sumpah kalian harus baca ini. punya @projectm_org gimana rezim prabowo dan seskab teddy membungkam media saat meliput bencana di Sumatra. semua dibungkam
guys, walaupun kita ga turun, kita punya KUASA BESAR UNTUK MENYEBAR LUASKAN MELALUI MEDIA SOSIAL BAHWA INDONESIA MEMANG TIDAK BAIK-BAIK SAJA. SO, TOLONG SEBAR INFORMASI DEMO INI SELUAS MUNGKIN AGAR DUNIA TAHU KALAU KITA RAKYAT INDONESIA SEDANG MELAWAN PEMERINTAHNYA SENDIRI!
Nggak mikir kan, secinta apa rakyat kalian ke negara kiamat ini? It's an act of love. You don't know what love is. That's why you see it as a threat. You know nothing about love, so you call it violence.
what makes it even sadder is we don’t hate this country. we’ve never hated indonesia. we hate the abuse of power, the injustice, the systems that fail us, the voices that are ignored, and the people who keep enabling it. all we want is for our country to be better :(
btw ini kopinya dari pasutri yang punya bisnis kopi gitu huhuhu. selain, itu tadi jg ada abang gojek yv nyamperin pas kami baru turun dr kopaja buat ngasih roti TERHARU BGT. rakyatnya sebaik dan sesuportif ini, tp pemerintahnya kyk iblis. sehat-sehat, wni
Sesuai prediksi BMKG, menjelang malam tiba-tiba muncul massa tidak jelas dari mana datangnya. Bajunya serba hitam, geraknya kompak, lalu langsung berbuat anarki.
Seperti biasa, setelah itu fokus bergeser: dari tuntutan aksi menjadi kerusuhan.
The situation in indonesia right now
- the people are currently protesting (mostly students) because of our dumbass president
- the cctv around the place of the protest cannot be accessed publicly
- the student buses got stopped and separated
SEAblings and everyone really, please retweet posts from Indonesia about their current situation, as to what I'm hearing, their own media doesn't dare speak of it!
Sejujurnya gue gak tau ini tulisan akan mengarah ke mana, hanya pikiran random jam 2 pagi setelah melihat demo seharian tadi. If you have time silakan baca or feel free to skip.
Gue tumbuh besar di lingkungan yang sekitarnya penuh dengan kemiskinan. Gue sendiri berasal dari keluar yang biasa-biasa saja, mungkin hanya sedikit lebih beruntung dari yang lain.
Orang-orang hidup dengan serba kekurangan. Boro-boro punya tabungan atau rencana masa depan, besok pun belum tau gimana caranya dapetin makan. Segala macam cara dilakukan untuk bisa dapat uang tambahan.
Dulu kalo pagi suka ada tetangga nenek-nenek, namanya Romlah, sering datang ke rumah bawa jualan kayak jajanan kue atau gorengan, kalo siang ke sore dia lanjut pergi ke sawah. Beliau rajin banget, tapi anak-anaknya pun tetap harus putus sekolah.
Ada juga ibu-ibu tetangga yang buka jasa cuci baju, namanya Bu Sop. Orang di kampung gak punya mesin cuci jadi nyucinya masih dikucek sendiri manual. Beliau meninggal dunia karena penyakit kronis dan tidak punya biaya untuk rutin berobat.
Pengangguran ada banyak, yang putus sekolah banyak, yang sampai ke perguruan tinggi cuma sedikit sekali. Semuanya terhambat masalah ekonomi. Semuanya terjebak dalam kemiskinan struktural.
Yang hidupnya nyaman dan berkecukupan bisa dihitung jari. Gue termasuk yang berkecukupan, tapi tetap ga bisa seenak jidat minta macem-macem ke orang tua. Kalo pengen sesuatu biasanya harus nabung uang jajan sekolah dan beli sendiri.
Gue udah gak tinggal di lingkungan tersebut, tapi sampe sekarang gue selalu ingat betapa susahnya kehidupan orang-orang di sekitar gue dulu.
Sekeras apapun mereka berusaha dan bekerja mereka gak akan bisa keluar dari kemiskinan tersebut. Entah karena keterbatasan ilmu, kemampuan, atau akses ke informasi dan kesempatan.
Mereka gak punya kemampuan untuk mengubah nasib atau memperbaiki kehidupan. Mereka gak tau musti ngapain. Mereka cuma bisa pasrah. Mereka gak peduli siapa yang jadi pemimpin karena buat mereka, siapapun pemimpinnya toh hidup mereka ya begitu-begitu aja.
Di setiap masa pemilu, siapa yang bisa ngasih imbalan itulah yang akan dipilih. Mereka gak punya pilihan lain selain menerima.
Mereka adalah golongan yang rentan dimanipulasi dan dimanfaatkan.
Memang zaman sekarang orang sudah punya smartphone bahkan di daerah. Tapi teknologi tersebut tidak seimbang dengan kemampuan memilah informasi dan berpikir kritis. Belum lagi banyaknya media yang dikontrol, disensor, dan buzzer di mana-mana.
Kita, yang punya akses ke pendidikan yang lebih baik, yang mampu berpikir kritis, yang mengerti apa yang sedang terjadi di atas sana, yang bisa melihat kebohongan dan tipu muslihat, adalah wakil mereka.
Suara kita adalah suara mereka.
Perjalanan mungkin masih panjang, kita mungkin masih butuh banyak belajar, tapi gapapa pelan-pelan aja. Gue tau sangat mudah untuk merasa frustrasi dan putus asa di situasi seperti ini, tapi kita gak bisa buang harapan.
Bareng-bareng yok.
----------
Even if I have to die, I will use the only voice I have to make some noise.