DPR RI memberikan lampu hijau terkait rencana BGN untuk menghibahkan motor listrik operasional kepada para guru honorer di daerah, agar aset negara yang sudah dibeli tidak mangkrak begitu saja.
Gimana? Setuju gak?
Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, disebarkan, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal
Guys, Ahok baru ngomong sesuatu yang menurut gue paling berani dan paling jujur yang pernah diucapkan mantan pejabat Indonesia secara terbuka.
Dan kalimat yang paling mengguncang bukan soal Pertamina.
Bukan soal Jakarta.
Bukan soal penjara.
Tapi tentang mengapa rakyat Indonesia sengaja tidak dibiarkan pintar.
di pelihara agar tetap bodoh
dan tidak kritis dan tidak perlu
mempertanyakan semua yang terjadi
di negeri ini
Ini kata Ahok langsung, tanpa sensor:
"Saya khawatir memang dari zaman Belanda semua dipelihara supaya gampang dihasut.
Dengan politik suku berantem, agama berantem, SARA dipakai.
Orang yang pintar akan berpikir kritis.
Dia akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya untuk mereka."
Gue baca kalimat itu tiga kali.
Bukan pengamat yang ngomong ini.
Bukan aktivis oposisi.
Ini mantan Gubernur Jakarta.
Mantan Komisaris Utama Pertamina.
Orang yang pernah berada di dalam sistem dan melihat langsung bagaimana sistem itu bekerja dari dalam.
Dan dia sambung dengan sesuatu yang lebih keras:
"Yang paling dikhawatirkan oleh oknum politisi dan pejabat
jangan ada yang punya ide nolong rakyat.
Karena kalau ada ide ini, rakyat akan tanya:
kenapa Ahok bisa, lu enggak bisa?
Ini celaka.
Kalau gitu ramai-ramai penjarakan Ahok saja.
Karirnya dihabisin."
Dia tidak bilang ini sebagai teori.
Dia bilang ini sebagai pengalaman pribadi yang dia jalani sendiri.
Dan ini yang paling mematikan:
Ahok bilang IQ rata-rata Indonesia 78.
50% pegawai kita pernah mengalami stunting waktu kecil.
Bukan karena negara ini tidak punya uang.
Anggaran pendidikan 600-700 triliun per tahun.
Dijamin konstitusi 20% dari APBN.
Tapi anggaran itu tidak dipakai untuk benar-benar mencerdaskan rakyat.
Yang dipakai untuk apa?
Untuk program yang bisa difoto.
Yang bisa jadi bahan kampanye.
Yang hasilnya bisa diklaim dalam satu periode jabatan.
Sementara pendidikan yang bena yang hasilnya baru terasa 12 tahun kemudian tidak menarik secara politik.
"Itu alasan kenapa orang-orang ini tidak mau ada yang punya standar tinggi.
Jangan sampai orang bikin standar pejabat kayak Ahok.
Celaka."
Dan Ahok kasih analogi yang paling sederhana soal pajak:
"Lu belum lihat duit lu
sudah dipotong pajak penghasilan.
Lu makan minum apapun sudah dipotong PPN.
Lu kerja keras, lu bayar pajak, lu sudah invest ke negara.
Tapi waktu lu tua negara tidak sanggup pelihara lu.
Dan lu tetap dikenain pajak."
Negara mengambil dari semua arah.
Tapi tidak mengembalikan ke yang membayar.
Dan ketika ada orang yang mencoba mengubah itu seperti yang Ahok lakukan di Pertamina,
mengubah rugi 1 miliar dolar menjadi untung 4,7 miliar dolar dalam 4 tahun dia diserang. Dibikin viral dengan berita palsu.
Dituduh merugikan negara.
Bukan karena dia salah.
Tapi karena dia terlalu benar.
Dan ini yang paling perlu dipahami:
Ahok bilang dari dalam penjara pun dia tidak merasa dikalahkan.
Yang membuatnya hampir menangis bukan penjara itu sendiri.
Tapi video call dengan anaknya yang baru 11 tahun menangis, jatuh ke tanah, bilang "Pa pulang, Pa pulang."
Seorang anak yang tidak mengerti kenapa ayahnya yang tidak korupsi harus masuk penjara.
Dan Ahok bilang di titik itu dia marah.
Bukan pada penjara.
Tapi pada semua orang yang mengaku bersumpah menegakkan kebenaran dan keadilan tapi malah melanggar sumpah itu sendiri.
"Saya bilang semua akan diperkarukan Tuhan.
Waktu pengadilan saya bilang tugas pejabat itu pegang konstitusi.
Kalau enggak berani tegakkan konstitusi pengecut."
Rakyat yang pintar adalah rakyat yang berbahaya bagi penguasa yang tidak kompeten.
Rakyat yang pintar akan tanya kenapa uang pajaknya dibakar untuk program yang tidak jelas hasilnya.
Akan tanya kenapa guru digaji Rp1,5 juta sementara anggaran pendidikan ratusan triliun.
Akan tanya kenapa Nadiem yang tidak terbukti korupsi dituntut 27 tahun sementara yang korupsi Rp75 miliar dituntut 6 tahun.
Dan pertanyaan-pertanyaan itu menurut Ahok adalah alasan kenapa sistem ini tidak ingin rakyat benar-benar pintar.
Bukan dengan melarang sekolah.
Bukan dengan membakar buku.
Tapi cukup dengan memastikan kualitas pendidikannya tidak cukup untuk menghasilkan rakyat yang bisa berpikir kritis.
Cukup dengan memotong anggaran pendidikan untuk program yang lebih populis.
Cukup dengan memastikan guru yang paling berkualitas tidak mau jadi guru karena gajinya tidak layak.
Dan Ahok satu-satunya yang berani membuktikan sistem ini bisa bekerja lebih baik dipenjarakan.
Bukan karena dia salah.
Tapi karena standar yang dia tunjukkan terlalu tinggi untuk ditoleransi oleh sistem yang selama ini nyaman dengan standar yang rendah.
Guys, Benix baru sharing sesuatu langsung dari Wall Street New York yang menurut gue paling menampar muka kita sebagai bangsa dalam waktu belakangan ini.
Bukan soal rupiah.
Bukan soal IHSG.
Tapi soal sesuatu yang lebih fundamental:
Indonesia kehilangan ribuan triliun investasi bukan karena tidak ada yang mau masuk.
Tapi karena kita sendiri yang mengusir mereka.
Tiga negara yang mengadu dan ini memalukan:
Swiss:
Duta besar Swiss untuk Indonesia
Olivier Zender secara terbuka komplain.
Ada lebih dari 150 perusahaan Swiss yang beroperasi di Indonesia dan mau ekspansi.
Mau invest di sawit, pabrik pengolahan susu, keju, petrochemical, farmasi.
Sampai sekarang tidak bisa.
Gara-gara perjanjian dagang Indonesia-Uni Eropa tidak kunjung diimplementasikan.
"Ini momen yang memalukan.
Duta besar negara lain membela pengusahanya supaya bisa invest di negara kita
sementara duta besar kita tidak pernah terlihat bela pengusaha Indonesia di luar negeri."
Prancis:
Duta besar Prancis Muhammad Omar sudah 4 tahun bertugas di Indonesia.
Ada 11 perusahaan Prancis yang sudah siap invest.
Sampai sekarang masih pending semua.
Alasannya satu: tidak ada kepastian regulasi.
Hari ini bebas pajak.
Besok tidak.
Hari ini satu aturan.
Besok aturan berubah.
Tidak ada yang bisa diprediksi.
Uni Emirat Arab:
Ini yang paling brutal.
Hampir Rp800 triliun gagal masuk ke Indonesia.
Ada satu investor Arab yang sudah siap bawa Rp85 triliun 5 miliar dolar.
Di saat yang sama dia juga lihat peluang di Amerika Serikat. Karena proses izin di Indonesia tidak jelas-jelas selesai dia akhirnya buka pabrik di Amerika.
Sekarang pabriknya di Amerika sudah running.
Di Indonesia masih standby.
Dan Rp85 triliun itu pergi ke Amerika.
Dan keluhannya selalu sama dari dulu:
Benix bilang keluhan investor tidak berubah dari ribuan seminar yang sudah dibikin pemerintah.
Birokrasi berbelit-belit.
Izin tumpang tindih antara pusat dan daerah.
Tidak ada kepastian hukum.
Pungli dan premanisme merajalela.
Regulasi berubah-ubah tanpa pemberitahuan.
Pemerintah pusat bilang A.
Gubernur bilang B.
Bupati bilang C.
Walikota bilang D.
Kepala desa bilang E.
RT/RW bilang F.
Dan kalau tidak ikut semua lapisan gudangmu bisa dibakar, bisa didemo ormas.
Contoh yang paling gila:
BYD, Cherry, Wuling datang ke Indonesia.
Buka pabrik mobil listrik.
Lapangan kerja tercipta.
Impor BBM berkurang.
Semua pihak diuntungkan.
Tapi setelah pabrik berdiri insentif pajak yang dijanjikan tiba-tiba dihilangkan.
Hari ini bebas pajak.
Besok tidak bebas pajak.
Hari ini tidak bayar PPN.
Besok harus bayar.
Hari ini ada satu aturan.
Besok ada aturan baru lagi.
Siapa yang mau invest di negara seperti itu?
Itu bukan investasi. Itu perjudian.
Dan ini yang paling ironis:
Indonesia punya semua yang dibutuhkan investor:
280 juta penduduk pasar konsumen terbesar keempat di dunia.
Nikel terbesar di dunia.
Sawit terbesar di dunia.
Lokasi strategis di antara Samudra Hindia dan Pasifik. UMR yang kompetitif.
Tapi yang jadi pusat perdagangan Asia Tenggara bukan Indonesia. Singapura.
Negara kota yang luasnya tidak lebih besar dari sebagian Jakarta.
Negara yang menikmati posisi strategis Selat Malaka bukan Indonesia yang memilikinya tapi Singapura yang mengelolanya dengan benar.
Dan rupiah terus melemah ini bukan kebetulan:
Ketika investor tidak mau masuk dolar tidak mengalir masuk. Capital outflow terus terjadi. Rupiah makin tertekan.
Prabowo bilang: "Mau dolar berapa ribu kek."
Gubernur BI bilang: "Rupiah stabil volatilitasnya 5,4%."
Tapi kenyataannya: duta besar Swiss, Prancis, dan Uni Emirat Arab semua mengadu bahwa investasi mereka tidak bisa masuk.
Rp800 triliun dari UEA saja gagal masuk. Berapa total yang sudah gagal selama bertahun-tahun?
Masalah Indonesia bukan kurang sumber daya alam. Bukan kurang potensi. Bukan kurang investor yang mau masuk.
Masalah Indonesia adalah sistem yang membuat orang yang mau masuk akhirnya memilih pergi.
Dan selama birokrasi berlapis-lapis, regulasi berubah-ubah, pungli dan premanisme tidak diberantas serius, serta izin bisa berbeda antara pusat dan daerah investor terbaik yang sudah siap bawa triliunan ke Indonesia akan terus memilih Vietnam, Thailand, atau Singapura.
Dan rupiah akan terus melemah.
Bukan karena faktor global semata.
Tapi karena kita sendiri yang membangun tembok untuk mengusir uang yang seharusnya bisa menciptakan lapangan kerja bagi rakyat kita.
Guys, ada nama yang menurut gue perlu dibahas lebih serius dari yang selama ini dibahas media.
Letkol Teddy Indra Wijaya.
Sekretaris Kabinet.
Bukan menteri.
Bukan jenderal bintang empat.
Tapi dalam konteks kebebasan pers dan kontrol informasi di pemerintahan Prabowo dia adalah satu nama yang paling banyak disebut oleh para jurnalis yang berbicara di balik anonimitas.
Apa yang terjadi di bencana Sumatra
dan di mana Teddy masuk:
Akhir November 2025.
Banjir dan longsor menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
BMKG sudah memberikan peringatan
delapan hari sebelumnya.
Tidak ada rapat darurat.
Tidak ada langkah antisipasi dari pemerintah pusat.
Saat bencana meluas Prabowo tetap menjalani agenda seperti biasa.
Rapat soal koperasi.
Ketemu Menteri Kelautan.
Menerima Ratu Belanda.
Baru di tanggal 27 November setelah 72 orang meninggal dan 54 orang hilang rapat penanganan bencana digelar.
Dan per Januari 2026, korban tercatat 1.199 orang meninggal dan 114 orang hilang.
Di tengah semua itu ada wartawan bernama Rina yang dikirim liputan ke Aceh.
Lebih dari tiga minggu di lapangan.
Dia melihat beras menumpuk di posko tapi tidak disalurkan.
Seorang pria yang istrinya harus diamputasi tapi tidak bisa karena tidak ada alat.
Orang-orang yang mengaku sudah siap bunuh diri karena tidak kuat lagi.
Rina melakukan siaran langsung.
Dia tumpahkan semua yang dia lihat.
Dan Teddy Indra Wijaya Sekretaris Kabinet
menonton siaran itu dari Jakarta.
Lalu Teddy menghubungi pemilik media tempat Rina bekerja. Mengamuk.
Dan meminta pemimpin redaksi media itu diganti.
Bukan insiden tunggal ini pola:
Wartawan lain bernama Indira yang dikirim ke Padang mengalami hal serupa.
Setelah dia melapor bahwa bantuan belum datang dan pemerintah belum terlihat atasannya langsung menelepon.
"Next, jangan sebut kalau belum ada bantuan masuk, ya."
"Tapi memang belum ada bantuan.
Faktanya begitu."
"Cerita soal dampaknya aja.
Tapi jangan kasih tahu kalau bantuan belum masuk."
Indira akhirnya siaran langsung di depan sebuah ekskavator yang membersihkan sisa longsor bukan karena ada kemajuan nyata, tapi karena itu satu-satunya hal yang bisa terlihat seperti "pemerintah bekerja."
"Maksa banget," kata Indira.
Teddy dan pola Orde Baru yang sangat familiar:
Project Multatuli yang menginvestigasi ini menarik perbandingan yang sangat tepat dan sangat tidak nyaman.
Di era Orde Baru tidak ada larangan tertulis soal apa yang boleh dan tidak boleh diberitakan.
Yang ada adalah telepon.
Pejabat atau perwira militer tertentu menelepon petinggi redaksi untuk memberi arahan, teguran, atau larangan atas isu tertentu.
Tidak perlu SK.
Tidak perlu aturan resmi.
Cukup satu telepon dari orang yang tepat dan seluruh redaksi paham apa yang harus dilakukan.
Apa yang dilakukan Teddy?
Persis sama.
Menelepon pemilik media.
Mengamuk.
Meminta pemred diganti.
Tanpa surat resmi.
Tanpa proses hukum.
Cukup satu telepon.
Yang paling ironis Teddy adalah simbol harapan yang berubah menjadi simbol yang lain:
Banyak yang dulu berharap besar pada sosok militer muda yang masuk lingkaran dalam Prabowo.
Ada harapan bahwa generasi baru perwira akan membawa cara kerja yang berbeda.
Lebih profesional.
Lebih terukur.
Yang kita saksikan sekarang adalah seseorang yang menggunakan posisinya sebagai Sekretaris Kabinet posisi administratif,
bukan posisi keamanan untuk mengontrol arus informasi tentang kegagalan pemerintah dalam menangani bencana.
Bukan mengontrol berita palsu.
Bukan melawan disinformasi.
Tapi meminta media tidak memberitakan bahwa bantuan bencana belum datang saat bantuan memang belum datang.
Dan Teddy tidak merespons pertanyaan dari Project Multatuli:
Pertanyaan dikirim ke nomor pribadinya dan ke email resmi humas Setkab.
Tidak ada respons sampai artikel diterbitkan.
Tidak ada klarifikasi.
Tidak ada bantahan.
Hanya diam.
Ketika seorang Sekretaris Kabinet bisa menelepon pemilik media dan meminta pemimpin redaksi diganti hanya karena wartawannya melapor bahwa bantuan bencana belum datang itu bukan soal satu orang yang arogan.
Itu adalah sistem yang memang dirancang untuk memastikan bahwa rakyat hanya mendengar apa yang penguasa mau mereka dengar.
Dan sistem seperti itu pernah kita kenal.
Namanya Orde Baru.
Dan kita butuh 32 tahun untuk keluar dari sana.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan investigasi Project Multatuli dalam serial Dead Press Society. Semua nama wartawan disamarkan untuk melindungi sumber. Teddy Indra Wijaya tidak merespons pertanyaan yang diajukan sampai artikel diterbitkan.
Buat yang MALAS MEMBACA tapi BUKAN PARJO PARCOK. Saya bantu translasi article the Economist biar ga IKUTAN DUNGU teriak antek asing dan "semua akan hilang ketika IHSG bullish":
"Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, pernah menyaksikan negaranya hancur sebelumnya. Itu terjadi pada tahun 1998, saat krisis keuangan Asia. Kala itu, runtuhnya ekonomi memicu protes massa dan tumbangnya bapak mertua Pak Prabowo, Suharto, seorang diktator yang terkenal korup. Peristiwa itu juga melemparkan Pak Prabowo, yang sempat berharap bisa menggantikan Suharto, ke dalam pengasingan politik. Butuh waktu seperempat abad baginya untuk merangkak kembali, hingga akhirnya berhasil meraih kursi nomor satu pada tahun 2024.
Jadi, Anda mungkin berpikir dia akan sangat berhati-hati terhadap krisis fiskal lainnya: Anda salah.
Pemimpin negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia ini telah memusatkan kekuasaan dan mengelilingi dirinya dengan sekelompok penjilat. Dia mendepak menteri keuangan yang dihormati dan menggantinya dengan Purbaya Yudhi Sadewa, yang pernah menyebut IMF "bodoh" dan mengatakan kepada The Economist pada bulan April bahwa presiden tidak perlu khawatir tentang "perkembangan ekonomi global [atau] harga minyak dunia". Para pelaku bisnis di Indonesia takut untuk bersuara, mungkin karena Pak Prabowo adalah mantan jenderal antikritik dengan rekam jejak hak asasi manusia yang dipertanyakan, atau mungkin karena belakangan ini dia kerap mengintimidasi bisnis-bisnis besar.
Pak Prabowo tampaknya mengisolasi diri dari kenyataan. Jadi, dia mungkin tidak akan mendengarkan nasihat yang masuk akal. Namun, inilah beberapa masukan untuknya. Proyek-proyek kesayangannya tidak terjangkau. Sebelum perang Iran, menghabiskan proyeksi 10% dari anggaran hanya untuk dua proyek saja—makan siang gratis di sekolah dan jaringan 80.000 koperasi desa—hanya sekadar pemborosan. Sekarang, krisis energi telah menghapus semua ruang untuk melakukan kesalahan. Pak Prabowo harus mengubah arah atau menghadapi risiko krisis.
Dia harus memotong pengeluaran untuk proyek-proyek kesayangannya, atau memangkas subsidi bahan bakar fosil Indonesia yang sangat besar, atau melanggar undang-undang yang membatasi defisit anggaran sebesar 3% dari PDB. Setiap pilihan memiliki risiko. Memangkas proyek mubazirnya akan membuatnya tampak lemah. Membiarkan harga energi naik akan mengundang kerusuhan. Jadi, Pak Prabowo mungkin akan mengambil jalan ketiga: membiarkan defisit menembus batas hukumnya.
Itu akan menjadi sebuah kesalahan. Memang benar, batas 3% adalah angka sewenang-wenang yang disalin-tempel dari Perjanjian Maastricht Eropa. Namun sejak krisis 1998, angka itu telah menjadi sinyal bahwa pemerintah Indonesia serius menjaga disiplin fiskal. Sekarang para investor mulai cemas. Pembayaran bunga sebagai bagian dari pendapatan pemerintah melonjak tajam. Lembaga pemeringkat kredit sedang bersiap untuk menurunkan peringkat. Di bawah kepemimpinan Pak Prabowo, modal asing senilai $6 miliar telah keluar dan rupiah telah melemah sebesar 11% terhadap dolar ke rekor terendah. Menjebol batas anggaran akan mendorong biaya pinjaman menjadi lebih tinggi.
Bahkan saat dia membuat ekonomi menjadi lebih genting, Pak Prabowo juga mengikis demokrasi Indonesia. Oposisi legislatif hampir sepenuhnya dilumpuhkan, dan proposal untuk mengakhiri pemilihan langsung gubernur provinsi bukan merupakan pertanda baik. Masyarakat sipil diintimidasi. Ruang untuk berbeda pendapat sangat sedikit, dan jika ada, minim pergulatan kreatif antar-gagasan yang saling bersaing. Terlalu banyak hal yang bergantung pada naluri seorang mantan tentara tunggal yang mendapat saran buruk.
Dia perlu mendengar kebenaran yang pahit. Ya, bahan bakar murah memang populer. Namun hal itu mendorong konsumsi di tengah situasi kelangkaan. Ya, orang-orang menyukai makan siang gratis di sekolah. Namun memberikannya kepada semua orang adalah pemborosan. Lebih bijaksana untuk fokus pada ibu hamil dan balita dari keluarga miskin, yang membutuhkan nutrisi lebih baik guna mencegah stunting (tengkes). Ya, petani Indonesia kerap diperas oleh tengkulak saat membeli pupuk. Namun ada cara yang lebih murah untuk mengatasi hal ini ketimbang membangun 80.000 koperasi desa, yang kemungkinan besar justru rentan korupsi. Dan ya, batas defisit 3% bisa saja dinaikkan suatu hari nanti. Namun pertama-tama, Pak Prabowo harus meyakinkan pasar bahwa keuangan Indonesia berada di tangan yang aman.
Persimpangan jalan baru
Indonesia telah membuat kemajuan besar dalam seperempat abad terakhir. Di bawah serangkaian pemerintahan yang cukup pragmatis, pendapatan per kapita telah meningkat lebih dari dua kali lapor dan demokrasi mulai berakar. Pak Prabowo bukanlah penguasa kleptokratis seperti mendiang bapak mertuanya, tetapi dia sedang mengikis kemajuan yang telah dicapai negaranya sejak masa-masa kelam dulu.
Presiden harus berhenti mencoba membungkam oposisi di legislatif, media, dan masyarakat sipil. Perbedaan pendapat yang tidak menemukan saluran dalam politik akan tumpah ke jalanan, seperti yang terjadi dalam kerusuhan tahun lalu. Bersikeras bahwa oposisi harus "sopan" adalah resep yang suatu hari nanti justru bisa mengubahnya menjadi kekerasan.
Masih ada harapan. Pak Prabowo peduli dengan warisan kepemimpinannya. Jadi, dia perlu menyadari bahwa negara kepulauan yang sangat besar, luas, dan multi-etnis seperti Indonesia tidak bisa begitu saja diberi perintah layaknya sebuah unit tentara. Indonesia membutuhkan seorang panglima tertinggi yang mendengarkan banyak suara, bukan yang mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang hanya bisa berkata "ya""
Bukti klo sesungguhnya PREMAN ITU LEMAH dibandingkan masyarakat kita
Sebenarnya bisa aja kita bersatu habisi semua preman di lapangan..dibandingkan jumlah rakyat yg dirugikan..jumlah preman, pungli & sampah masyarakat lainnya gaada apa2nya
#thinktwice#minggu#senin
Pada 1997, orang-orang Betawi mengadakan pembersihan terhadap wabah preman Hercules yang meresahkan area Jakarta.
Gerombolan bandit penjahat dari hutan Timor Timur yang jadi anjing peliharaan keluarga Cendana itu kicep dipukuli warga sampai mampus dan diusir dari Tanah Abang.
Sebelumnya, gerombolan bandit dan penyamun hutan yang berkhianat terhadap bangsanya sendiri di Timor Timur itu seakan tak tersentuh polisi, karena statusnya sebagai anjing peliharaan rezim keluarga Cendana yang saat itu menjadi the Lord of Crime di Indonesia.
Aparat, bukannya menghabisi dan menembak mati Hercules dan gerombolan rampok berbahayanya sampai musnah, malah melindungi dan membekinginya. Beking Hercules saat itu adalah seorang jenderal ABRI spesifik yang telah menjadi anggota dari rezim inti keluarga Cendana.
Atmosfer di Tanah Abang, yang adalah sentra tekstil terbesar di Asia Tenggara, jadi dipenuhi bau tengik dan pesing wabah penyakit teror, kebrutalan, pemalakan, pencurian, dan perampokan gerombolan preman mabuk buas Timor yang memukuli pedagang kecil tanpa konsekuensi. Menjijikkan.
Massa Betawi yang dipimpin orang yang dijuluki Ucu Kambing inisiatif melakukan aksi sepihak mengusir gerombolan preman mengerikan ini dari kampung dan pasar mereka dengan tangan dan golok mereka sendiri. Ini terjadi sebelum krismon.
Sayangnya, setelah keluarga Cendana digulingkan dan si jenderal bekingnya kabur dengan panik ke luar negeri, gerombolan bandit dan penjahat Timor liar ini gagal dibantai dan ditumpas mati sampai habis oleh negara hukum era Reformasi yang stabil. Kesempatan itu pun hilang.
Seperti zombie yang busuk dan penuh cacing, hari ini sepertinya gerombolan preman asing buas ini sudah hidup kembali lagi dengan sangat norak dan belagu, bahkan hari ini meludahi dan mengusir Persija dari kandangnya sendiri demi mempertontonkan coli kebelaguan ego mereka di ruang publik rakyat Jakarta.
Entahlah apakah suatu hari nanti, sejarah akan bisa kita ulang, dan apa yang dimulai Bang Ucu benar-benar dituntaskan sampai ke akar-akarnya.
Menurut diriku dikit banget film ‘box office’ Indonesia yg bisa leave a mark/bikin orang ngeh dengan line/dialog yg memorable
Kalo kayak,
“Run, Forrest, run!”
“Not quite my tempo”
“I will find you, and I will kill you”
“I’m gonna make an offer he can’t refuse”
Even “ba-ba-ba, ba-ba-nana” aja, banyak yg langsung ngeh itu film apa
Tapi kalo film Indonesia, selain:
“Salah gue? Salah temen-temen gue?”
“Hayati lelah, bang”
Apa lagi ya? Mungkin ada yg diriku lupa/blm tau. I would like to know more!
@Shadaya_Knight I think the pill for male is a good idea..i live in a society that always recommends women to take birth control substances
Untill now only females are suffering hormonal changes from contraception
Mba @NajwaShihab , jika ada kesempatan lagi, saya tau mba apa yang dilakukan sebelum wawancara: NOBAR.
nobar scrolling timeline.
Nobar video.
Nobar keluhan orang2.
Ditanya cuma 10 menit terakhir aja. Nobar aja dulu. Setidaknya menyampaikan fakta ke beliau ini ga cukup pake kata-kata.
Sisanya urusan hatinya tertutup ap ga (meski gw yakin udah).
Tapi sesi mbak nana setidaknya bisa menyampaikan, daripada org2 sekitarnya
There was a time in pre-Islamic society when daughters were treated with injustice. The Qur’an condemns this practice, and Islam completely transformed this reality by restoring dignity, mercy, and honor to women and girls.
The Prophet PBUH emphasized the immense reward of raising daughters. He said:
“Whoever is tested with daughters and treats them kindly, they will be a shield for him from the Fire.”
- (Sahih al-Bukhari Hadith 1418)
Also reported in Sahih Muslim
He PBUH also said:
“Whoever takes care of two daughters until they reach maturity, he and I will come on the Day of Resurrection like this,”
and he joined his fingers together.
- (Sahih Muslim Hadith 2631)
And in another narration:
“Whoever supports three daughters, remains patient with them, and treats them with kindness, they will be a protection for him from the Fire.”
- Musnad Ahmad (authentic according to scholars)
These authentic narrations demonstrate how Islam elevated the status of daughters transforming a society that once buried them into one that honors, protects and cherishes them.
From injustice to mercy. From rejection to reward.
This is the transformation brought by the message of Islam.
Arab Saudi ini negara aneh, di tanahnya terkubur jasad makhluk paling mulia. Di tanahnya terdapat "rumah" Allah.
Tapi masih takut sama Israel dan Amerika. Seakan-akan pimpinannya kayak gak punya iman saja.
@cakesloml 1.Bagaimana Anda memastikan bahwa kejadian tersebut bukan cuma kebetulan?
2.Brp frekuensi kejadian yang ckup untuk menyatakan adanya pola misoginis?
3.Apakah fenomena ini muncul di cabang lain atau hanya satu lokasi?
4.Bagaimana Anda mendefinisikan misogini disini
Let me help you imagine.
Middle East, post Islam, has been a global center of fragrance. You know oudh, woody scents, musk and more. That's where it all originates.
In Islam, smelling good is not just a survival tactic as seen in Europe. In Islamic world, applying fragrance is a ritual. Invites Allah's blessings and its part of Muslim identity.
The smell here is better than anything your senses have experienced. Oudh, bakhoor and so much more. All that take spirituality to next level.
P.S. Muslims don't apply perfumes to hide bad odours. Muslims have to take regular baths. It's unlike some cultures where bathing and washing own body was never a norm and they had to hide the smell behind perfumes aka parfum. 😉