Jika untuk memperjuangkannya terlalu fiksional, aku bisa merebutnya secara radikal. Bukan tanpa soal, mungkin saja diri ini akan sial. Namun aku hanya ingin menjalani dan mengakiri cerita ini dengan tanpa sesal.
Bocor Alus: Rumah Dinas BAIS di Melawai Raya ternyata jadi POSKO SATGAS S buat nyusun rencana nyerang Andrie Yunus.
Kemenhan konfirmasi: Itu Barang Milik Negara (BMN) yang dikelola BAIS TNI. Pajak kita dipakai buat koordinasi nyiram air keras ke rakyat? Biadab.
Gak cuma 4 orang, tapi 13 ORANG terlibat. Ada tim intai, tim kondisikan jalan, sampe eksekutor. Pake aset Kemenhan, pake plat nomor bodong. Ini bukan oknum, ini OPERASI TERSTRUKTUR.
Sumber lengkap silahkan lihat :
https://t.co/BYep410a73
New York Agreement 1962:
Belanda (penjajah) berunding dengan Indonesia (calon penjajah), tentang nasib Papua, disaksikan Amerika (calon investor), tanpa orang Papua.
Board of Peace, Davos 2026:
Penjajah, investor, dan anteknya kumpul bahas Palestina, tanpa orang Palestina.
1945 - 1966 (Orde Lama) = Mencari Jati Diri
1966 - 1998 (Orde Baru) = Mencari Role Model Pembangunan
1998 - Kurang Tahu (Reformasi) = Tantangan
Jayanya Kapan?
Saya lebih suka pemahaman ensiklopedis daripada sistematis pada sebuah aspek keilmuan tertentu. Meski bukan berarti tanpa konsekuensi di ranah akademik misal kurangnya prestasi diri, tapi mungkin lebih asyik menjadi manusia dengan keterangan yang bebas tanpa tekanan.
Ya meskipun bukan rahasia umum lagi, ketika kebanyakan aktivis politik selain menginginkan gagasannya membahana juga tak mau keok urusan rumah tangga nantinya.
Salahkah berpolitik untuk harta? Tidak!. Karena tak ada relevansinya sm sekali antara keduanya. Posisi dan gaji itu adalah kompensasi dari perjuangan mengambil peran dalam politik, itupun kontestasinya diatur secara demokratis. Jadi apa yang salah jika sistem sudah serasional itu
Sebuah saran bagaikan sampah yang bertebaran, apa maknanya jika mereka tak ikut dalam perjuangan, namun memberikan petuah seolah perjuangan akan dimenangkan dengan omongan basi yang mereka teriakkan?. Lalu apa nilainya ketika saran diucapkan, sementara kepercayaan diri masih ada.
Memilih langkah keras lebih menarik, daripada sekedar mengambil jalan pintas. Meskipun akhirnya tak sesuai harapan dan dikalahkan oleh keadaan dikarenakan peran dominan yang seringkali mampu mendiskriminasi. Setidaknya semua hal tersebut dapat mendewasakan proses itu sendiri.
Katanya tolak ukur menilai suatu hal harus melihat keseluruhan agar tak salah, seakan menafikan hasil pengamatan sesaat. Namun sebenarnya penilaian secara sekilas pun tidak kurang kejeliannya, karena sesungguhnya tak perlu terjun kedalam jurang untuk mengerti bahwa itu curam.
Banyak yang mengukur seseorang hanya dengan kualitas tanpa bertanya arti "kualitas" yang dimaksud menjadi prioritas dari orang tersebut. Itulah masalah dunia Pendidikan dimana parameter yang dikejar adalah penilaian sehingga seolah menjadi vonis antara kecerdasan & kebodohan.
Ada beberapa hal yang mungkin dikodratkan hanya untuk lewat, sedangkan dalam memahaminya membutuhkan kesadaran akan kenyataan yang begitu menyedihkan. Memang takdir itu kejam, namun lebih kejam apabila diri sendiri kurang menghargainya dan tak berusaha mengubah jalannya.
Seolah ingin menyeimbangkan segala hal yang ada, namun justru seakan membunuh hal yang telah tersedia untuk diperjuangkan. Apa benar setiap manusia ada batasnya? atau memang potensiku yang biasa - biasa saja.
Literasi bagiku bukan tentang prestasi, namun bagaimana seseorang mampu menguasai opini terhadap bidang yang disukai sebagai objek dari hasil bacaannya sendiri.
Pertemuan adalah awal dari segalanya. Namun kenyataan yg seketika membuatku sadar untuk melupa dan mengakiri tanpa benar - benar memulainya. Cukup ironis saat hal yg sama terus terulang seakan takkan pernah hilang dan pd akhirnya hanya menunggu rasa itu berpulang dgn sendirinya.