For those who want a bit more context: a massive student and worker protest is unfolding in Indonesia’s capital in response to the Prabowo government’s decision to raise fuel prices, alongside other policies that many Indonesians are calling corrupt because they deepen the burden on working-class Indonesians already struggling with rising living costs and a weakening rupiah.
What’s fueling the anger even further is the broader feeling that economic pressure is being pushed downward onto ordinary people while major policy decisions continue to favour politicians and the ultra wealthy.
Just last year, Indonesians protested over the same kind of government corruption, which led to a crackdown on its own civilians using military force in cities like Jakarta and Bandung, resulting in multiple deaths and injuries, including those of students.
This situation, however, embarrassed the Probowo government, as people from all over the world began paying attention and massed mobilised to send food, medical/legal aid and financial donations via apps like Grab and Ojek (the region’s equivalent of Uber) the movement received particularly strong support from people across Asia, especially Southeast and East Asia, while also drawing contributions from around the world. This is why Indonesians are asking the world pay attention to their country again.
Mahasiswa tidak boleh menyampaikan pendapat di Bundaran HI karena itu pusat masyarakat,
Mungkin demonya harus bilang Prabowo menistakan agama dulu baru boleh.
Jangan nyinyir sama pendemo.
THR, upah minimum, hak lembur, sampai Reformasi 1998 yang membuka jalan demokrasi hari ini. Semuanya lahir dari orang-orang yang berani bersuara dan turun ke jalan.
Guys sorry not being party pooper for the euphoria. But now Indonesia has a massive protest towards our gov. The local media seems silent, and we hope we can make it big so international media can see it.
Diskusi sama kawan
Aksi mahasiswa kali ini menarik karena berangkat bersama dari Kampus. Dilepas juga oleh Dosen yang seolah merestui.
Artinya risiko disusupi intel itu rendah. Berbeda kalau datangnya satu per satu atau berkelompok pakai angkutan umum.
Tujuannya ke Bundaran HI, bukan ke institusi pemerintah seperti Istana atau DPR RI. Artinya memang untuk mengirimkan pesan seluas-luasnya sekaligus disrupsi ekonomi.
Once seen as the darling of Southeast Asia, government policies under President Prabowo Subianto appear to be slowing Indonesia’s economic rise https://t.co/QDqdy9ovll
Di-notice ekonom amrik lho ya 😹🫵
Jujur ini harusnya memalukan banget wkwk. Program yang dibangga-banggain cuma jd lahan basah buat dikorupsi.
Ga bisa dinafikan kalau 'Embegek' ini salah satu faktor terbesar situasi ekonomi negara kita kayak skrg.
SHAME ON U, MR. PRES!
Dear SEAblings, today in Jakarta, Indonesia, there will be protests by students and various elements of society against the government. These protests will primarily highlights the government's massive spending programs, widespread corruption, economic depression—
Orasi di H.I udah mulai. Mahasiswa UI siap, sebagian lagi jalan tapi dihalangin. Relawan & logistik aman.
Yang hadir rame kali wak anak baru lulus SMA, mahasiswa berbagai kampus, ibu-ibu, bapak-bapak. Semua satu suara
BELA RAKYAT!* 🔥
Buat yang belum dateng makasih doanya. Jaga diri ya semua ❤️
Menjelang tahun 2026, kita harus semakin waspada dengan makin luasnya persebaran Pandemi Militer. Makasih @YLBHI yang sudah membuat ilustrasi keren ini.
Diskusi Buku “Reset Indonesia” di Desa Gunungsari, Madiun, Jawa Timur, batal terselenggara, Sabtu, (20/12/2025).
Acara ini diselenggarakan oleh beberapa komunitas setempat, menghadirkan tim lengkap penulis buku: Dandhy Laksono, Farid Gaban, Yusuf Priambodo dan Benaya Harobu.
Ketika acara siap dibuka, camat, lurah, sekdes, Babinsa, dan Polsek, datang meminta acara dihentikan dengan alasan tidak ada izin. Padahal panitia sudah memberikan surat pemberitahuan kepada Polsek Madiun.
Tim penulis “Reset Indonesia” telah melakukan diskusi di sekitar 45 titik di berbagai kota. Inilah untuk pertama kali diskusi dibubarkan paksa.
Setelah Madiun, tim berencana memenuhi undangan resmi Bupati Trenggalek pada 22 Desember. Sebelumnya, pada 4 Desember, kami juga menyelenggarakan diskusi di Pendopo Wakil Bupati Banyumas, Jawa Tengah, atas undangan Logawa, komunitas budaya setempat.
Selama dua bulan terakhir sejak diluncurkan pada Oktober, buku “Reset Indonesia” telah didiskusikan di berbagai komunitas, kampus, sekolah, petani dan nelayan mulai dari Jabodetabek, Serang, Sumedang, Bandung, Pangandandaran, Purwokerto, Cirebon, Pekalongan, Brebes, Batang, Yogya, Solo, Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara, dan Madiun.
#ResetIndonesia