Perempuan yang duduk di kursi roda itu bernama Widiarsi Agustina atau kerap disapa Niniel. Ia adalah jurnalis senior yang 25 tahun lebih berkarir di Tempo. Seorang wartawan investigasi dan editor andal.
Hari-hari Niniel di masa Orde Baru banyak mengikuti Mega kemanapun sang putri proklamator pergi. Niniel banyak meliput aktivitas keseharian & langkah politik Mega.
Di rumah Mega di kawasan Kebagusan, Niniel tidak sekali dua kali tidur sekamar dengan Mega. Mereka memang bersahabat. Niniel bagi Mega, sudah dianggapnya adik sendiri.
Pada 27 Juli 1996, saat Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) terjadi. Niniel berada di Kantor PDI di Jalan Diponegoro 58, Jakarta Pusat.
Ia salah satu orang yang ada di kantor PDI saat dikepung oleh Kubu Soerjadi plus oknum militer yang menyusup.
Hari itu, bisa jadi hari terakhir Niniel. Bila ia tidak keluar dari Kantor PDI. Ia selamat bukan hanya karena ia beruntung, tapi Tuhan masih melindunginya.
Niniel naik ke lantai paling atas Gedung PDI. Ia bersembunyi diantara tumpukan karung beras sumbangan masyarakat ke partai berlambang banteng itu.
Setelahnya, ia mendobrak plafon atap gedung. Lalu lari dari belakang Kantor Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Ada pun kantor PPP dan PDI memang letaknya bersebelahan. Hanya dipisahkan oleh pembatas tembok.
Ia lalu lari jauh. Dua kilometer sebelum mendapatkan taksi. Dari situ, ia menuju Kebagusan IV Jakarta Selatan. Kediaman Mega. Memastikan Mega sehat & aman.
Pertemuan Mega & Niniel setelahnya sudah sering terjadi. Tapi kehadiran Niniel pada Rakernas PDI Perjuangan menjadi sesuatu yang mengharukan. Niniel duduk di kursi VVIP. Tempat para orang-orang sangat penting & istimewa.
Niniel seperti dirinya 30 tahun lalu. Semangatnya masih sama. Ia memang duduk di kursi roda. Tapi pada hari-hari seperti sekarang ini, ia terlihat membisikkan sesuatu pada Mega : tetap kuat, teguh & hebat.
Melihat Niniel, wajah Mega haru. Ingatan sejarah panjang & cerita hari ini membuka babak cerita baru.
Kehadiran Niniel bukan sekadar karena selembar kertas undangan yang diterimanya, ia datang karena dituntun oleh sejarah & kerinduan pada sosok pejuang demokrasi bernama Megawati Soekarnoputri.