๐ฆ๐๐๐ฆ๐๐๐ฉ ๐ด๐๐ ๐๐๐๐, 1997. ใ ค| ใ คHer heart is a cathedral of deep love and intense devotion, where the altar is built to worship what heaven forbade.
Okay, that is such a hot woman sentence. Tell me more about your research! But please, bear with me as science is not exactly my strongest suit, so you'll probably have to put up with me asking for broader explanations. Oh, why not give being pilates princess a try then? ;>
Yet adoration always seemed to end at the thought of possessing her body... to dragging her to a sensual warmth in pursuit for illicit pleasure. It was barely a desire to truly trace the shape of her soul with the same devotion others reserved for her beauty.
What a girl to do if not romanticizing the idea of being loved thoroughly for the way she is? ๐โเฉญ / Adoration over her breathtaking body had long ceased to surprise her. Beneath the light, her skin glistened with a pearly glow, inevitably drew wandering eyes.
Anya sontak menoleh ketika mendengar pertanyaan diucap dari wanita cantik di sebelahnya. Ia mengerjap-kerjapkan mata, mencoba memahami apa yang terjadi.
"Eh? Sepatu aku 'kan maksudnya?" ucapnya untuk memastikan, dengan pipi sedikit merona kemerahan.
"Eh nyetir yang benar dong, kalau mobil gue kenapa-napa gimana?!" Ia menyerocos dengan nada galak, wajah ayu yang biasa tersenyum jadi merengut tatkala sang puan keluar dari mobil dan menghampiri sang lelaki.
"Adeeeh. Bemper gue lecet ini kayaknya..."
(@authorithm)
Mood Anya sedang tidak baik-baik saja hari ini. Uring-uringan sekali. Sekarang jadi makin buruk akibat bemper mobil kesayangannya dihantam oleh kendaraan di depan. Ya meskipun hanya sedikit dan tidak terlalu parah sih, tapi tetap saja, ia tak mau ada goresan 'menghiasi' mobilnya.
Sang puan agak terhuyung ke belakang sambil satu tangan memegangi dahinya.
"Aduh maaf Mas, saya gak sengaja..." Ia meringis sambil memijit sedikit kepalanya.
(@GURATLUIS)
Mumpung dirinya sedang mengambil jatah cuti, hari ini Anya memutuskan untuk mengikuti otak impulsifnyaโyaitu pergi jogging ke taman komplek. Entah ia yang tak beruntung atau memang kesiangan, cuaca terasa begitu panas dan terik. Dirinya jadi agak sempoyongan, (...)
(...) dengan keringat tak berhenti mengucur dari dahi. Ditambah perutnya memang sedang dalam keadaan kosong. Pandangan mata perlahan mulai kabur, berujung ia menjadi kesusahan untuk melihat.
Bruk!
Tanpa sadar, Anya menabrak punggung lelaki yang ada di depannya.
Dumps from Sundayโs moonlit hours. A rather unsatisfactory blind date arranged by dearest Mom, but at least I was well-fed. As this being the fifth of her carefully curated matchmaking efforts, I can only hope Mom is finally running out of candidates.