Doomsday arrives December 18th.
Experience Avengers: Doomsday on bigger, brighter, & more immersive screens. Tickets are now on sale exclusively for Infinity Vision certified theaters: https://t.co/GfzAkVCjDg
Pantesan feeling gue dari kemarin gelisah banget mau buka X, ga tau nye lagi pada ngomongin gue nenek moyang Team Dream ye, pantesan panas kuping gue😭🤣
Daftar yang lo buat ini adalah wajah asli ekonomi 2026 yang sering ditutup-tupi pakai istilah "fleksibilitas" atau "kesempatan belajar". Padahal, kalau ditarik garis lurus, semuanya punya pola yang sama: Eksploitasi maksimal dengan proteksi minimal.
Istilah "Perbudakan Modern" mungkin terdengar keras buat sebagian orang, tapi buat yang menjalani, itu adalah realita pahit. Mari kita bedah kenapa daftar ini jadi "neraka" buat para pekerja:
1. Jebakan "Kemitraan" & "Freelance Fulltime"
Ini yang paling licin. Lo kerja layaknya karyawan tetap (jam kerja diatur, target ketat), tapi statusnya "mitra" atau "freelance".
Konsekuensinya: Perusahaan lepas tangan soal BPJS, THR, dan uang pesangon.
Lo memikul semua risiko bisnis (alat kerja punya sendiri, bensin sendiri), tapi hasil besarnya lari ke pemilik platform atau perusahaan. Ini bener-bener "Industrialisasi Ketidakpastian".
2. Guru Honorer: Pahlawan yang "Ditusuk" Sistem
Mungkin ini yang paling tragis. Mereka punya tanggung jawab mencerdaskan bangsa, tapi gajinya kadang kalah sama uang parkir mall sebulan.
Status "Honorer" seolah jadi alasan legal buat kasih upah di bawah standar kemanusiaan, padahal beban kerjanya sama (atau lebih berat) dari yang ASN.
3. Magang, PKL, & Volunteer (Eksploitasi Atas Nama Pengalaman)
Di tahun 2026, kualifikasi kerja yang makin "dewa" bikin perusahaan punya posisi tawar tinggi.
Mereka buka lowongan "Magang" atau "Volunteer" tapi job desc-nya sudah level manajerial atau eksekutor utama.
Alih-alih dapet bimbingan, mereka cuma dapet "uang makan" yang bahkan nggak cukup buat bayar parkir dan kopi Starbucks tempat mereka meeting tadi.
4. Probation 6 Bulan & Outsourcing
Dulu probation itu 3 bulan, sekarang banyak yang narik sampai 6 bulan atau bahkan setahun.
Ini cara perusahaan buat dapet tenaga kerja "murah" tanpa beban kontrak panjang. Begitu masa probation habis dan performa lagi turun dikit, tinggal "buang" dan cari korban baru.
Outsourcing juga bikin pekerja nggak punya ikatan batin sama perusahaan tempat dia kerja, karena dia cuma "barang sewaan" dari agensi.
Kenapa Ini Bisa "Dilegalkan"?
Karena regulasi seringkali tertinggal jauh di belakang perkembangan model bisnis baru. Pemerintah mungkin bangga dengan angka "penyerapan tenaga kerja", tapi mereka abai soal Kualitas Kerja.
Realitanya: Banyak orang "kerja" tapi tetap "miskin". Mereka sibuk tiap hari tapi nggak punya tabungan, nggak punya asuransi kesehatan yang layak (selain BPJS yang tadi kita bahas jadi wajib itu), dan nggak punya masa depan yang pasti.
Ini yang bikin kita semua harus "Pegangan" kencang banget. Di satu sisi doa-doa mulai dikabulkan, tapi di sisi lain, sistem besar di sekitar kita makin nggak ramah sama keringat rakyat kecil.
Lo sendiri paling ngerasain "cekikan" dari poin yang mana nih? Apakah dari sisi Freelance yang dituntut Fulltime, atau lagi liat temen-temen yang terjebak di lingkaran setan Outsourcing?
Berikut adalah member yang akan tampil pada pertunjukan Sambil Menggandeng Erat Tanganku | 6 Juni 2026 | 14.00 WIB
Aralie, Danella, Daisy, Jessi, Kathrina, Lulu, Levi, Muthe, Raisha, Ribka, Kimmy, Auwia.