lu bayangin, pakar dan para ahli kuliah sampe S3, memahami seluk beluknya, tapi dikatain bego sama jenderal yang dipecat. kapsitas lu bahkan engga ada seujung kukunya para pakar buat berlaga kaya gini. sakit lu.
GONGGGG BGTTT for the first time in my life gue ngeliat presiden yg ngejadiin bencana yg dialami warga nya sebagai uji coba untuk ngelihat bawahannya kerja atau ga
sekali lagi, dia ngomong “sengaja” yg artinya he know the fact that warga di NTT beneran butuh bantuan, he know the fact that banyak org yg ngamuk karena leletnya bantuan yg datang. bahkan dia ga ngomong kata “maaf” sama sekali
kalo masih ada yg ngomong, “kok serba disalahkan?” iya jelas salah. gempa itu termasuk bencana yg sangat rentang memakan korban jiwa.. n dia sengaja ga datang buat ngasih kesempatan ke pejabat NTT buat mengatasi bencana nya 😅 cacat logika wkwkkw
mau make alasan apapun, harusnya dia datang di hari setelah kejadian lebih masuk di akal gue…
🚨 ALERTA! ALERTA! ALERTA! 🚨
⚠️ PERINGATAN DARURAT ⚠️
TRITURA: TIGA TUNTUTAN RAKYAT KEMBALI
Melalui seruan aksi ini, kami kembali mengangkat Tiga Tuntutan Rakyat (TRITURA) sebagai bentuk sikap atas berbagai persoalan yang masih dihadapi bangsa.
Tritura bukan sekadar slogan, melainkan pengingat bahwa pemulihan ekonomi dan politik nasional, pemberantasan pejabat yang tidak kompeten, serta pengembalian supremasi sipil merupakan tuntutan yang terus relevan untuk diperjuangkan.
Selama aspirasi rakyat belum terwujud, suara kritis akan terus disampaikan sebagai bagian dari komitmen menjaga demokrasi dan kepentingan publik.
Sumber: IG/BEM FH Universitas Trisakti
#TRITURA #TigaTuntutanRakyatKembali #SeruanAksi #SuaraRakyat #AksiMahasiswa #Demo
🚨 JUST IN: Ternyata rombongan aksi #demo yang memakai baju biru dan baju putih di sekitar Patung Kuda merupakan buzzer pemerintah.
Be careful guys!!!
Lagi-lagi uang pajak kita dipakai untuk bayar buzzer.
#IndonesiaGelap#MenujuIndonesiaBangkrut
dibilang antek-antek asing saya diam,
dibilang ndasmu saya diam,
dibilang warga desa tidak pakai dolar saya diam,
dibilang “tidak bermimpi kaya raya?”
SAYA AKAN LAWAN!!!
Empat syarat Kartini sebelum (terpaksa) mau dipoligami:
1. Boleh mendirikan sekolah & mengajar untuk putri di Rembang, melanjutkan cita-citanya memajukan pendidikan perempuan.
2. Penolakan adat feodal dalam upacara pernikahan: tidak mau berjalan jongkok di belakang suami, tidak berlutut, tidak menyembah/mencium kaki suami.
3. Kesetaraan bahasa: berbicara dengan suami menggunakan bahasa Jawa Ngoko (bahasa sehari-hari setara), bukan Krama Inggil (bahasa hormat yang menunjukkan hierarki istri lebih rendah).
4. Boleh membawa ahli ukir dari Jepara ke Rembang untuk mengembangkan kerajinan secara komersial sebagai kegiatan ekonomi perempuan.
Semua syarat ini (sangat progresif & radikal pada masa itu) dipenuhi oleh calon suaminya, Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat.
Kartini melihat poligami sebagai bentuk penindasan terbesar terhadap perempuan. Ia menyaksikan langsung penderitaan ibunya, Ngasirah, yang dimadu oleh ayahnya. Dalam surat-suratnya, ia menulis dengan getir bahwa tak ada perempuan yang bahagia dimadu, & laki-laki yang memadu kehilangan kehormatan. Poligami dianggapnya sebagai "dosa" yang membuat perempuan menjadi saingan dan korban, sementara laki-laki bebas. Ia juga menolak pernikahan paksa dengan orang asing yang belum dikenal, karena cinta sejati harus dimulai dari rasa hormat, bukan paksaan adat.
Namun, pada 1903, Kartini di usia 24 tahun (dianggap perawan tua yang memalukan keluarga ningrat pada masa itu) terpaksa menikah dengan Raden Adipati Ario Djojoadiningrat, Bupati Rembang yang jauh lebih tua (~25 tahun) & sudah punya 3 istri (salah satunya baru meninggal) karena tekanan budaya feodal priyayi pada masa itu & karena ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, sakit serta terus "dibully" teman-temannya karena anak perempuannya belum menikah.
“Saya telah berjuang, bergulat, menderita, dan saya tidak dapat menjadikan nasib celaka Ayah, dan dengan demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai." (Surat Kartini kepada Abendanon, 14 Juli 1903)
Meski seumur hidup menentang poligami & pernikahan paksa, Kartini terpaksa mengalahkan idealismenya, terpaksa menanggalkan egoismenya, serta harus berkompromi dengan realitas sosial feodal Jawa demi menjaga kehormatan ayah & keluarga yang dicintainya.
Tekanan budaya feodal & partriarkis kelas priyayi pada masa itu terlalu kuat & ketat, di mana poligami & pernikahan paksa merupakan norma adat (diperkuat ajaran agama), sehingga meskipun Kartini sempat menolak keras, beliau kalah, beliau akhirnya terpaksa menerima pernikahan poligami itu.
Kartini tetap melanjutkan perjuangan emansipasi & pendidikan perempuan dari dalam pernikahan, meski hanya berlangsung singkat karena beliau wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya pada pada 17 September 1904 di usia 25 tahun.
Penyebab utama kematiannya adalah komplikasi persalinan, diduga akibat preeklampsia (tekanan darah tinggi pada kehamilan yang dapat memicu kejang dan kegagalan organ). Tragedi ini sangat ironis karena Kartini baru saja mulai mewujudkan cita-citanya setelah menikah, yang salah satu visinya tentu saja untuk meningkatkan akses kesehatan yang lebih baik bagi perempuan, khususnya kesehatan reproduksi & maternal (masa kehamilan, persalinan, & pasca melahirkan).
Alfatihah untuk Ibu Kartini, damai di surga 🌹🌷🌼💐🌺🌸🪻