Selama masih ada kesempatan carry trade KUR 6% ke obligasi/saham dengan yield 8% lebih, yang begini akan terus terjadi. Bunga KUR harus disesuaikan atau harga saham di bursa harus naik.
Dulu kami kirim putra2 terbaik melalui Indonesia Mengajar dan Guru Garis Depan utk mengabdi ke pelosok sbg pengormatan thdp setiap jengkal wilayah NKRI.
Memberi stigma buruk pada Papua, Malut, dan daerah terluar NKRI sbg tujuan mutasi hukuman sama dgn menghukum daerahnya juga.
Lulusan Harvard dan Stanford university nggak laku di negara ini
yang ada jadi bawahan mereka ini
tips sukses di indo:
- cukup jadi penjilat presiden
- jadi tim sukses waktu pilpres
- kalo bisa ada adegan nangis poin +
Menurut gw pribadi, mending keberadaan IPDN itu ditinjau ulang deh…
Asal kelen tahu..
Ilmu-ilmu yang ada di IPDN itu udah diajarin di FISIP dan FIA di seluruh Indonesia.
Perbedaannya, IPDN itu ikatan dinas, biaya minim, dan juga semi-militer.
Lantas buat apa ada IPDN? Wong lulusannya juga jadi ASN. Anak FISIP dan FIA mah disuruh jadi ASN juga bisa.
Dan yang gw juga heran kenapa IPDN semi-militer?Padahal lulusannya itu ya jadi sipil semua…
Terus yang lebih ga nyaman lagi:
Tiap tahun, IPDN butuh ratusan miliar.
Kalian tahu ga? Berapa anggaran IPDN di 2026?
814 MILIAR!
Padahal tahun lalu hanya 517 miliar.
Mana masuk pos anggaran pendidikan lagi.
Dan ini diperuntukkan untuk 5-6 ribu orang praja..
Sayang banget menurut gw.
Duit 817 M itu bisa dipakai buat subsidi PTN-PTN di seluruh Indonesia.
Foto: Rakyat Merdeka dan Pos Jateng
Ini kan jepang zaman Edo, di era Heian paling tinggi aristokrat, setalah reformasi meiji paling tinggi kelas birokrat, setalahnya masih ada industrialis(zeibatsu).
Terlepas dari nada hinaan di posting ini, Tiongkok berbeda dengan Jepang dalam menempatkan kelas mana di puncak.
Tiongkok -> Shi (birokrat, intelek, cendekiawan)
Jepang -> Samurai (ksatria, warrior)
Kelas `Shi` menganggap kelas ksatria itu barbar, uncivilized.
"Good iron is not used for nails; good men do not become soldiers."
Tapi mereka menganggap kelas ksatria itu necessary evil. Kelas ksatria masih memberi "value" besar ke masyarakat. Tidak seperti kelas pedagang....
@trickyinvestor Pernah partneran bek sama orang jago banget, tekel bersih banget, bisa playmaking juga. Setelah selesai aku nanya ke temannya, itu siapa kok jago. Ternyata Tommy Murti mantan kapten PSS Sleman
Sekadar info, menurut survey ITDP, masing2 kota/kabupaten hanya perlu 5% dari APBD utk membangun sistem transportasi publik. Dan itu gak perlu MRT, apalagi utk kota kyk Malang, misal.
Utk operasional (PSO), cukup 5% APBD/th.
Hitungan saya, biaya awal pembangunan bisa lbh ditekan lagi via fasilitas pendanaan iklim spt GEF, bisa di press ke hampir 2% APBD.
Pertanyaannya:
1. Apakah warganya menuntut?
2. Apakah Pemerintahnya sadar dan komitmen?
3. Apakah kepala daerahnya punya political will?
Jika prasyarat 1-3 tdk terpenuhi, maka tdk akan kebentuk ekosistem mendorong transportasi publik.
Jujur aja, sports journalism kita itu sebetulnya udah berkembang pesat: analisis taktis, bisnis, hingga sejarah kini digali mendalam. Tapi laporan investigasi? Jarang banget, atau mungkin gak ada.
Dua klub gak dikenal tiba-tiba jadi pemuncak Liga 2, harusnya sinyal radar kecurigaannya udah mulai nyala.
Orang kaya di Indonesia itu banyak yg hasil eksploitasi.
Baik itu eksploitasi alam ataupun manusia.
Pernah dikenalin sama manager dulu sama pemilik restoran steak, orangnya kalem banget, bicara nya agamis sekali, tapi ngasih gaji karyawan rendah dan jam kerja nya gila.
Kekayaan nya?
Ya bayangin deh omzet rata" Percabang nya nembus 600 juta, dia punya 30 cabang lebih.
Kalo dia dapet bersih nya 50juta aja sebulan, udah 1,5M tuh ditangan.
Gaji karyawan nya setengah UMR aja gak sampe, dapet mendekati UMR aja dari uang service, artinya karyawan dapet gaji dari duit customer bukan dari hasil jualan produk.
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
Unpopular opinion: memang ada budaya atau agama yang punya nilai nilai yang bikin kelompoknya bisa lebih unggul di sistem kompetitif kayak sekarang. Misalnya orang kristen Protestan lebih banyak yang jadi kaya daripada yang Islam atau Katolik
tiap bahas orang ini dengan teman, aku selalu coba menjelaskan kalau kebencian terhadap tionghoa—terutama di jakarta—muncul karena stratifikasi ekonomi. tionghoa diidentifikasi sebagai borjuis dan, yang dibenci masyarakat, harusnya bukan tionghoanya, tapi borjuisnya.
karena, borjuis-borjuis ini bisa muncul dari suku apa saja dan dari mana saja.
ditempat ahok tumbuh, misalnya. tionghoa datang lewat beberapa gelombang. salah satunya, sebagai penambang timah. sehingga, kaum-kaum proletar di sana juga banyak berasal dari tionghoa.
gak sulit menemukan orng tionghoa jual bensin eceran di sana.
nah, karena ada diversifikasi etnis di kaum proletar, masyarakat jadinya gk mengidentifikasi satu suku tertentu dengan kaum borjuis.
itu kenapa ahok seberani itu. dia gk pernah mempertimbangkan bahwa dia, suatu hari, bakal ditindas karena etnisnya. dia gk puny experience itu. mungkin ada, tpi gk sebesar di jakarta.
Tapi itu nggak sepenuhnya baik juga. Di eropa Utara yang kristen akhirnya jadi agnostik atau atheis, orang orang asia timur saking kompetitifnya disana jadi pada nggak pengen punya anak