Guys, ada analisis dari Gema Goeyardi di podcast IDX Channel yang menurut gue paling jujur dan paling langka karena dia bukan hanya bicara tentang saham, tapi tentang kondisi struktural Indonesia yang membuat investor lebih takut sekarang daripada saat pandemi COVID.
Dan ini yang paling mengejutkan:
crash IHSG 2026 ini lebih besar dari crash mini biasa tapi lebih kecil dari COVID.
Yang bikin beda adalah: s
aat COVID seluruh dunia sakit bersama.
Sekarang global menghijau, kita doang yang sakit.
Pertama kenapa ini lebih menakutkan dari pandemi untuk investor:
Gema menyebutkan sesuatu yang sangat penting:
ini adalah krisis lokal.
Bukan krisis global yang bisa dijadikan alasan bersama.
Saat COVID semua bursa dunia jatuh bersamaan.
Ada solidarity of pain.
Investor bisa bilang: ini force majeure global.
Sekarang bursa Asia menghijau,
Amerika menghijau,
tapi IHSG hampir turun 5% dalam satu hari.
Itu artinya masalahnya ada di dalam negeri kita sendiri. Dan itu jauh lebih sulit dijustifikasi kepada investor asing.
"Kalau kamu taruh blame di faktor global
you must be wrong.
Karena ini boroknya ada di kita sendiri."
Dan ini tentang MSCI yang paling perlu dipahami:
MSCI Morgan Stanley Capital Index adalah indeks acuan investor institusional global.
Dana-dana besar dari luar negeri menggunakannya sebagai benchmark.
Kalau saham Indonesia tidak ada di MSCI mereka tidak akan beli.
Dan yang bikin Gema khawatir:
ada ancaman Indonesia bisa turun
dari status emerging market ke frontier market.
Dua level di bawah.
Dampaknya:
fund manager global yang mandatnya hanya boleh beli emerging market otomatis harus sell semua saham Indonesia.
Tidak ada pilihan.
Bukan karena mereka tidak suka Indonesia tapi karena aturan mandatnya.
Tapi Gema memberi perspektif yang menarik:
kalau itu terjadi dan market turun lagi kesempatan beli murah. Karena siklusnya paling lama July sudah harus recovery.
Dan ini tentang ekspor satu pintu yang paling mengkhawatirkan:
Pemerintah mengeluarkan kebijakan ekspor komoditas satu pintu tujuannya baik:
memotong under-invoicing dan memaksa konversi devisa ke rupiah.
Tapi reaksi pemilik tambang yang Gema telepon langsung: tidak percaya.
Kenapa?
Mereka takut ini akan jadi seperti kebijakan cengkeh zaman Soeharto di mana komoditas dikontrol satu pintu dan yang terjadi justru rent-seeking dan korupsi di dalamnya.
"Tujuannya mulia sama kayak MBG mulia tujuannya.
Tapi pelaksanaannya yang selalu melenceng dari planning utama.
Pengawasannya tidak ada."
Dan yang memperparah:
pengumuman BI menaikkan suku bunga 50 basis poin yang seharusnya menjadi sinyal positif justru keluar bersamaan dengan berita ekspor satu pintu ini.
Dua berita sekaligus.
Saling membunuh efek positifnya.
Dan ini tentang rupiah yang paling jelas dari sisi angka:
Gema punya hitungan yang sangat spesifik:
switch spot rupiah ada di Rp15.000.
Itu adalah titik keseimbangan yang seharusnya.
Di Rp17.800 kerugian kita diperkirakan sekitar Rp1.600 sampai Rp2.000 triliun.
Dan yang paling mengejutkan:
untuk setiap Rp1 keuntungan dari ekspor saat rupiah di Rp17.800 konsekuensi kerugiannya Rp1,8.
"Jadi orang bilang rupiah melemah makin bagus itu ngawur karena dia enggak punya data."
Proyeksi Gema: masih ada risiko rupiah ke Rp18.220 di akhir 2026. Dan dia berharap untuk soal ini dia salah.
Dan ini dua kesalahan terbesar investor yang paling sering terjadi:
Pertama: terlalu takut cut loss.
Gema sudah warning sejak Desember 2025 bahwa IHSG akan dari 9.150 bisa turun ke 6.000.
Warning itu ada jejak digitalnya.
Tapi mayoritas investor tidak mau cut karena berpikir cut loss sama dengan kehilangan segalanya.
Padahal: cut di atas, beli lagi di bawah lebih murah itu bukan kalah. Itu manajemen risiko yang benar.
Kedua: tidak paham drawdown portfolio.
Setiap trading harus ada batas maksimum loss — misalnya 5% dari total portfolio per transaksi. Kalau punya Rp1 miliar maksimum loss per trading Rp50 juta. Disiplin itu yang menyelamatkan Gema di 2008 dan 2020.
Yang terjadi di kebanyakan investor: tidak ada disiplin ini, portofolio overweight di saham konglomerat, tidak mau stop loss — dan ketika akhirnya cut karena panik di titik paling bawah — sisa uang 30% tidak cukup untuk recovery karena harga harus naik 300% untuk balik modal.
Dan ini satu kalimat Gema yang paling penting:
"Jangan gunakan keterbatasanmu untuk menilai dunia yang tak terbatas."
Banyak yang sok tahu di market.
Merasa paling benar.
Paling bisa prediksi.
Dan market selalu menghajar mereka yang seperti itu.
Termasuk soal menghujat pemerintah sebagai strategi investasi itu tidak berguna.
Yang berguna adalah identifikasi sektor mana yang masih punya fundamental kuat, tunggu market kebal terhadap berita buruk, dan beli ketika semua orang sudah muntah-muntah ketakutan.
Crash 2026 berbeda dari COVID karena ini bukan krisis bersama dunia. Ini krisis kepercayaan lokal yang jauh lebih sulit diatasi karena tidak ada momentum solidaritas global untuk recovery bersama.
Tapi sepanjang sejarah: tidak ada market crash besar yang tidak diikuti all time high berikutnya. 2008 all time high. 2020 COVID all time high. 2024 all time high.
Yang menentukan apakah kamu selamat atau tidak bukan kondisi marketnya tapi apakah kamu punya risk management yang disiplin sebelum crash datang.
Welcome to Rp18.040 per Dolar AS. Ramalan Prof. Ferry Latuhihin terbukti nyata awal Juni ini. Celakanya, beliau prediksi ini baru pemanasan: Juni bisa tembus Rp20.000 & semester II melompat ke Rp25.000 seiring rontoknya saham Big Bank. Tim ekonomi si Omon-omon masih mau denial?
.
Guys, ada satu nama dalam sejarah ekonomi Indonesia yang menurut gue paling sering disalahpahami baik oleh yang memujanya buta-buta maupun yang membencinya habis-habisan.
Sri Mulyani Indrawati.
Dan sebelum gue ceritain siapa dia sebenarnya gue mau bilang satu hal dulu:
Tidak ada kebijakan ekonomi yang bisa menyenangkan semua orang.
Tidak pernah ada.
Tidak akan pernah ada.
Dan siapapun yang memahami ini dengan jujur akan melihat Sri Mulyani dengan cara yang sangat berbeda dari narasi yang biasanya beredar.
Mulai dari awalnya karena latar belakang membentuk karakter:
Sri Mulyani lahir 1962.
Anak dari dua profesor di Universitas Negeri Semarang.
Bukan dari keluarga dinasti politik.
Bukan dari konglomerat.
Dari rumah tangga akademis di mana angka, logika, dan dedisiplin ilmu adalah makanan sehari-hari.
Dari situ dia menembus UI lalu terbang ke Amerika. Meraih Master of Science of Policy Economic tahun 1990. PhD Economics dari University of Illinois tahun 1992.
Dan pada tahun 2002 di usia 40 tahun dia duduk sebagai Executive Director IMF di Washington DC.
Mewakili dan menyuarakan kepentingan ekonomi 12 negara Asia Tenggara dari markas besar lembaga keuangan paling berpengaruh di dunia.
Hidupnya nyaman.
Karirnya cemerlang.
Jauh dari carut-marut politik Indonesia yang kotor.
Tapi kemudian SBY memanggilnya pulang:
Tahun 2005. Dan tempat yang dia masuki bukan kantor nyaman dengan karpet merah.
Tapi sebuah institusi yang saat itu bisa digambarkan sebagai sarang penyamun terbesar di Indonesia.
Kementerian Keuangan era awal 2000-an:
pungutan liar, suap mafia pajak, penyelundupan di Bea Cukai, pemerasan sistematis terhadap wajib pajak. Semua itu adalah tradisi harian yang dianggap lumrah.
Sri Mulyani masuk dengan satu misi yang hampir mustahil:
membersihkan institusi yang sudah busuk dari dalam.
Caranya radikal:
sistem administrasi dirombak total.
Remunerasi pegawai dinaikkan drastis untuk memotong insentif suap.
Pengawasan internal diperketat tanpa pandang bulu.
Dan dia menarik dua nama sebagai jangkar moral Marsilam Simanjuntak dan Mar'ie Muhammad, mantan Menteri Keuangan Orde Baru yang dijuluki Mr. Clean.
Reformasi ini berhasil.
Perlahan Kementerian Keuangan berubah menjadi institusi yang modern dan disegani.
Ini bukan klaim ini diakui oleh lembaga-lembaga internasional.
Dan kemudian krisis 2008 datang:
Lehman Brothers bangkrut.
Wall Street runtuh.
Modal asing lari dari seluruh negara berkembang.
Rupiah terguncang.
Perbankan Indonesia menahan napas.
Sri Mulyani bukan hanya Menteri Keuangan saat itu. Dia juga menjadi Plt.
Menko Perekonomian menggantikan Boediono yang dilantik jadi Gubernur BI.
Di tangannya seluruh keputusan fiskal dan stabilitas makroekonomi Indonesia.
Hasilnya:
Indonesia tetap tumbuh positif.
Di saat negara-negara maju masuk jurang resesi Indonesia bersama China dan India menjadi tiga negara yang masih tumbuh.
Bukan keajaiban.
Tapi hasil dari keputusan fiskal yang dingin, realistis, dan berani di saat semua orang panik.
Dunia mengakui ini.
Tahun 2018 di Dubai di hadapan para pemimpin dari seluruh dunia Sri Mulyani menerima penghargaan Menteri Keuangan Terbaik di Dunia.
Diserahkan langsung oleh penguasa Dubai Syekh Mohammed bin Rashid Al Maktoum.
Dan di G20 tahun 2009 dia secara terbuka menegur Presiden Amerika Barack Obama yang memotong waktu pidato Presiden SBY.
Tanpa ragu.
Dan Obama tersenyum mengakui kesalahannya dan meminta maaf.
Tapi di tengah semua itu ada keputusan yang membayanginya selamanya:
20 November 2008.
Malam yang mengubah segalanya.
Saat rakyat Indonesia tidur rapat darurat digelar di Kementerian Keuangan.
Topiknya: Bank Century bank kecil yang sekarat kehabisan likuiditas.
Sri Mulyani dihadapkan pada pilihan paling dilematis dalam hidupnya:
biarkan bank ini mati dengan risiko kepanikan massal yang bisa meruntuhkan seluruh sistem perbankan Indonesia atau selamatkan dengan uang rakyat meski dia tahu itu akan menjadi bom waktu.
Dia memilih menyelamatkan.
Dana talangan: Rp6,7 triliun.
Dan bom waktu itu meledak.
KPK menemukan bahwa penyelamatan ini menabrak aturannya sendiri regulasi diubah kilat agar bank yang sekarat itu terlihat layak dibantu.
Deputi Gubernur BI Budi Mulya dipenjara.
Nama Boediono terseret.
Sri Mulyani sebagai Ketua Komite Stabilitas Sektor Keuangan yang mengetuk palu persetujuan berada langsung di bawah radar.
Di persidangan tahun 2014 dia membela dirinya:
"Sebagai policy maker, saya malam itu harus memilih mudhorot yang sekecil-kecilnya."
Apakah keputusan itu murni untuk menyelamatkan rakyat atau ada kepentingan yang tersembunyi?
Sampai hari ini jawabannya tidak pernah sepenuhnya terjawab di pengadilan.
Dan kemudian politik menghabisinya:
DPR membentuk Pansus Hak Angket Century.
Para politisi melihat peluang emas untuk menjatuhkan sang teknokrat yang selama ini susah dikendalikan karena reformasinya mengancam kepentingan mereka.
Sri Mulyani tidak tiarap.
Dia menyerang balik lewat wawancara eksklusif di Wall Street Journal menyatakan bahwa penyelidikan parlemen bukan untuk mencari kebenaran hukum tapi operasi politik terstruktur untuk menjatuhkannya.
Tapi lanskap politik Jakarta terlalu beracun.
Pada 1 Juni 2010 dia mundur dari kabinet.
Dan di hari yang sama dia terbang ke Washington DC untuk menjadi Managing Director Bank Dunia.
Posisi yang belum pernah dijabat oleh seorang pun dari Indonesia sebelumnya.
Dia pergi.
Dengan status yang terbelah:
di mata dunia martir reformasi yang disingkirkan politisi korup.
Di mata sebagian rakyat sosok yang pergi meninggalkan utang penjelasan atas Rp6,7 triliun uang rakyat.
Tapi 6 tahun kemudian Jokowi memanggilnya kembali:
Tahun 2016.
Dan kali ini cobaan yang dia hadapi lebih berat dari krisis global manapun.
Utang pemerintah mencapai Rp7.733,99 triliun di akhir 2022.
Dia menjawab: utang bukan dosa kalau dikelola konstruktif untuk infrastruktur, pendidikan, kesehatan.
PPN dinaikkan ke 11% di 2022 saat rakyat masih memulihkan diri dari pandemi.
Faisal Basri mengkritik keras:
"Rakyat dipaksa berbagi beban.
Tapi adilnya di mana?"
Dan kemudian bom waktu yang paling menyakitkan:
Februari 2023 penganiayaan oleh anak pejabat pajak Rafael Alun Trisambodo membuka kotak Pandora.
Publik melihat kemewahan Rubikon dari keluarga pegawai pajak dan langsung menarik kesimpulan: inikah hasil dari pajak yang kami bayar?
Sri Mulyani marah.
Bukan pura-pura marah.
Benar-benar marah.
Kepada Irjen Kemenkeu yang berbicara lembut dia berteriak:
"Enggak ada mengimbau. Instruksikan."
Tapi kemarahan itu tidak cukup untuk mengembalikan kepercayaan publik yang sudah terlanjur robek.
Dan kemudian Mahfud MD membongkar transaksi janggal Rp349 triliun di tubuh Kementerian Keuangan.
Sri Mulyani terjepit harus terlihat tegas di depan publik tapi harus menjaga stabilitas sistem yang sudah rapuh.
Dan ini yang paling penting untuk dipahami:
Kontras antara Sri Mulyani yang ada di dunia internasional dan Sri Mulyani yang ada di dalam negeri adalah cermin dari kontradiksi terdalam Indonesia sendiri.
Dunia menghargainya karena dia menjaga disiplin fiskal yang menyelamatkan Indonesia dari dua krisis global.
Karena dia berani mengambil keputusan tidak populis yang secara teknis benar.
Rakyat membencinya karena keputusan yang sama itu terasa menyakitkan di dompet mereka sehari-hari.
Dan keduanya tidak ada yang sepenuhnya salah.
Tapi ini yang paling perlu dibandingkan dengan kondisi sekarang:
Di era SBY Sri Mulyani berdiri di depan badai krisis 2008 dengan data yang jujur, kebijakan yang konsisten, dan komunikasi yang tidak menghina kecerdasan rakyat. Indonesia tumbuh positif.
Di era sekarang Ferry Latuhihin memprediksi rupiah ke Rp22.000. The Economist disebut "bego". Pejabat bilang "orang desa tidak pakai dolar." Defisit Q1 sudah 36,8% dari batas tahunan.
Sri Mulyani punya banyak kekurangan. Skandal Century tidak pernah sepenuhnya terjawab. Kebijakan pajaknya menyakitkan.
Dan institusi yang dia bersihkan setengah mati tetap mengkhianatinya dari dalam.
Tapi satu hal yang tidak pernah dia lakukan: mengganti definisi "stabil" agar kondisi buruk terlihat bagus.
Dan itu di tengah semua yang sedang terjadi sekarang adalah sesuatu yang terasa sangat langka dan sangat jauh.
Sri Mulyani bukan malaikat.
Bukan juga penjahat.
Dia adalah teknokrat yang memilih jalan paling sunyi dan paling tidak populis disiplin fiskal di saat semua orang ingin jalan yang mudah dan menyenangkan.
Sejarah tidak akan mencatatnya sebagai sosok yang dicintai semua orang.
Tapi mungkin akan mencatatnya sebagai seseorang yang di antara segala kontroversi dan pengkhianatan dari sistem yang dia bangun memilih untuk tetap bekerja dengan data dan bukan dengan tepuk tangan.
Dan dalam sistem yang semakin banyak dihuni oleh orang yang mencari jabatan untuk kaya bukan untuk mengabdi itu adalah sesuatu yang jarang.
IHSG -8,35% dalam sepekan. Salah satu yang terburuk di Asia.
Di hari yang sama, Dow Jones cetak record high dan S&P 500 membukukan pekan ke-8 beruntun hijau.
Ini bukan kebetulan. Ini divergence struktural terbesar tahun 2026.
Saya akan bedah lengkap apa yang terjadi pekan 18-22 Mei — kronologinya, mekanismenya, dan 3 pelajaran yang bisa Anda pakai seumur hidup.
Panjang, tapi worth it. Mari mulai.
━━━━━━━━━━━━━━━━━
BAGIAN 1: PEKAN YANG MENGHAPUS RP 1.190 TRILIUN
Angka resmi pekan 18-22 Mei 2026:
- IHSG: 6.723 → 6.162 (-8,35%, -561 poin)
- Kapitalisasi pasar: Rp 11.825 T → Rp 10.635 T
- Yang lenyap: Rp 1.190 triliun (-10,07%)
- Low intraday: 5.966 (Jumat pagi, tembus 6.000)
- Rata-rata transaksi harian: Rp 21,77 T (NAIK 15,68%)
Perhatikan poin terakhir. Transaksi NAIK saat indeks turun. Itu artinya bukan pasar sepi yang ditinggalkan — ini distribusi aktif. Ada yang jual besar, ada yang beli besar. Pertarungan, bukan kekosongan.
Rp 1.190 triliun menguap dalam 5 hari. Itu setara dengan PDB sebagian negara. Hilang dalam sepekan.
Tapi angka hanya gejala. Yang penting: KENAPA.
━━━━━━━━━━━━━━━━━
BAGIAN 2: PLAY-BY-PLAY HARIAN
Biar Anda paham ritmenya, ini kronologi harian:
SENIN-SELASA (18-19 Mei):
Tekanan awal dari asumsi RAPBN 2027 dan ketidakpastian kebijakan ekspor SDA. Rupiah merangkak ke 17.700.
RABU (20 Mei): IHSG -0,82% ke 6.318
BI Rate hike +50bps ke 5% — lebih agresif dari konsensus (+25bps). Sektor keuangan menguat (margin bunga bank melebar), sisanya tertekan.
KAMIS (21 Mei): IHSG CRASH -3,54% ke 6.094
Hari terburuk. Breadth 663 saham turun, hanya 88 naik (rasio 7,5:1 — capitulation-like). Terjadi PERSIS saat Dow cetak record high. Decoupling ekstrem.
JUMAT (22 Mei): IHSG REBOUND +1,10% ke 6.162
Dibuka lemah, terjun ke 5.966 (di bawah 6.000), lalu BANGKIT kuat ke 6.171. Pola hammer/reversal candle. Energi +4,84%, basic materials memimpin.
Lima hari, tiga babak: tekanan → crash → rebound.
━━━━━━━━━━━━━━━━━
BAGIAN 3: TIGA PUKULAN YANG DATANG BERSAMAAN
IHSG tidak jatuh karena satu hal. Tiga faktor domestik menghantam serentak. Mari bedah mekanismenya satu per satu.
1️⃣ MSCI DELETION — Forced Selling Mekanikal
MSCI adalah penyedia index global yang diikuti TRILIUNAN dolar dana pasif. Ketika MSCI keluarkan saham dari index (effective 29 Mei), semua passive fund yang tracking MSCI WAJIB jual.
Ini mekanikal. Robot. Tidak peduli:
— Valuasi murah atau mahal
— Fundamental bagus atau jelek
— Harga sudah turun berapa pun
Korbannya brutal sepekan:
- TPIA: -53,49% (laggard #1, kontribusi -47,55 poin SENDIRIAN)
- DSSA: -47,34%
- BREN: -23,44%
Ketiganya saham konglomerasi Prajogo Pangestu. Saat saham bermarket cap besar tapi free float terkonsentrasi (HSC — High Shareholding Concentration) dikeluarkan dari index, efeknya destruktif. Tidak ada cukup pembeli alami untuk menyerap jualan paksa.
Pelajaran tersembunyi: konsentrasi kepemilikan tinggi + market cap besar = ilusi keamanan. Free float rendah artinya saat harus jual, tidak ada yang menampung.
2️⃣ BI RATE HIKE +50bps — Defend Rupiah
Bank Indonesia naikkan suku bunga ke 5%, lebih agresif dari ekspektasi pasar (+25bps).
Kenapa naikkan rate saat saham sedang lemah?
Karena tujuannya BUKAN saham. Tujuannya defend rupiah yang menembus 17.700. Rate lebih tinggi → rupiah lebih menarik → memperlambat capital outflow.
Tapi efek sampingnya ke saham:
— Cost of capital naik → laba tertekan
— Discount rate naik → valuasi turun (terutama growth stocks)
— Deposito/obligasi jadi alternatif menarik → dana pindah dari saham
Pengecualian: BANK justru untung. Net Interest Margin melebar. Itu kenapa sektor keuangan satu-satunya yang relatif tahan.
3️⃣ KEBIJAKAN EKSPOR SATU PINTU — Resource Nationalism
Rencana: ekspor CPO, batu bara, feroalloy WAJIB lewat BUMN sebagai pengekspor tunggal.
Kekhawatiran pasar:
— BUMN ambil "potongan" → margin perusahaan tergerus
— Potensi pengendalian harga jual → revenue uncertainty
— Kompleksitas administrasi → biaya naik
Ironisnya: saat rupiah lemah, eksportir komoditas SEHARUSNYA untung (revenue USD, cost rupiah). Tapi kebijakan ini menghapus keuntungan itu. Sektor pelindung malah jadi sumber tekanan.
Tiga-tiganya DOMESTIK. Bukan global. Ingat poin ini.
━━━━━━━━━━━━━━━━━
BAGIAN 4: SEMENTARA ITU, DI BELAHAN DUNIA LAIN
Pekan yang sama, pasar global pesta:
🟢 Dow Jones: 50.579 — RECORD HIGH
🟢 S&P 500: 7.473 — pekan ke-8 beruntun hijau
🟢 Nasdaq: 26.343 — naik
🟢 Dell +16,77%, HP double digit (earnings optimism)
Drivernya: harapan damai US-Iran via mediasi Pakistan. Menlu Rubio sebut ada "good signs." Minyak turun dari $112 ke $100. Risk-on global kembali.
Bahkan Nvidia melaporkan earnings yang beat semua ekspektasi pekan ini:
— EPS $1,87 vs $1,77
— Revenue $81,62B vs $79,18B
— Q2 guidance $89-92,8B vs $87,3B
— Dividend naik 2.400%, buyback $80 miliar
(Menariknya, saham Nvidia justru -1,77% — "sell the news" klasik. Ekspektasi sudah priced-in.)
Bursa Asia lain ikut menguat mengikuti Wall Street.
Indonesia? Satu-satunya yang anjlok tajam.
Ini poin krusialnya:
Kalau global yang bermasalah → SEMUA pasar Asia turun.
Tapi cuma Indonesia yang -8,35% → masalahnya jelas DOMESTIK.
━━━━━━━━━━━━━━━━━
BAGIAN 5: DECOUPLING DIJELASKAN
Banyak yang asumsi: "Kalau US naik, IHSG pasti ikut."
Asumsi ini SALAH dalam kondisi tertentu.
Korelasi antar pasar TIDAK KONSTAN. Ia bergerak:
IHSG vs S&P 500:
— Kondisi normal: ρ ≈ 0,62 (cukup searah)
— Risk-off global: ρ ≈ 0,83 (sangat searah, sama-sama turun)
— Domestic shock: bisa NEGATIF (berlawanan arah)
Pekan ini = domestic shock dominan. Faktor global positif (Iran, oil turun), tapi faktor domestik super-negatif (MSCI + rate + policy) jauh lebih kuat. Hasilnya: IHSG -8,35% saat dunia hijau.
Inilah DECOUPLING. Dan ini pelajaran pertama.
━━━━━━━━━━━━━━━━━
PELAJARAN #1: DIVERSIFIKASI GEOGRAFI BUKAN TEORI
Bayangkan dua investor pekan ini, modal masing-masing Rp 100 juta:
INVESTOR A — 100% saham Indonesia:
Portfolio: -8,35% = Rp 91,65 juta
Tidak ada tempat berlindung. Semua merah.
INVESTOR B — terdiversifikasi:
30% US (hijau), 20% Bitcoin (flat), 15% emas (stabil), 35% IHSG (-8,35%)
Dampak IHSG cuma -2,9% ke total portfolio.
Portfolio: sekitar -2% sampai -3%.
Bedanya bukan kepintaran memprediksi crash. Bedanya: STRUKTUR portfolio.
Diversifikasi geografi terdengar membosankan saat semua naik. Tapi di pekan seperti ini, ia satu-satunya yang menyelamatkan.
Kebanyakan retail Indonesia: 100% saham Indonesia. Itu bukan diversifikasi — itu konsentrasi risiko geografis.
━━━━━━━━━━━━━━━━━
BAGIAN 6: BITCOIN — SI ANAK TENGAH
Bitcoin pekan ini: ~$76.600, relatif flat (-2%).
Sempat dip ke $75.500 (Rabu, saat eskalasi Iran), lalu recover. Tapi gagal tembus $80K.
Yang menarik: BTC turun di hari saham naik. Decoupling juga.
Kenapa? Jawabannya satu kata: YIELD.
Yield Treasury 30Y tembus 5% (level pra-krisis 2008). Logikanya sederhana:
Saat obligasi pemerintah kasih 5% risk-free, aset TANPA yield jadi relatif kurang menarik.
— Bitcoin: tidak ada yield
— Emas: tidak ada yield (Gold juga tertekan, $4.523)
Investor bertanya: "Kenapa pegang BTC/emas kalau obligasi kasih 5% tanpa risiko?"
Itu logika di balik tekanan.
Tapi konteks jangka panjang penting. Data Bitcoin saat ini:
— 52-week range: $60.187 - $126.186
— 12 bulan: -22,1%
— MVRV masih di zona deep undervaluation
Veteran trader Peter Brandt proyeksi BTC bisa $250K akhir 2029 — TAPI setelah fase bottoming yang mungkin berlangsung sampai Sept/Okt 2026.
Ini align dengan matematika siklus halving:
— Halving terakhir: April 2024
— Bull market historis puncak 16-18 bulan post-halving
— Berarti puncak ~2029
— Fase sekarang (2026) = akumulasi panjang, BUKAN euforia
Untuk yang punya thesis jangka panjang: ini DCA zone ($73-76K), bukan FOMO zone. Patience.
━━━━━━━━━━━━━━━━━
PELAJARAN #2: WARNING TERBESAR ADA DI PASAR OBLIGASI
Semua mata tertuju ke saham yang cetak record. Tapi warning sesungguhnya ada di tempat yang sepi: yield Treasury.
Yield 30Y >5%. Yield 10Y >4,56%. Level yang tidak konsisten terlihat sejak SEBELUM krisis finansial global 2008.
"Saham record high + yield 30Y di 5%" adalah kombinasi yang historis tidak sustainable.
Mekanismenya:
Yield tinggi → cost of capital naik → tekanan valuasi saham → cepat atau lambat, salah satunya menyerah.
Plus konteks tambahan:
— Probabilitas FOMC rate hike sedang naik cepat
— Fed chair baru Kevin Warsh baru ambil sumpah 22 Mei (era kebijakan baru, lebih hawkish?)
— VIX cuma 16,70 (rendah, complacent) — pasar belum harga in risiko ini
Satu nuansa adil: valuasi forward P/E sektor semiconductor JUSTRU lebih rendah YTD meski rally, karena earnings expectations naik. Jadi sebagian rally ini "earned" oleh fundamental, bukan murni multiple expansion. Tapi yield 30Y >5% tetap warning struktural yang tidak boleh diabaikan.
Lesson: jangan cuma baca saham. Baca yield. Sinyal paling penting sering datang dari pasar yang paling membosankan.
━━━━━━━━━━━━━━━━━
BAGIAN 7: SECERCAH HARAPAN — TANDA STABILISASI
Di tengah pekan brutal, muncul empat tanda yang sering dilewatkan:
1. FOREIGN NET SELL MEREDA TAJAM
- Pekan ini (18-22 Mei): Rp 808 miliar
- Pekan lalu (11-13 Mei): Rp 3,21 triliun
- 4-8 Mei: Rp 2,4 triliun
- 27-30 April: Rp 5,5 triliun
Lihat trennya: Rp 5,5T → Rp 2,4T → Rp 3,2T → Rp 808M. Outflow asing MENURUN drastis. Tekanan jual melemah signifikan.
2. REBOUND JUMAT DARI 5.966
Uji di bawah 6.000, lalu hold dan bangkit. Pola hammer candle klasik = buyer menang di akhir hari. Potensi capitulation low.
3. SINYAL UNDERVALUED DARI ORANG DALAM
CEO Danantara Rosan Roeslani DAN Menkeu Purbaya sama-sama sebut saham (terutama bank) undervalued. Purbaya bahkan optimistis IHSG bisa tembus 8.000. Bank dengan PBV di bawah 1× = historis murah.
4. ROTASI, BUKAN EXODUS TOTAL
Meski BBCA paling dijual asing (Rp 1,03 T), saham BMRI, BBCA, dan BUMI justru diborong. Ini rotasi selektif, bukan kabur total. UNIC bahkan +11,03% sepekan.
Semua ini sinyal: capitulation mungkin mendekati akhir.
━━━━━━━━━━━━━━━━━
PELAJARAN #3: FORCED SELLING ≠ PANIC SELLING
Ini konsep yang membedakan investor matang dengan pemula.
PANIC SELLING:
— Driven emosi
— Tidak ada tanggal selesai
— Butuh katalis positif untuk berhenti
FORCED SELLING (MSCI rebalancing):
— Mekanikal, passive fund WAJIB rebalance
— ADA tanggal selesai yang PASTI = 29 Mei
— Tidak peduli valuasi atau fundamental
Setelah 29 Mei (MSCI effective), tekanan mekanikal HILANG. Fundamental kembali jadi penentu harga.
Artinya: rebound Jumat ini RELIEF, belum tentu REVERSAL sejati. Konfirmasi bottom yang solid = SETELAH forced selling 29 Mei selesai.
Yang membedakan relief rally dari reversal sejati:
— Relief: terjadi SEBELUM tekanan terakhir selesai, sering "dead cat bounce"
— Reversal: terjadi SETELAH tekanan habis, volume konfirmasi, higher low terbentuk
Jadi jangan tebak bottom sebelum tekanan terakhir (29 Mei) lewat. Sabar menunggu konfirmasi lebih murah daripada salah tebak.
━━━━━━━━━━━━━━━━━
BAGIAN 8: KALENDER PEKAN DEPAN
📅 25 Mei (Sen): US markets TUTUP (Memorial Day) — volume tipis
📅 26-28 Mei: Dell/HP earnings, data ekonomi US
📅 28 Mei: Konfirmasi kebijakan ekspor (jadi ditunda ke 2027?)
📅 29 Mei (Jum): MSCI EFFECTIVE — forced selling PUNCAK
Setelah 29 Mei = momen evaluasi reversal. Itu tanggal yang saya lingkari.
━━━━━━━━━━━━━━━━━
BAGIAN 9 : AKUNTABILITAS — TRACK RECORD
Saya percaya research harus accountable. Forecast pekan lalu vs hasil:
✅ HIT: "IHSG uji/tembus 6.000" → low 5.966
✅ HIT: "5.966 jadi swing low" → hold, lalu rebound
✅ HIT: "US yield 30Y >4,8%" → tembus 5%
✅ HIT: "BTC di bawah $80K" → $76,6K
✅ HIT: "Dow tetap di area record" → 50.579 record
🔴 Yang kami underestimate: severity crash 21 Mei (-3,54%). Forecast rebound 50% confidence, aktual crash dulu baru rebound. Decoupling lebih kuat dari model.
Profit bisa karena luck. Tapi akurasi prediksi yang ditrack = skill yang compound. Itu kenapa setiap research saya cantumkan forecast + hasilnya.
━━━━━━━━━━━━━━━━━
PENUTUP
Pekan ini mengajarkan tiga hal:
1. DECOUPLING ITU NYATA.
IHSG -8,35% saat Dow record = bukti masalah struktural domestik, bukan global. Korelasi pasar tidak konstan.
2. DIVERSIFIKASI BUKAN PILIHAN.
Portfolio 100% satu geografi tidak punya perlindungan di pekan seperti ini. Investor A: -8,35%. Investor B (diversifikasi): -2 sampai -3%.
3. PEKAN TERBURUK SERING DATANG TEPAT SEBELUM TEKANAN TERAKHIR HABIS.
Yang membedakan yang bertahan dengan yang hancur bukan kemampuan menghindari pekan ini — tapi diversifikasi yang menahan dampak, dan kesabaran untuk deploy setelah forced selling (29 Mei) selesai.
Forced selling selalu ada tanggal selesainya.
Tekanan terakhir: 29 Mei.
Setelah itu, kita evaluasi ulang.
Capital preservation di tengah badai. Bukan FOMO global, bukan panic lokal.
Stay patient. Stay diversified. Stay sharp. 📊
━━━━━━━━━━━━━━━━━
Bukan saran investasi. DYOR — keputusan investasi sepenuhnya tanggung jawab Anda.
Kalau thread ini berguna, repost biar lebih banyak yang paham kenapa IHSG bisa beda arah dari global, dan kenapa diversifikasi itu wajib. 🔄
Pertanyaan? Drop di reply. Saya bahas yang paling menarik di research berikutnya.
#IHSG #Bitcoin #DowJones #saham #investasi #MSCI #ekonomi #pasarmodal #literasikeuangan #BEI
Guys, ada forum di Yogyakarta di kampus tertua Indonesia, UII yang menurut gue paling jujur dan paling berani membahas satu pertanyaan yang tidak berani dijawab oleh siapapun di Jakarta:
28 tahun reformasi ke mana perginya?
Dan yang menjawab bukan orang pinggiran.
Ada Mahfud MD.
Ada Rocky Gerung.
Ada Tio Ardianto.
Ada Oki Madasari.
Ada Prof. Suparman Marzuki.
Dan jawaban mereka sangat menyakitkan untuk didengar.
Satu kata untuk reformasi dari masing-masing:
Mahfud MD: "Autocratic legalism."
Bukan satu kata tapi satu konsep yang menghancurkan.
Hukum dibuat untuk melegalkan kejahatan bukan mencegahnya.
Suparman Marzuki: "Reformasi dikangkangi."
Rocky Gerung: "Bisnya sudah mogok."
Oki Madasari: "Reformasi sudah mati."
Dan tidak ada yang membantah satu pun dari keempatnya.
Dan ini yang paling mengerikan dari seluruh malam itu:
Mahfud mengingatkan enam agenda reformasi 1998. Satu per satu diperiksa:
Adili Soeharto dan kroninya belum selesai.
Bahkan sekarang Soeharto sedang dipoles menjadi pahlawan.
Amandemen UUD 1945 sudah dilakukan.
Tapi sekarang ada kelompok yang ingin kembali ke UUD asli.
Penghapusan dwi fungsi ABRI sudah dihapuskan secara formal.
Tapi Oki menghitung ada lima area di mana militerisme sekarang kembali bekerja:
politik pemerintahan, ekonomi, lingkungan dan pangan, pendidikan, dan kebudayaan.
Pemberantasan KKN
KPK dibentuk.
Tapi indeks persepsi korupsi tahun ini adalah yang paling buruk sejak sebelum reformasi.
Supremasi hukum pengadilan kita sekarang kata Rocky adalah pasar gelap keadilan.
"Pasal ada harganya, koma ada harganya."
Otonomi daerah berjalan.
Tapi ada keinginan untuk kembali ke pemilihan lewat DPRD.
Dan ini yang Mahfud sebut sebagai Autocratic Legalism:
"Hukum dibuat untuk melegalkan korupsi.
Orang korupsi menjadi sah karena aturannya dibuat lebih dulu.
Kekuatan politik berkolusi di DPR lalu dibuat aturan-aturan yang merusak hukum sehingga semua kesalahan itu dikatakan aturannya sudah benar."
Ini bukan teori dari luar.
Kim Lane Scheppele dari Chicago University menulisnya tahun 2020.
Tapi Mahfud sudah menulis hal yang sama dalam disertasinya di UGM tahun 1993 dia sebut positivistik instrumentalistik.
Sesuatu yang tidak benar dijadikan hukum positif sebagai instrumen untuk membenarkan kekuasaan.
Dan itu terjadi lagi sekarang.
Dengan nama yang berbeda.
Dengan wajah yang berbeda.
Tapi dengan pola yang persis sama.
Dan Tio bilang sesuatu yang paling berani malam itu:
"Apa yang dilakukan di hari pertama Prabowo berkuasa?
Dia mengangkat Teddy sebagai Seskab yang jelas-jelas melanggar Undang-Undang TNI.
Sesudah tahu itu melanggar
bukan Teddy yang dicopot.
Tapi undang-undangnya yang diubah."
"Kalau kekuasaan sejak mau berkuasa saja rela menghalalkan segala cara mana mungkin selama 5 tahun dia berkuasa dia akan pakai etika?"
"Hanya ada dua jenis manusia yang berbaik sangka pada penguasa seperti ini:
orang bodoh, atau orang yang turut menikmati kekuasaan."
Dan Oki Madasari merinci militerisme yang sedang merayap:
Teddy Indra Wijaya tentara aktif duduk sebagai Seskab.
Kepala daerah seluruh Indonesia diundang retreat di Magelang pakai baju loreng.
Ketua DPRD se-Indonesia diundang retreat pakai loreng.
Penerima beasiswa LPDP akan dilatih baris-berbaris oleh tentara. Militer masuk mengelola MBG sektor pangan.
Militer masuk di Koperasi Desa Merah Putih sektor ekonomi.
Dan sejarah sedang ditulis ulang Soeharto yang seharusnya diadili mulai dipoles menjadi pahlawan.
"Ketika militerisme masuk dalam area lingkungan konflik agraria antara rakyat dan pemodal akan semakin merepresi rakyat.
Karena tentu saja militer akan berpihak pada pemodal."
Dan Rocky memberikan analisis yang paling dalam:
"Kita sudah keluar dari rumah Orde Baru tapi belum berani masuk ke rumah demokrasi.
Di depan kita lalu lalang tentara, lalu lalang parcok.
Kita berdiri di antara dua rumah itu. Itulah kondisi kita sekarang."
Dan dia bilang sesuatu yang sangat penting soal 1998:
Kita tepuk tangan ketika Soeharto step down. Padahal tepuk tangan itulah yang merusak arah gerakan mahasiswa.
Kita perlu revolusi tapi kata itu kita cegat di otak kita sendiri karena dianggap kiri.
Padahal negeri ini didirikan oleh mereka yang berpikir kiri.
Dan Suparman Marzuki bilang sesuatu soal HAM yang paling pedih:
"Pemerintah sekarang tidak hanya melakukan crime by commission menangkap, menahan, merepresi
Tapi juga crime by omission diam membiarkan yang terjadi.
Dua kejahatan kemanusiaan dilakukan sekaligus."
"Berapa yang meninggal karena MBG?
Oh dikali 280 juta kalau yang meninggal sekian persen.
Diatistikkan hidup orang.
Bangsa ini tidak punya empati.
Tidak punya satu kalkulasi kemanusiaan yang pantas."
Dan Mahfud menutup dengan empat dis yang paling menakutkan:
"Proses bubarnya sebuah negara berjalan di atas empat dis: disorientasi, distrust, disobedience, dan disintegrasi."
"Ketika pemerintah tidak peduli konstitusi dan hukum — timbul distrust.
Rakyat tidak percaya.
Kalau distrust terus dibiarkan terjadi disobedience, pembangkangan.
Kalau dibiarkan menumpuk dan meledak bisa terjadi disintegrasi.
Dan kalau sudah disintegrasi sulit dikembalikan. Kita menyatukannya dengan berdarah-darah."
Dan dia menutup dengan satu kalimat yang sangat berat: "
Masih ada waktu untuk merawat Indonesia.
Mari kita rawat."
Tapi kalimat itu terasa seperti peringatan bukan jaminan.
28 tahun reformasi.
Dan malam itu di Yogyakarta lima orang terpelajar duduk bersama mahasiswa dan menyimpulkan bahwa hampir tidak ada satu pun dari enam agenda reformasi yang benar-benar tuntas.
Bukan karena agendanya salah.
Tapi karena setiap kali ada yang mau menegakkan agenda itu sistemnya bergerak untuk memastikan penegakan itu gagal.
Hukum diubah.
Undang-undang direkayasa.
Kritikus dibungkam.
Dan rakyat yang sudah lelah diam.
Dan sekarang 28 tahun setelah reformasi polanya sama persis dengan yang mereka lawan dulu.
Hanya wajahnya yang berbeda.
Hanya namanya yang beda.
Sisanya identik.
Guys, ada berita hari ini yang menurut gue paling mengungkapkan sekaligus paling memalukan dalam sejarah ekonomi Indonesia.
Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan membawa laporan 10 perusahaan yang melakukan under invoicing ke makan siang bersama Prabowo.
CPO. Batu bara.
Manipulasi data ekspor.
Perusahaan melaporkan harga ekspor jauh di bawah harga riil dengan cara membuat perusahaan di luar negeri dan menjual ke sana dengan harga murah, lalu di luar negeri dijual dengan harga sesungguhnya.
Hasilnya:
pendapatan di Indonesia terlihat kecil.
Pajak dan royalti yang dibayar ke negara kecil.
Tapi keuntungan riil masuk ke rekening di luar negeri.
Dan ini berlangsung selama 34 tahun.
Dari 1991 sampai 2024.
Kerugian negara: Rp15.400 triliun.
Dan ini pertanyaan yang tidak bisa diabaikan:
Selama 34 tahun di mana Bea Cukai?
Di mana Direktorat Jenderal Pajak?
Di mana KPK?
Di mana semua lembaga yang dibayar dari pajak rakyat untuk memastikan hal seperti ini tidak terjadi?
Prabowo bilang ini adalah data dari PBB.
Artinya data ini bukan baru kemarin ada.
Data ini sudah diketahui secara internasional.
PBB sudah mencatatnya.
Dunia sudah tahu.
Tapi selama 34 tahun tidak ada yang bertindak di dalam negeri.
Dan ini yang paling menohok:
Purbaya bilang dia punya data 10 perusahaan teratas yang melakukan under invoicing.
Dia bawa laporannya ke makan siang dengan presiden.
Tapi dia tidak mau mengungkap nama perusahaannya.
"Kalau ditanya saya akan jawab tapi kalau enggak ditanya tidak."
Perusahaan yang sudah merugikan negara Rp15.400 triliun namanya tidak boleh disebutkan ke publik.
Rakyat yang membayar pajak. Rakyat yang kehilangan Rp15.400 triliun potensi penerimaan negara selama 34 tahun.
Rakyat yang anggaran pendidikannya dipotong.
Rakyat yang subsidi BBM-nya terus dikurangi.
Rakyat yang guru-gurunya digaji Rp1,5 juta per bulan.
Rakyat itu tidak berhak tahu siapa yang mencuri uang mereka.
Dan ini yang perlu dipahami soal Bea Cukai:
Kasus ini tidak muncul dari kerja keras pemerintah yang tiba-tiba menemukan under invoicing setelah 34 tahun.
Ini muncul setelah tertangkapnya sejumlah petugas Bea Cukai.
Ketika petugas yang selama ini menjadi kunci karena mereka yang menandatangani dan memvalidasi data ekspor mulai tertangkap, barulah praktik ini mulai terungkap.
Artinya: Bea Cukai bukan tidak tahu. Bea Cukai adalah bagian dari sistemnya.
Pejabat yang seharusnya mencegah manipulasi data ekspor adalah pejabat yang selama ini membiarkan atau bahkan memfasilitasinya.
Dan ketika mereka tertangkap barulah semua ini keluar ke permukaan.
Dan ini angka yang harus benar-benar dipahami:
Rp15.400 triliun selama 34 tahun.
Anggaran pendidikan Indonesia per tahun:
Rp700 triliun.
Uang yang dicuri dari negara melalui under invoicing bisa membiayai pendidikan Indonesia selama 22 tahun tanpa perlu memungut pajak sepeser pun dari rakyat.
MBG yang diklaim untuk rakyat menghabiskan Rp335 triliun per tahun.
Uang yang dicuri melalui under invoicing bisa membiayai MBG selama 46 tahun.
Rp15.400 triliun.
Hilang.
Selama 34 tahun.
Dan tidak ada satu pun orang yang masuk penjara karenanya.
Dan ini yang paling pedas dari seluruh situasi ini:
Prabowo sekarang membentuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia badan baru yang akan menjadi satu-satunya eksportir komoditas strategis. Batu bara. CPO. Ferroalloy.
Alasannya: untuk menghentikan under invoicing.
Tapi pertanyaannya sangat sederhana:
kalau Bea Cukai yang selama ini menjadi kunci pintu ekspor sudah bisa disuap apa yang memastikan Danantara tidak bisa disuap juga?
Kalau 10 perusahaan teratas yang melakukan under invoicing tidak bisa disebutkan namanya ke publik apa jaminan bahwa perusahaan yang sama tidak akan bekerja sama dengan badan ekspor baru ini?
Kalau selama 34 tahun tidak ada yang dihukum — mengapa sekarang akan berbeda?
Dan ini yang Ahok pernah bilang tentang Pertamina dan sangat relevan sekarang:
"Dalam satu jabatan di militer hanya boleh dua kali kepangkatan." Bukan soal militer tapi soal sistem.
Sistem yang benar bukan yang mengandalkan kejujuran satu orang. Sistem yang benar adalah yang membuat ketidakjujuran sangat sulit dan sangat mahal untuk dilakukan.
Pertamina di bawah Ahok efisien bukan karena semua orang tiba-tiba jujur.
Tapi karena dia membangun sistem yang membuat kecurangan sangat sulit disembunyikan.
Ask the Chairman Anything.
Audit menyeluruh.
Penolakan supplier yang tidak sesuai spesifikasi meski ada tekanan.
Danantara tidak punya satupun dari sistem itu.
Belum ada audit yang transparan.
Belum ada laporan keuangan yang dipublikasikan. Belum ada mekanisme pengawasan independen.
Dan sekarang diberi wewenang mengelola ekspor komoditas senilai ratusan miliar dolar per tahun.
Dan ini yang paling relevan dengan konteks lebih besar:
Mahfud MD di UII bilang: ada autocratic legalism hukum dibuat untuk melegalkan kejahatan.
Orang korupsi menjadi sah karena aturannya dibuat lebih dulu.
Under invoicing selama 34 tahun adalah bukti paling konkret dari itu. Sistem yang seharusnya mencegah pencurian digunakan untuk memfasilitasinya.
Bea Cukai yang seharusnya memverifikasi malah memvalidasi kecurangan.
Dan tidak ada undang-undang, tidak ada lembaga, tidak ada kekuatan yang cukup kuat untuk menghentikannya selama lebih dari tiga dekade.
Sampai petugas Bea Cukai mulai tertangkap.
Dan barulah semuanya terbuka.
Rp15.400 triliun hilang dari negara ini selama 34 tahun.
Cukup untuk membiayai pendidikan gratis selama 22 tahun.
Cukup untuk menggaji guru berkualitas selama puluhan tahun.
Cukup untuk membangun infrastruktur dari Sabang sampai Merauke berkali-kali lipat.
Tapi tidak ada yang masuk penjara.
Tidak ada nama yang boleh disebutkan.
Dan solusinya adalah membentuk badan baru tanpa audit transparan, tanpa pengawasan independen, tanpa hukuman keras yang membuat orang takut.
Singapura memberantas korupsi dengan hukuman yang membuat pelakunya tidak punya masa depan. China mengeksekusi koruptor.
Arab Saudi menyita seluruh aset.
Indonesia membuat badan baru.
Dan tidak menyebut nama siapa yang sudah mencuri Rp15.400 triliun dari rakyatnya.
Guys, Prof. Feri Latuhihin ekonom yang sudah setahun lalu memprediksi dolar akan tembus Rp17.000 ketika belum ada yang percaya baru bicara lagi. Dan kali ini lebih keras, lebih konkret, dan lebih mengerikan dari sebelumnya.
Gue mau rangkum dan kritisi semuanya termasuk pertanyaan yang menurut gue paling penting:
para ekonom sudah kasih saran, tapi apakah pemimpinnya mau dengar?
Atau yang kasih saran justru akan disebut antek antek asing?
Prediksi yang sudah terbukti dan peringatan baru yang lebih keras:
Setahun lalu Feri bilang dolar akan tembus Rp17.000. Banyak yang tidak percaya.
Sekarang dolar sudah di Rp17.300.
Sekarang dia memperingatkan skenario yang jauh lebih buruk:
dolar bisa tembus Rp25.000 kalau kondisi fiskal tidak segera dibenahi.
Bukan angka yang dia lempar sembarangan.
Dia punya hitungan.
Soal angka pertumbuhan ekonomi dan ini yang paling mengejutkan:
Purbaya marah-marah ke World Bank karena World Bank bilang pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,7%. Purbaya klaim angkanya jauh lebih tinggi dari itu.
Feri bilang sesuatu yang sangat mengejutkan: "Saya bilang 4,7% sudah bagus.
Kalau menurut saya bisa 0%."
Kenapa?
Karena ketika Feri cross check angka pertumbuhan 5,11% versi BPS dengan indikator lain khususnya pertumbuhan kredit perbankan angkanya tidak cocok.
Untuk mencapai pertumbuhan 5,11% kredit perbankan harusnya tumbuh minimal 11%. Kenyataannya: kredit tumbuh di bawah 8%.
Feri perkirakan pertumbuhan riilnya mungkin di sekitar 4% saja.
Dan Moody's serta Fitch sudah men-downgrade outlook ekonomi Indonesia dari stable menjadi negatif. Artinya lembaga rating internasional pun tidak percaya dengan angka yang pemerintah klaim.
Soal defisit APBN dan ini yang paling mengkhawatirkan:
Feri memaparkan data yang sangat konkret:
Defisit APBN Januari: Rp35 triliun.Defisit Februari: Rp135 triliun.Defisit Maret: Rp240 triliun.
Kalau dianualisasi secara linear defisit sudah setara 3,72% dari GDP melampaui batas 3% yang menjadi patokan fiskal.
Dan di saat yang sama harga minyak dunia naik karena perang.
Subsidi BBM membengkak.
Inflasi berpotensi double digit.
Jatuh tempo utang tahun ini saja sekitar Rp888 triliun ditambah bunga Rp99 triliun.
Itulah mengapa Feri menduga dua Dirjen Kemenkeu yang dicopot Purbaya kemungkinan memang tidak setuju dengan arah kebijakan bukan karena sabotase sembarangan, tapi karena mereka melihat angka-angka yang tidak memungkinkan untuk terus mempertahankan spending sebesar sekarang.
Soal MBG dan ini yang paling tegas:
Feri mengucapkan sesuatu yang menurut gue perlu didengar keras-keras oleh siapapun yang masih berargumen bahwa MBG adalah investasi:
"Mohon dikasih tahu kepada Pak Presiden bahwa kalau MBG itu dianggap investasi itu bohong besar."
Investasi yang sesungguhnya adalah infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan.
Atau investasi non-fisik yang menghasilkan produktivitas jangka panjang: pendidikan dan riset dan pengembangan.
Makan siang bukan investasi.
Makan siang adalah konsumsi.
Dan konsumsi yang dibiayai utang itu bukan membangun masa depan. Itu memakan masa depan.
Feri menghitung bahwa untuk MBG yang benar-benar targeted ke yang membutuhkan cukup Rp10 triliun per tahun. Bukan Rp335 triliun.
Dan sisa Rp325 triliun itu seharusnya bisa jadi buffer fiskal atau dialokasikan ke investasi yang benar-benar menghasilkan produktivitas jangka panjang.
Soal class menengah yang semakin tergerus:
Dari 57 juta kelas menengah di 2019 sekarang tinggal 47 juta. Turun 10 juta orang dalam kurang dari 10 tahun.
Dan tabungan rata-rata kelas menengah yang dulu Rp3 juta per orang sekarang sudah mendekati nol. Mereka tidak lagi makan tabungan. Mereka sudah mulai makan hutang.
Dan Feri menyebut satu indikator yang sangat mengkhawatirkan: omset pegadaian sedang melonjak luar biasa. Ketika orang menggadaikan barang untuk kebutuhan sehari-hari — itu bukan tanda ekonomi yang baik-baik saja.
Soal BI yang tidak bisa berbuat apa-apa:
Feri menjelaskan dilema yang sangat real yang sedang dihadapi Bank Indonesia:
Kalau suku bunga dinaikkan untuk melawan inflasi dan menjaga rupiah ekonomi yang sudah lemah akan tambah terbebani. Kredit macet naik. Investasi turun lebih dalam.
Kalau suku bunga diturunkan rupiah makin melemah dan inflasi makin tidak terkendali.
"BI tidak bisa melakukan apa-apa.
Naikkin salah, nurunin salah."
Dan intervensi di pasar valas untuk menjaga rupiah cadangan devisa tidak tanpa batas.
Kalau outlook ekonominya memang buruk intervensi itu seperti menggarami lautan.
Soal komentar terhadap Purbaya dan ini yang paling kontroversial:
Feri mengucapkan sesuatu yang sangat bold:
bahwa menurut dia Purbaya tidak paham soal ekonomi.
Contoh yang dia berikan:
ketika perbankan mengalami undisbursed loan kredit yang sudah disetujui tapi belum dicairkan senilai Rp2.735 triliun, Purbaya justru mengucurkan tambahan dana dari BI sebesar Rp227 triliun.
Logika Feri:
kalau bank sudah kelebihan likuiditas yang tidak bisa disalurkan menambah likuiditas lagi adalah seperti menuangkan air ke ember yang sudah penuh.
Itu bukan solusi masalah kredit.
Itu memperburuk excess liquidity yang justru bisa memperlemah rupiah lebih jauh.
Gue tidak akan menghakimi apakah Feri 100% benar soal ini. T
api pertanyaan teknisnya valid dan layak dijawab secara publik oleh Kemenkeu.
Dan inilah pertanyaan yang paling fundamental:
Para ekonom Feri Latuhihin, Mahfud MD, Feri Amsari, berbagai pengamat lain sudah memberikan saran yang konkret, berbasis data, dan bisa diverifikasi.
Saran yang konsisten:
rasionalisasi MBG, ramping kabinet, perbaiki kepastian regulasi, prioritaskan investasi produktif, jaga fiskal dari defisit yang melebar.
Dan apa respons dari lingkaran pemerintah?
Orang yang kritik MBG disebut tidak nasionalis. Orang yang mempertanyakan kebijakan ekonomi disebut tidak mendukung presiden.
Dan siapapun yang mengutip data dari lembaga internasional seperti World Bank atau IMF bisa dengan mudah diberi label antek asing.
Dari nonblok menjadi goblok kata Feri mengutip kritik terhadap kebijakan luar negeri.
Dan label yang sama bisa dikenakan pada kebijakan ekonomi: dari mendengar para ahli menjadi memusuhi para ahli.
Indonesia punya banyak ekonom yang kompeten. Punya data yang bisa dibaca.
Punya pengalaman sejarah termasuk bagaimana Habibie menyelamatkan ekonomi di 1998 dengan tiga langkah berani yang gue sudah bahas sebelumnya.
Yang kurang bukan nasihatnya.
Yang kurang adalah keberanian untuk mendengar nasihat yang tidak menyenangkan dan keberanian untuk mengambil keputusan yang menyakitkan jangka pendek demi kepentingan rakyat jangka panjang.
Dan selama nasihat para ekonom direspons dengan label "antek asing" sementara rupiah terus melemah, defisit terus membesar, dan kelas menengah terus tergerus
Kita semua yang menanggung akibatnya.
Bukan para pejabatnya.
Guys, ada pernyataan Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud yang menurut gue adalah salah satu yang paling mengungkap mentalitas dinasti politik di Indonesia dalam satu kalimat pendek.
dan betapa sakitnya negeri kita ini
Ketika dikritik karena menunjuk adik kandungnya Hijrah Mas'ud sebagai Wakil Ketua Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan Kaltim Rudy merespons dengan argumen yang menurut gue tidak bisa lebih telanjang dari ini:
"Apa bedanya Pak Hashim dengan Bapak Presiden? Beliau memberikan kepercayaan.
Itu memang hak prerogatif."
Terjemahan bebasnya:
"Presiden juga pakai adiknya.
Kenapa gue enggak boleh?"
Dan ini yang perlu dipahami kenapa argumen itu sangat bermasalah:
Hashim Djojohadikusumo adalah saudara kandung Presiden Prabowo.
Posisi Hashim di ekosistem pemerintahan apapun penilaian publik terhadapnya adalah dalam kapasitas yang berbeda dari jabatan struktural pemerintah daerah yang diisi Hijrah.
Tapi yang lebih penting dari debat teknis itu adalah:
Rudy secara eksplisit menggunakan perilaku presiden sebagai pembenaran untuk perilakunya sendiri.
Ini adalah logika yang sangat berbahaya.
Karena kalau presiden dianggap boleh melibatkan keluarga dan itu kemudian dijadikan template yang bisa diikuti oleh 500+ kepala daerah di seluruh Indonesia
Maka setiap gubernur, bupati, dan walikota punya justifikasi yang sama untuk melakukan hal yang sama.
Dan itulah yang sudah terjadi dan sudah kita bahas panjang soal Dinasti Mas'ud di Kaltim.
Bayangkan skala masalahnya kalau logika ini menyebar:
Di Kaltim — satu keluarga sudah memegang gubernur, ketua DPRD provinsi, walikota kota terbesar, dan anggota DPR RI sekaligus.
Adik bungsu sudah masuk penjara karena korupsi.
Sekarang adik lainnya masuk sebagai tim ahli gubernur dengan pembelaan: "Presiden juga begitu."
Kalau 500+ kepala daerah lain menggunakan logika yang sama berapa banyak jabatan publik di seluruh Indonesia yang akan diisi oleh lingkaran keluarga dengan pembenaran serupa?
Soal argumen "loyalitas dan kepercayaan" yang Rudy pakai:
Rudy bilang Hijrah selalu mendampinginya dari masa kampanye DPR sampai terpilih jadi gubernur.
Karena itu dia layak dipercaya.
Ini adalah pengakuan yang justru mempermasalahkan diri sendiri.
Loyalitas dalam kampanye adalah loyalitas politik personal.
Bukan kualifikasi profesional untuk jabatan pemerintahan.
Tim ahli gubernur seharusnya diisi oleh orang yang paling kompeten di bidangnya bukan orang yang paling loyal kepada gubernurnya secara personal.
Kalau standarnya adalah loyalitas dalam kampanye maka jabatan publik sudah berubah menjadi hadiah untuk pendukung setia.
Bukan amanah untuk melayani rakyat.
Dan ini yang paling menggelitik:
Bahkan kader Gerindra sendiri partai Rudy tidak bisa membenarkan argumen ini.
Bendahara DPD Gerindra Kaltim Sabaruddin Panracalle secara eksplisit bilang:
"Membawa nama Presiden untuk membenarkan praktik di daerah adalah langkah yang tidak etis dan berisiko menurunkan standar kepemimpinan publik."
Artinya: orang dari partai Rudy sendiri menyatakan bahwa argumen Rudy tidak tepat.
Pernyataan Rudy Mas'ud bukan hanya masalah satu gubernur yang menunjuk adiknya.
Ini adalah sinyal tentang bagaimana para penguasa daerah melihat standar kepemimpinan nasional dan menggunakannya sebagai lisensi untuk melakukan hal yang sama di level mereka.
Ketika praktik di level tertinggi tidak cukup transparan dan tidak cukup bisa dipertanggungjawabkan sinyal itu mengalir ke bawah. Dan setiap kepala daerah yang ingin melibatkan keluarganya dalam lingkaran kekuasaan akan punya satu alibi yang sama:
"Di atas juga begitu."
Dan selama standar itu yang berlaku demokrasi lokal kita tidak akan pernah benar-benar bebas dari dinasti.
keren kau dek.
"wakil rakyat duduk nyaman di kursi empuk, rakyat biasa duduk gelisah di kursi usang"
Puisi dgn narasi kritik ini, dibacakan oleh salah satu siswa di Papua Barat
dengarkan sampai habis, dn sisipkan harapan kalian utk bangsa ini.
Guys, ada usulan dari DPR yang menurut gue seharusnya jadi topik paling ramai dibicarakan hari ini tapi sayangnya tenggelam di antara semua berita geopolitik dan drama pengadaan.
Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris mengusulkan:
negara tanggung 100 persen iuran BPJS Kesehatan seluruh rakyat Indonesia.
Dan hitungannya sudah dia paparkan langsung di rapat dengan Kementerian Kesehatan.
Angkanya dulu:
225,94 juta orang peserta di luar kategori Pekerja Penerima Upah.
Dikali iuran Rp42.000 per bulan.
Dikali 12 bulan.
Hasilnya: Rp113 triliun per tahun.
Dan Charles langsung melempar pertanyaan yang menurut gue paling tepat sasaran:
Mampu enggak negara?
Mampu Pak.
Membiayai program lain yang jauh lebih besar saja mampu.
Dan ini yang paling pedas dari seluruh pernyataan Charles:
Program lain malah dipakai buat motor trail, Pak.
Ini buat kesehatan rakyat, Pak.
Satu kalimat.
Tapi isinya sangat berat.
Karena kita semua tahu angka-angkanya:
MBG: Rp171 triliun per tahun.
Dengan 8 potensi korupsi yang sudah diidentifikasi KPK.
Dengan pengadaan sikat semir sepatu Rp1,6 miliar. Dengan motor listrik Rp1,2 triliun.
Dengan kaos kaki Rp100.000 per pasang.
BPJS Kesehatan 100 persen untuk seluruh rakyat: Rp113 triliun per tahun.
Dengan manfaat yang langsung terasa setiap orang yang sakit bisa berobat tanpa takut tidak bisa bayar.
Selisihnya bahkan lebih murah.
Dan dampaknya jauh lebih terukur.
Masalah yang mendorong usulan ini dan ini realita yang menyakitkan:
Sistem BPJS sekarang punya lubang besar yang sudah lama diketahui tapi tidak kunjung diselesaikan: data kepesertaan yang kacau.
Ada ratusan ribu bahkan jutaan warga miskin yang secara data masuk kategori mampu karena kesalahan pendataan.
Mereka masuk desil 8 atau lebih tinggi di atas kertas.
Tapi di lapangan mereka tidak sanggup bayar iuran bulanan.
Charles mencontohkan seorang ibu di Jakarta suaminya kerja serabutan, penghasilan tidak menentu.
Tapi karena data administrasinya salah dia tidak masuk kategori penerima bantuan.
Harus bayar BPJS mandiri.
Sementara hidup di Jakarta dengan Rp2 juta sebulan saja sudah susah.
Dan ketika mereka tidak bayar kepesertaannya nonaktif.
Mereka jatuh sakit tidak bisa berobat dengan BPJS.
Harus bayar penuh.
Ini adalah ironi terbesar dari sistem yang seharusnya melindungi rakyat yang paling rentan.
Kenapa solusi verifikasi data" tidak cukup:
Pemerintah selalu menjawab masalah ini dengan satu jawaban:
kita akan perbaiki data
Tapi perdebatan soal verifikasi data sudah berlangsung bertahun-tahun.
Sementara itu setiap hari ada orang yang sakit dan tidak bisa berobat karena terjebak di limbo administratif antara "mampu" di atas kertas dan "tidak mampu" di lapangan.
Charles menyebut ini dengan sangat tepat: perdebatan verifikasi data yang tidak kunjung selesai hanya memperpanjang ketidakpastian bagi warga yang paling butuh kepastian.
Solusi paling simpel:
tanggung semuanya.
Selesai.
Tidak perlu verifikasi.
Tidak perlu data yang sempurna.
Semua warga negara Indonesia dapat BPJS gratis.
Apakah ini fiskal realistis?
Rp113 triliun per tahun terdengar besar.
Tapi mari bandingkan:
MBG 2026: Rp171 triliun dalam satu tahun, dengan tata kelola yang menurut KPK sendiri belum memadai.
Kalau dari anggaran-anggaran itu ada yang bisa dirasionalisasi Rp113 triliun untuk BPJS gratis 100 persen bukan angka yang tidak mungkin dijangkau.
Dan ini investasi yang paling langsung dampaknya ke rakyat terbawah yang sekarang tidak punya jaring pengaman kesehatan yang efektif.
Yang paling bikin gue geleng-geleng:
Ini bukan ide baru.
Konsep universal health coverage sudah lama dibicarakan.
Negara-negara yang jauh lebih miskin dari Indonesia sudah menjalankannya.
Thailand menjalankan sistem kesehatan universal sejak 2002 dengan premi nol untuk semua warga.
Sri Lanka.
Bangladesh.
Bahkan beberapa negara Afrika.
Indonesia dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara masih berdebat soal siapa yang berhak dapat BPJS subsidi dan siapa yang tidak.
Sementara di sisi lain anggaran negara mengalir ke motor trail, kaos kaki Rp100.000, dan sikat semir sepatu dengan harga tiga kali lipat pasar.
Rp113 triliun untuk kesehatan gratis semua rakyat Indonesia atau Rp171 triliun untuk program makan yang menurut survei 88% manfaatnya dinikmati pejabat dan pengelola dapur?
Ini bukan pertanyaan yang sulit dijawab secara moral.
Yang sulit adalah menjawabnya secara politik karena selalu ada kepentingan yang lebih besar dari kesehatan rakyat yang masuk dalam kalkulasi anggaran negara.
Charles sudah berani mengajukan pertanyaan yang tepat.
Sekarang tinggal satu pertanyaan lagi:
Adakah yang berani menjawabnya dengan aksi nyata?
Ketika ada pejabat yang tidak mau dikritik, malah balik nanya Kontribusimu apa untuk negara ini...?
Mungkin jawabannya dari Video ini bisa menjawabnya...
Inilah akibatnya kalau di sekitar presiden dipenuhi “benalu” yang lebih sibuk mengamankan posisi, bukan menjaga kewarasan kekuasaan.
Sekadar menyampaikan pendapat bahwa presiden sebaiknya diganti, langsung dilabeli makar.
Tanpa nalar, tanpa argumen objektif.
Yang ada cuma framing murahan:
beda pendapat = ancaman negara.
Kalau kritik saja dianggap makar, mungkin yang bermasalah bukan rakyatnya.
Tapi telinga kekuasaannya.
AL-A’RAF — SEJARAH YANG BERULANG
Ini bukan cerita masa lalu.
Ini peta berulang manusia.
Turun saat umat lemah, ditekan, hampir putus asa.
Dan Allah tidak memberi mereka strategi perang.
Allah memberi mereka sejarah.
Kenapa?
> Karena yang paham pola — tidak mudah dihancurkan.
---
1. MUSUH UTAMA BUKAN MANUSIA — TAPI KESOMBONGAN
Kisah awal:
Adam
Iblis
Masalahnya bukan perintah sujud.
Masalahnya:
> Iblis tidak mau tunduk.
Kesombongan pertama dalam sejarah.
Dan sejak itu:
> Pertarungan bukan antara manusia vs manusia.
Tapi antara kebenaran vs kesombongan.
---
2. MANUSIA JATUH — TAPI BISA BANGKIT
Adam jatuh.
Melanggar.
Tapi tidak keras kepala.
Dia:
mengakui salah
bertaubat
kembali
Pesannya jelas:
> Jatuh itu manusiawi.
Tidak mau bangkit — itu kehancuran.
---
3. SEJARAH SELALU MENGULANG POLA YANG SAMA
Datang nabi:
Nuh
Hud
Shalih
Luth
Syu'aib
Musa
Respon kaumnya selalu sama:
meremehkan
menolak
sombong
Akhirnya juga sama:
> hancur.
Pelajarannya keras:
> Masalah manusia bukan kurang bukti.
Masalah manusia: tidak mau tunduk.
---
4. KEBENARAN SELALU BERHADAPAN DENGAN KEKUASAAN ZALIM
Kisah terbesar:
Musa vs Firaun
Ini bukan sekadar cerita.
Ini pola abadi:
kebenaran vs tirani
wahyu vs kekuasaan
kejujuran vs manipulasi
Dan hasil akhirnya selalu:
> Kebenaran mungkin lambat. Tapi pasti menang.
---
5. KAMU SUDAH PERNAH BERJANJI — SEBELUM LAHIR
Ayat paling dalam:
"Bukankah Aku Tuhanmu?" — "Betul." (Al-A’raf: 172)
Ini serius.
> Jiwamu sudah pernah mengenal Allah.
Jadi kenapa manusia gelisah? Kenapa tidak pernah puas?
Karena:
> Dia sedang mencari jalan pulang.
---
6. DOSA SOSIAL = DOSA BESAR
Kaum Madyan dihancurkan.
Kenapa?
Bukan cuma karena syirik.
Tapi karena:
curang timbangan
ambil hak orang
zalim dalam ekonomi
Pesannya tajam:
> Ibadah tanpa keadilan = kebohongan.
---
7. ADA MANUSIA YANG TERGANTUNG — DI ANTARA DUA AKHIR
Al-A’raf = tempat di antara surga & neraka.
Orang-orang di sana:
baiknya ada
buruknya ada
Seimbang.
Mereka menunggu.
Pesannya:
> Hidup setengah-setengah itu berbahaya.
---
8. PENUTUPNYA SEDERHANA — TAPI MENENTUKAN SEGALANYA
"Ingatlah Tuhanmu… pagi dan petang." (Al-A’raf: 205)
Setelah:
sejarah panjang
kehancuran bangsa
kisah nabi-nabi
Allah tutup dengan:
> DZIKIR.
Kenapa?
Karena:
> Yang lupa Allah — pasti mengulang kesalahan sejarah.
---
KESIMPULAN — GARIS KERAS
Kalau kamu lihat dunia hari ini:
kesombongan
ketidakadilan
penolakan kebenaran
Jangan kaget.
Itu bukan hal baru.
Itu ulang lagi.
---
PENUTUP (TANTANGAN TERBUKA)
Kamu sudah tahu:
bagaimana sejarah berjalan
bagaimana kaum terdahulu hancur
bagaimana kebenaran selalu diuji
Dan kamu juga sudah tahu:
> Jiwamu pernah bersaksi kepada Allah.
---
Sekarang tinggal satu pertanyaan:
> Kamu mau jadi bagian dari pola kehancuran?
Atau bagian dari yang sadar dan berubah?
Niccolò Machiavelli dalam bukunya The Prince mengatakan:
“Bersekutu dengan kekuatan besar untuk mengalahkan tetangga adalah sebuah kesalahan strategis. Jika Anda menang, Anda akan berada di bawah kekuasaan yang lebih besar; dan jika kekuatan sekutu tersebut kalah, Anda akan tetap sendirian dan tanpa perlindungan menghadapi tetangga yang marah, dan akan hancur.”
Guys, ini yang lagi terjadi di Amerika dan skalanya bikin gue dua kali baca.
9 juta orang turun ke jalan.
Serentak.
Di seluruh Amerika.
New York, Washington, Chicago, Boston, Philadelphia semua kota besar jadi lautan manusia dengan satu pesan yang sama.
No to monarchy.
No to extremism.
No to wars.
Our forces are not for sale.
Ini bukan demo biasa.
Yang bikin ini luar biasa pesertanya bukan cuma dari kubu Demokrat.
Sebagian Republikan juga ikut turun.
Artinya ini udah melampaui batas partai.
Ini warga Amerika dari berbagai latar belakang politik yang sama-sama ngerasa ada yang salah dengan arah kebijakan Trump sekarang.
Apa yang mereka protes?
Tiga hal utama yang jadi fokus demonstrasi ini kebijakan perang yang dianggap ceroboh dan sembrono, gaya kepemimpinan yang dinilai semakin otoriter, dan penggunaan kekuatan militer untuk kepentingan yang nggak jelas.
Slogan "our forces are not for sale" itu bukan asal pilih. Ini respons langsung terhadap narasi Trump yang beberapa kali terkesan memperlakukan militer Amerika sebagai alat bargaining politik dan ekonomi.
Dan kenapa ini penting buat kita di Indonesia?
Karena kebijakan Trump tarif dagang, eskalasi konflik Timur Tengah, tekanan ke sekutu semua itu langsung berdampak ke ekonomi global termasuk kita.
IHSG kita turun. Rupiah tertekan. Harga minyak naik. Semua itu sebagian besar dipicu oleh ketidakpastian yang lahir dari kebijakan Washington.
Kalau tekanan dari dalam Amerika sendiri berhasil mengubah arah kebijakan Trump itu artinya ada kemungkinan situasi global sedikit mereda.
Tapi kalau tidak kita harus siap bahwa ketidakpastian ini masih akan berlanjut lama.
Yang menarik dari sisi historis
Demo 9 juta orang ini disebut sebagai tekanan pertama yang terorganisir dan masif dari lawan-lawan Trump untuk memaksa pemerintah berhenti dari kebijakan konflik yang agresif.
Dalam sejarah Amerika, tekanan jalanan skala besar pernah berhasil mengubah kebijakan perang seperti yang terjadi di era Vietnam. Apakah sejarah bisa terulang? Terlalu dini untuk bilang. Tapi skalanya hari ini jelas nggak bisa diabaikan.
Guys gw mau fokus ke satu kalimat Prabowo yang kalau dipikir dalam-dalam implikasinya sangat besar.
'Daripada uang dikorupsi lebih baik rakyat saya bisa makan.'
Kalimat itu terdengar heroik. Tapi coba bongkar artinya.
Prabowo secara tidak langsung mengakui bahwa kalau MBG tidak jalan uang itu kemungkinan besar akan dikorupsi.
Itu bukan asumsi yang dia buat. Itu keyakinan yang dia pegang cukup kuat untuk dijadikan justifikasi program senilai Rp335 triliun.
Dan ini yang perlu ditanyakan langsung.
Pak kalau Bapak tahu uang itu akan dikorupsi kalau tidak dipakai MBG berarti Bapak tahu di mana korupsinya terjadi. Berarti Bapak tahu sistemnya yang rusak. Berarti Bapak tahu siapa yang main.
Kenapa jawabannya adalah alihkan uangnya ke MBG bukan berantas korupsinya?
Itu bukan solusi. Itu workaround. Itu cara bypass masalah tanpa menyelesaikan masalahnya.
Ibarat rumah bocor bukan diperbaiki atapnya tapi diletakkan ember di bawah tetesan air. Embernya berguna. Tapi atapnya masih bocor.
Dan ini yang lebih mengkhawatirkan.
Kalau logikanya adalah 'daripada dikorupsi lebih baik untuk rakyat' maka logika yang sama bisa dipakai untuk program apapun. Bikin program X daripada uangnya dikorupsi. Bikin program Y daripada uangnya dikorupsi.
Tanpa pernah benar-benar menjawab pertanyaan dasarnya kenapa sistemnya masih memungkinkan korupsi sebesar itu terjadi? Dan siapa yang bertanggung jawab?
Prabowo sudah 1,5 tahun menjabat. Dia punya kekuasaan eksekutif penuh. Dia punya mayoritas di DPR. Dia punya mandat rakyat yang besar.
Kalau dia tahu di mana korupsinya kenapa itu belum diberantas sampai ke akarnya?
Dan ini yang paling ngeri.
Kalau setelah 1,5 tahun jawaban terbaiknya masih 'lebih baik untuk rakyat daripada dikorupsi' itu artinya korupsi itu masih ada. Masih berjalan. Masih menggerogoti.
Dan MBG dengan 1.000 lebih dapur bermasalah jangan-jangan juga sudah mulai dimasuki oleh sistem yang sama yang selama ini dia khawatirkan.
Solusi untuk korupsi bukan mengalihkan uangnya.
Solusinya adalah memberantas korupsinya.
Guys ada beberapa momen di wawancara Najwa dengan Prabowo yang gw rasa perlu lebih banyak orang cermatin.
Bukan yang bagus-bagusnya. Tapi yang mengejutkan dan jujur tidak nyaman untuk didengar dari seorang presiden.
Pertama soal demonstrasi dan bom molotov.
Najwa kasih data ratusan mahasiswa dan aktivis ditangkap pasca demo. Penangkapan terbesar sejak reformasi. Dan aktor yang menyuruh tidak pernah terungkap.
Prabowo tidak jawab soal kenapa aktornya tidak pernah diusut.
Dia malah balik tanya ada yang ribut tidak soal bom molotov? Ada yang ribut tidak soal gedung DPR mau dibakar?
Najwa bilang banyak Pak yang protes.
Prabowo bilang enggak ada itu.
Dan mereka debat soal apakah ada yang protes atau tidak. Di depan kamera. Dengan nada yang semakin meninggi dari sisi Prabowo.
Presiden dan jurnalis berdebat soal fakta apakah ada pemberitaan atau tidak bukan soal substansi pertanyaannya.
Pertanyaan aslinya tidak pernah dijawab. Kenapa aktor intelektualnya tidak pernah ditangkap.
Kedua soal kritikan yang dianggap regime change.
Najwa tanya apakah semua kritikan terhadap pemerintah bermuara pada keinginan untuk regime change.
Prabowo bilang tidak semua tapi ada.
Lalu dia sebut Asia Tengah. Color revolution. Disinformasi dari negara-negara tertentu.
Dan kalimat ini yang menurut gw paling mengkhawatirkan.
'Kita ini bukan anak kecil. Kadang ada peristiwa yang dibuat seolah-olah. Itu namanya false flag operation.'
Ini diucapkan dalam konteks kasus Andri Yunus yang pelakunya sudah terbukti dan dikonfirmasi sendiri oleh Mabes TNI sebagai anggota Bais TNI.
Bukan spekulasi. Bukan rumor. Sudah dikonfirmasi institusi militer negara sendiri.
Tapi presiden membuka kemungkinan bahwa itu bisa jadi false flag.
Dan itu bukan pernyataan yang kecil. Karena kalau presiden sendiri meragukan fakta yang sudah dikonfirmasi institusinya sendiri bagaimana publik bisa percaya bahwa penyelidikannya akan tuntas.
Ketiga soal 'kalau tidak suka bisa turun ke jalan.'
Ini yang paling bikin gw diam sebentar.
Di tengah diskusi soal kekhawatiran ruang demokrasi yang menyempit Prabowo bilang kalimat ini.
'Kalau memang rakyat tidak suka sama saya bisa turun ke jalan ramai-ramai.'
Konteksnya dia sedang bilang bahwa rakyat yang mendukung dia tahu kalau rusuh semua yang rugi.
Tapi framing-nya bisa dibaca dua arah.
Satu dia percaya diri karena merasa dukungan rakyat masih kuat.
Dua ada nada yang terasa seperti tantangan. Di saat yang bersamaan dengan konteks mahasiswa yang baru saja mengalami penangkapan massal terbesar sejak reformasi.
Ajakan untuk turun ke jalan dari seorang presiden — di tengah diskusi soal intimidasi terhadap pengkritik itu pilihan kata yang sangat tidak biasa.
Keempat soal 'saya korban juga.'
Ketika Najwa tanya soal ruang bersuara yang menyempit dan kasus-kasus intimidasi terhadap jurnalis dan aktivis Prabowo bilang satu kalimat yang gw tidak bisa lewatkan begitu saja.
'Saya ini korban juga.'
Lalu langsung pivot ke harga pangan yang terkendali di Ramadan.
Gw tidak tahu maksudnya persis. Korban dalam konteks apa. Diserang secara politik? Difitnah?
Tapi menyebut diri sendiri sebagai korban di saat yang sama ketika aktivis HAM yang luka bakar 24 persen dan korneanya rusak sedang dirawat di rumah sakit itu pilihan framing yang sangat tidak tepat waktunya.
Gw tidak bilang semua yang Prabowo katakan malam itu salah. Ada yang bagus. Ada yang jujur. Ada yang berani.
Tapi ada beberapa momen yang seharusnya tidak keluar dari seorang presiden di forum publik.
Karena kata-kata presiden itu bukan sekadar pendapat pribadi. Itu sinyal. Dan sinyal yang salah efeknya jauh lebih luas dari kata-katanya sendiri.
KISAH LUCU SANG PENELITI.
Cuma ada di Negeri ini Sang Peneliti menyatakan hasil penelitiannya tidak valid setelah bukunya beredar secara luas dan berbayar.