Hanya saja sedikit menyesal, sudah keburu berhenti kerja.”
Andi terpaku tak percaya sementara Suhendar sangat getol mengiyakan. Demi pembuktian, mereka bersepakat memeriksa isi handphone itu.
-Tewasnya Mahasiswi Cantik Di Kampus 17 Lantai-
Seorang mahasiswi cantik ditemukan tewas di salah satu gedung kampus di Bandung. Pihak keluarga curiga kematian korban karena pembunuhan.
-Utas-
Bab 3 : Peristiwa Ganjil Di dalam Lift
"Separo badannya dari kepala sampe perut masuk ke mesin ketel, sementara separonya lagi masih diluar pintu mesin ketel. Dulu kalo kata pegawai yang lama, berita itu sampe masuk koran."
gambarannya kayak gini 👇
a thread
DARAH MANIS PABRIK GULA
#bacahorror
–Tengkorak Keluarga Nawal–
Ebon (32) seorang buruh pengepul limbah kerajinan kulit sapi di pinggiran Jakarta Selatan menemukan sebuah tengkorak manusia di dalam karung limbah yang baru tiba pada Ahad siang (13/7/2008). Itu menjadi awal mula pengungkapan kasus pembunuhan lima orang anggota keluarga Nawal.
Gunakan titik (.) untuk sistem 12 jam.
10.00 malam
Gunakan titik bertindih (:) untuk sistem 24 jam.
22:00 malam
Betulkan yang biasa, biasakan yang betul. Bahasa jiwa bangsa.
–Sepotong Tangan Arlina–
Peran polisi di kasus ini sungguh luar biasa.
Senin siang di awal Juni 2011, Arlina bertengkar keras dengan kekasihnya yang dicap berprofesi sebagai mokondo cukup mapan. Arlina lalu pergi dan tak pernah pulang sejak itu. Tiga pekan setelah itu, seorang pemetik teh menemukan sepotong tangan perempuan dibalut sarung tangan yang dikenakan Arlina pada hari pertengkarannya.
Thriller story
–The real Cegil Aulia Kesuma–
Disantet berulang kali tak juga mempan, Edi Candra alias Pupung Sadili (54) dan Adi Pradana alias Dana (23) akhirnya diracun serta dianiaya hingga tewas. Mayatnya ditemukan hangus di dalam mobil di Cidahu, Sukabumi.
Manih memungut linggisnya lalu berdiri dan menjawab, “Mas Bondo.”
Tanpa berpikir dua kali Diah meninggalkan wanita itu secepatnya. Manih sempat berteriak dan berusaha menahannya tetapi Diah kabur sangat cepat.
***
Dengan lega Diah bergegas membukakan pintu. Manih berdiri di teras rumah dengan wajah diliputi ketegangan.
“Siapa yang melempar batu, Mbak?” selidik Manih.
Diah menggeleng dengan rona tak kalah tegang. Akan tetapi ia segera dibikin heran setelah menyadari Manih menenteng sebongkah batu kali yang ukurannya sama besar.
Awang hentakkan kaki, lari keluar menabrak pintu dpn. Aku meraih HP menyusulnya. Kami berbelok selepas 2 pohon sawo dan krn gerakan tak terkontrol, Awang jatuh terpeleset di jalanan kasar. Tangan dan mukanya berdarah. Aku seret dia. Ada angin besar berhembus, ada sosok mendekat!