Kepada Tuhan diserahkan keyakinan. Kepada orang tua diberikan penghormatan. Kepada guru ditunjukkan nalar. Kepada teman disodorkan solidaritas. Kepada kekasih dipersembahkan perasaan. Tapi pada negara dan penguasa, kecurigaan yang pantas.
Manusia sangat pengecut untuk berhadapan dengan kesendirian dalam keadaan tak berdaya. Padahal sejak kecil ia tahu di mana letak nadinya berdenyut, ia hanya perlu menghentikannya dan semuanya selesai.
Berbanggalah dalam ketidaktahuan mu, pada diam kamu dan juga pada keikhlasan mu. Tetaplah percaya bahwa kamu warga negara yang baik dan nasionalis. Persis yang diidamkan pemerintah.
Nasionalisme "tertinggi" adalah ketika kau menjadi pasien @BPJSKesehatanRI yang antri berjam-jam di depan loket pengambilan obat hanya untuk mendengar petugas berbisik kepadamu : "obat jenis ini dan itu kebetulan sedang habis ya..,"
Kamu tentu tidak berpikiran buruk : kenapa kalau iuran BPJS saya menunggak, saya kesulitan mendapatkan pelayanan yang baik dan mudah. Sementara ketika obat yang seharusnya saya terima tidak tersedia, saya harus menerimanya tanpa syarat.
Atau mungkin kamu menolak mendengar ketika pasien lain yang bernasib sama bertanya ke petugas : kemana iuran bulanan saya kalau toh obatnya tidak tersedia, bagaimana mungkin?
Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa stock obat di RS bisa habis. Tapi kamu punya segudang alasan untuk maklum. Barangkali pertanyaan ini juga tak terbesit : kenapa tidak diuangkan saja untuk saya membeli obat di tempat lain?
Dikarenakan kamu sangat membutuhkannya, terpaksa kamu membeli obat tersebut secara mandiri di tempat lain. Tentu dengan uang di sakumu yang mudah-mudahan cukup.
Dua ego pernah berseteru dalam satu meja. Sayang, satu diantaranya pergi lebih dulu tanpa dendam, sementara lainnya ditinggal untuk menjalani perenungan tak berujung.
Mungkinkah kita bisa tersenyum lega saat bertukar cincin pernikahan? Padahal kita tahu bahwa sebelum tiba di jari manis kita, cincin itu adalah emas yang digali untuk menimbun tulang belulang sekian banyak manusia?
Belajarlah, bahwa pemimpin yang sederhana tanpa otak juga berbahaya, sama halnya dengan yang ada otak tapi tak mengerti kesederhanaan. Apalagi pemimpin yang gak ada otak dan sama sekali tak pernah mau tahu kesederhanaan.
Dulu merakyat, masuk gorong-gorong, bicara "ngapain ngutang" dsb. Ternyata yang diomongkannya tidak ia mengerti, kemudian yang diomongkannya tidak sesuai realita, ia terlihat seperti berbohong, lalu kemudian benar-benar berbohong. Itulah Mulyono di Konoha.
Di dunia ini kita diadu, disebutnya dengan istilah berkompetisi : di balik sosok kemenangan selalu ada pihak yang terkalahkan. Maka berlakulah hukum bahwa yang besar akan melumat yang kecil. Kalau tak percaya, lihatlah nasib warung kelontongan di daerahmu ketika indo-alfa datang.
Sekali engkau percaya kepada politisi dalam sistem yang maruk, engkau sudah layak dinobatkan sebagai keledai. Jangankan dua kali jatuh di lubang yang sama, bukankah pemilu sudah dan mungkin akan masih berkali-kali?