Di sini ada data desil yang lumayan bisa menggambarkan sebaran pengeluaran per kapita.
Terlihat bahwa memang kelas menengah (16,6%), yang sebenarnya juga gak kaya2 amat, tersebar di desil 9 dan 10. Yang benar2 kaya hanya 0,4% di pucuk.
Dengan demikian, sebenarnya desil ini tidak bisa digunakan sebagai patokan kebijakan.
Investigasi Harian Kompas membongkar bom waktu perbankan! Jatuh tempo September 2026, tagihan Himbara ke Agrinas capai Rp37,7 Triliun, tapi anggaran pemerintah cuma ada Rp8,1 T. Ada DEFISIT TUNGGAKAN Rp29,6 TRILIUN. Demi proyekan fisik di hulu, likuiditas bank negara dan uang nasabah dipertaruhkan.
Video : kompas tv
Desil hanya menunjukkan posisi relatif dalam distribusi kesejahteraan.
Kelompok 20% teratas (D9 & D10) bukan “orang kaya”.
Bahkan kelas atas versi BPS hanya 0,46% populasi dan berada di ujung D10.
Menyamakan top 20% dengan kelompok kaya adalah penyederhanaan yang berbahaya.
Ada yg bilang pada saya kalau Indonesia nggak bisa pakai demokrasi tapi butuh pemimpin semi otoriter agar bisa maju, seperti Cina dan Singapura katanya. Tepat kah asumsi itu?
Ada Rencana Pembatasan Penggunaan BBM Pertalite untuk Desil 9-10,
Desil itu, Pembagian per 10,
Desil 1 : 10 % termiskin
hingga
Desil 10 : 10% terkaya
Total 100%
Kalau Desil 9 dan 10 berarti : 20% Penduduk Terkaya
Jangan kira ANDA TIDAK KENA ATURAN INI!
"Om, aku bolos untuk ini."
Swan, kelas 12, kabur sebentar dari pesantren demi jaga booth brand-nya sendiri: Sincerely Take Care. Semua desain dia yang bikin, dari nol. Bahasa Inggrisnya lancar banget, padahal nggak pernah sekolah di luar negeri, cuma belajar dari memperhatikan cara orang bicara. Umur 17, sudah menopang keluarganya dan pengin bantu keluarga-keluarga lain juga. Di JSD kemarin kami ketemu banyak anak muda seperti Swan. Modalnya kerja keras dan hati yang besar.
Bolos yg kayak gini saya dukung. Tapi kalau bisa jangan sering-sering, dan mending bilang ke sekolah biar ikut didukung.
Buku yang dibaca pak Anies berjudul "Why Do So Many Incompetent Men Become Leaders? (and how to fix it)" atau Kenapa banyak laki-laki inkompeten menjadi pemimpin? (dan bagaimana cara memperbaikinya)
Apa sih isinya secara umum?
Jadi gini... Buku itu ditulis oleh Tomas Chamorro-Premuzic, Profesor Psikologi Bisnis di University College London dan Columbia University
Pertanyaan awalnya: Kenapa banyak laki-laki inkompeten yang jadi pemimpin?
Jawabannya gini... Karena kita sebenarnya tidak terlalu baik dalam mendeteksi inkompetensi. Kita justru tergoda oleh sifat-sifat yang membuat para pemimpin menjadi semakin tidak kompeten. Kita cenderung terbuai
- kepercayaan diri (confidence) alih-alih kompetensi
- karisma alih-alih kerendahan hati (humility), dan
- narsisme alih-alih integritas.
Jadi, sifat-sifat yang memikat kita pada sosok pemimpin adalah sifat yang sama yang membuat banyak laki-laki (inkompeten) dipromosikan ke peran kepemimpinan, yang pada akhirnya berkontribusi pada buruknya rata-rata kinerja mereka.
Nah, pertanyaan berikutnya: Bagaimana cara kita mendapatkan pemimpin yang lebih baik?
Jawabannya... Jika ingin meningkatkan kualitas para pemimpin, kita perlu mulai dengan tidak memercayai naluri kita. Sebagian besar dari kita menyukai intuisi masing-masing, tetapi sebenarnya kita tidak se-intuitif yang kita bayangkan.
Beberapa orang memiliki intuisi yang tajam karena mereka mengasah intuisinya berbasis data melalui pengalaman. Namun, sebagian besar dari kita hanya mengandalkan insting saat melihat seseorang dan berkata, "Oke, dia pemimpin hebat, karismatik, narsis." Nah, anggapan itu adalah resep menuju bencana.
Ada tiga poin penting yang disoroti oleh sang penulis buku sebagai solusi atas isu ini, yaitu
1. Mulai dengan melihat data, metrik kinerja, dan gunakan asesmen berbasis sains.
2. Fokus pada sifat/karakter yang tepat. Jika kita sangat ahli dalam menilai sifat yang salah/keliru, kita tetunya tidak akan melangkah jauh.
3. Jika kita ingin membantu perempuan yang kompeten menjadi pemimpin, mulailah dengan memersulit laki-laki yang tidak kompeten untuk menjadi pemimpin. Hal ini juga akan membantu banyak pria kompeten, yang saat ini terabaikan dari posisi kepemimpinan, hanya karena mereka tidak memiliki sifat-sifat yang sebenarnya membuat seseorang menjadi pemimpin yang tidak efektif.
Sumber: Akun YouTube DAWN - Realize the Future of Business
Bisa jadi Belanda bertahan lama di Indonesia, karena dulu mayoritas pribumi gak merasa terjajah.
Baru munculah beberapa orang yang menyadarkan masyarakat bahwa kita sedang terjajah, melalui radio dan koran.
Bahkan ada yang menolak untuk merdeka, sambil nyinyir: ngapain sih berjuang, mending kerja, berangkat ke kebunnya meener, panen tebu, dapat duit. Hidup yang sewajarnya, gak usah aneh-aneh.
Sekarang kita begitu juga gak sih?
Dulu pejabat-pejabat daerah juga sering menggadaikan masyarakatnya sendiri supaya bisa hidup tenang dan terjamin di belakang meener-meneer Belanda.
Mereka makan korupsi dan upeti dari penjajah.
klarifikasi dandim soal lokasi kopdes yang berhadapan:
- walau berhadapan, itu milik dua desa
- satu milik desa sindukarto satunya desa sumberharjo
- dandim bilang lokasinya strategis
- di jalan utama, tengah perkampungan masing-masing
- lokasi ditentuin pihak desa, bukan kodim
- dua-duanya selesai februari 2026,
- ukuran sama 20x30 meter,
- target pendapatan 2,5 juta/hari
- dandim bilang enggak ada persaingan karena tiap desa punya umkm sendiri
- jadi enggak rebutan pendapatan
🚨 Astagfirullah..
Ini kerjaan Menteri PU (Dody Hanggodo) gabut apa gmn? Cuti staff aja dia yang ngurusin
GONG nya lg! ada yg mau cuti sakit, baru di approve bulan ini. Padahal orangnya udh MENINGGAL WOI 💔😭
Cuti itu hak tiap karyawan! hal basic kayak gini aja kok ngerti ya?
Amri, 50 tahun.
Sopir truk.
Meninggal di kursi kemudinya saat antre solar di SPBU Banyuasin, 29 Juni 2026.
Bukan kecelakaan.
Bukan sakit mendadak.
Dia kelelahan menunggu berjam-jam.
Di sekitar jenazahnya: hanya beberapa botol minuman ringan , yang dia minum untuk menahan ngantuk sambil nunggu giliran.
Dan ini bukan kasus pertama.
Dalam 3 bulan terakhir, 3 sopir truk tewas di antrean solar di Sumsel.
Dua dikeroyok karena berebut giliran.
Satu mati kelelahan.
Sementara itu:
a. Organda sudah lapor: kuota dipangkas, barcode diblokir sepihak
b. Pertamina bilang: "kami salurkan sesuai kuota"
c. Pemerintah bilang: "stok dijamin"
d. Amri tidak sempat dengar jaminan itu
Negara ini kaya minyak.
Tapi sopir truknya mati demi setetes solar bersubsidi.
Siapa yang bertanggung jawab?
😡
GILAAA ternyata biaya pelatihan manajer kopdes ini perorang: 45juta rupiah!!
30juta latihan militer.
15 juta untuk substansi koperasi.
Untuk 30,000 orang jadi 1.35 T!
Dana segini bisa menggratiskan UKT berapa puluh ribu mahasiswa se Indonesia.😢😢😢
Pemerintah sadar nggak sih kalau keadaan di masyarakat sekarang udah se-chaos ini? Kita yang di lapangan malah jadi sasaran semprot, penolakan, dibentak, dikejar anjing, sampai dihujat.
Padahal kita sama-sama cuma cari rezeki yang halal. Sampai aku nangis 🥹😢 Orang tuaku sendiri aja nggak pernah segalak itu ke anaknya, tapi ini rasanya kejam banget. Miris ya, masyarakat malah saling diadu domba.
Ternyata jadi volunteer bukan cuma butuh memenuhi syarat administrasi, tapi juga harus punya mental yang kuat 😮💨🥲. Semoga nggak salah kalau aku berdoa di tengah rasa terzalimi ini.
Ya Muqollibal Quluub, Tsabbit Qolbii 'Ala Diinik. 🤍
Raut wajah Pak Wapres tampak kecewa dan sedih, ternyata petani kita tak setangguh sprti dugaan bliyow slama ini
Mosok mikul Combain Harvester saja nggak kuat...sungguh terlaler
beredar surat tentang kegilaan cara kerja kopdes :
- Barang datang , dikordinasikan Babinsa, bukan pengurus Kopdes
- Barang dijual, oleh pegawai Agrinas yang ditempatkan di gerai
- Uang hasil jual, diambil PIC Agrinas setiap 2 hari, bukan ke pengurus
- UMKM lokal jualan, tapi bayarannya nunggu Agrinas, kapan tidak jelas dan tidak di kasih sampe hari ini
- Pengurus Kopdes, tidak dilibatkan sama sekali dalam rantai manapun
- Yang punya kontrol, Agrinas + Babinsa/Kodim
- Kopdes bukan milik desa nama desa dipinjam,
- tapi kendali penuh ada di Agrinas & militer.
- Pengurus hanya jadi pajangan