatal antara petugas PPKA Stasiun Sudimara dengan Stasiun Kebayoran. Kesalahan sistemik inilah yang pada akhirnya menempatkan dua kereta baja melaju di satu jalur yang sama, berujung pada tabrakan hebat yang tak terhindarkan.
Sepanjang perjalanan maut itu, Slamet mengaku tidak melihat satu pun rambu-rambu darurat yang mengisyaratkan perintah untuk menghentikan kereta.
Bertahan di Balik Kemudi: Mematahkan Stigma "Pengecut"
Selain dituduh berangkat tanpa izin, Slamet juga harus memikul fitnah keji bahwa ia melompat keluar dari lokomotif sesaat sebelum tabrakan terjadi demi menyelamatkan diri.
Kenyataan di lapangan berbanding terbalik. Ketika jarak antara dua kereta sudah terlalu dekat, asisten masinis-lah yang melompat keluar. Sementara itu, Slamet Suradio memilih bertahan di dalam kabin lokomotif. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik tuas rem darurat hingga tangannya tak lagi sanggup bertahan.
Saat benturan keras terjadi, tubuhnya terpental ke lantai lokomotif. Hantaman itu membuat tulang pinggulnya retak dan matanya terluka akibat pecahan kaca yang berserakan. Dalam kondisi kritis, berlumuran darah, dan menahan sakit yang luar biasa, ingatannya hanya tertuju pada satu hal: bukti kebenarannya. Ia meminta tolong kepada seseorang untuk memfotokopi surat PTP yang masih ada di dalam kantong seragamnya sebanyak mungkin. Di atas surat itu, bercak darah Slamet ikut tertoreh, menjadi saksi bisu tragedi tersebut.
Ketidakadilan di Meja Hijau
Namun, segala bukti dan pembelaan Slamet seolah menguap begitu saja di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Fotokopi surat PTP yang telah ia perjuangkan tak berarti apa-apa di hadapan majelis hakim. Pengabdiannya selama 23 tahun sebagai masinis runtuh seketika.
Ia divonis sebagai terpidana. Tidak hanya itu, ada rentetan ketidakadilan lain yang menimpanya. Ia mengaku kerap dipaksa menandatangani dokumen-dokumen tak jelas asal-usulnya oleh oknum tertentu. Puncaknya, ia dipecat dari pekerjaannya sebagai masinis tanpa diberikan pesangon sepeser pun.
Pengkhianatan dan Bertahan Hidup dari Sebatang Rokok
Kehancuran karier dan kebebasannya ternyata bukan satu-satunya cobaan. Di saat ia sangat membutuhkan dukungan moral, sang istri justru menggugat cerai dan memilih menikah dengan pria lain, meninggalkan Slamet sendiri meratapi nasibnya.
Kini, masa kejayaan sang masinis telah lama redup. Pria renta itu kini harus mengais rezeki dengan berjualan rokok eceran. Setiap hari, ia harus menempuh jarak sekitar 15 kilometer dari tempat asalnya untuk berdagang. Hidupnya jauh dari kata layak. Pernah suatu ketika, ia tidak bisa pulang ke rumah selama dua bulan penuh karena sama sekali tidak memiliki ongkos. Untuk merebahkan tubuh rentanya, ia menjadikan musala sebagai tempat bernaung sehari-hari.
La baleine bleue produit un lait si riche et épais qu’il ressemble à de la crème fluide avec 50% de matières grasses … parfaitement adapté pour que son petit puisse se nourrir sous l’eau sans que le lait ne se disperse.
Comment ne pas croire au Créateur derrière ces merveilles🥹
Penduduk Amerika yang dukung Trump sepertinya lagi sakit kepala, penduduknya sendiri dibuat susuh oleh lord Trump, bukan hanya penduduk Amerika tapi seluruh dunia dibuat sakit kepala..fuck u Trump
🇮🇩 Indonesia’s forest loss surged 66% in 2025, the highest in eight years.
Around 434,000 hectares were cleared, much of it driven by President Prabowo’s push for food and energy self-sufficiency.
Nearly half of the land cleared was natural forest, including peatlands, turned into “food reserve forests” for rice and bioenergy. Borneo took the hardest hit, followed by Sumatra and Papua.
Experts warn this surge pushes Indonesia back to deforestation levels not seen since the mid-2010s.
Video from last years catastrophic flooding.